KUNINGAN – Target Rp1 miliar PAD setahun dari PDAU terdengar ambisius. Tapi mari kita hitung pelan-pelan.
Rp1 miliar per tahun berarti kurang dari Rp100 juta per bulan. Dibagi ke enam obyek wisata, setoran per obyek bahkan tak sampai Rp20 juta per bulan.
Dengan aset seperti Talaga Remis, Talaga Nilem, Cipaniis, Buper Balong Dalem, Leuweung Monyet Cibeureum, dan Balong Girang Cigugur, masa iya angka segitu terasa mustahil?
Secara satir kita bisa bilang: kalau cuma Rp20 juta per bulan per obyek, itu setara beberapa ribu tiket masuk dan sedikit parkir di akhir pekan.
Bukan sesuatu yang mustahil. Bahkan desa-desa kini banyak yang sudah mampu mengelola wisata berbasis BUMDes dengan pendapatan ratusan juta per tahun.
Masa perusahaan daerah kalah gesit dari desa?
Justru karena targetnya “kecil”, publik boleh optimistis. Artinya, ruang lompatan masih sangat lebar. Rp1 miliar seharusnya bukan puncak gunung, melainkan batu loncatan.
Apalagi Perumda Aneka Usaha bukan hanya mengelola wisata. Namanya saja “Aneka Usaha”. Artinya ada peluang bisnis lain, pengelolaan aset, kerja sama investasi, unit perdagangan, kemitraan swasta, sampai pengembangan event.
Kalau hanya mengandalkan tiket masuk dan parkir, ya tentu napasnya pendek. Yang dibutuhkan bukan sekadar target angka, tapi inovasi.
Bukan sekadar bertahan, tapi berani bereksperimen.
Bukan sekadar mengelola, tapi mengembangkan.
Secara jujur dan sedikit satir: itu angka yang seharusnya bisa dikejar tanpa perlu jungkir balik.
Artinya apa?
Artinya problemnya bukan pada besar kecilnya target. Tapi pada cara mengelola.
Di titik ini, peran Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kuningan tak bisa dikesampingkan. Dinas yang mengurus sektor wisata seharusnya fokus penuh mendukung obyek-obyek PDAU.
Faktanya, obyek wisata PDAU-lah yang sedang didorong untuk menyumbang PAD. Maka logis jika promosi, event, branding, hingga pengembangan paket wisata diarahkan serius ke sana.
Jangan sampai dinas berjalan sendiri, PDAU berjalan sendiri. Pariwisata itu ekosistem, bukan kerja sektoral.
Mojang Jajaka juga perlu dimaksimalkan. Jangan hanya jadi event tahunan, mengumpulkan anak-anak hebat, lalu selesai di panggung malam final.
Kalau mereka memang duta wisata, beri ruang promosi nyata.
Libatkan dalam kampanye digital. Bimbing, arahkan, beri target kunjungan. Anak-anak muda ini punya energi dan jaringan media sosial. Tinggal mau dipakai sungguh-sungguh atau tidak.
Dan ini bagian paling satir sekaligus paling optimistis.
Kalau memang PDAU tidak mampu mengelola secara maksimal, jangan gengsi.
Serahkan pengelolaan kepada desa tempat obyek wisata itu berada. Desa-desa sekarang bukan desa yang dulu. Banyak BUMDes sukses, banyak wisata desa berkembang pesat, bahkan lebih profesional dari perusahaan daerah.
Kalau desa mampu, jangan malu. Itulah pemberdayaan. Itulah otonomi yang hidup.
Itulah keberanian mengakui bahwa yang penting bukan siapa yang mengelola, tapi siapa yang paling mampu mengembangkan.
Rp1 miliar itu kecil, yang besar itu komitmen, kolaborasi, dan keberanian berubah.
Kalau PDAU berinovasi, Disporapar fokus mendukung, Mojang Jajaka digerakkan serius, dan desa diberi ruang berdaya, maka kita tidak lagi bicara angka Rp1 miliar. Kita bicara kebangkitan wisata Kuningan yang sesungguhnya.
Opini by Mang Duta
Leave a comment