Home Cerpen Pendampingan Tanpa Penanaman

Pendampingan Tanpa Penanaman

Share
Share

Duamata.id – Di Desa Tunas Mekar yang lebih sering mekar di laporan daripada di tanah, kabar pembinaan wilayah datang seperti hujan di musim kemarau, ditunggu-tunggu oleh yang bikin laporan, ditakuti oleh yang harus menyiapkan.

Surat dari kecamatan turun dengan bahasa yang rapi dan maksud yang sederhana.

Desa diminta menampilkan keberhasilan program pemanfaatan pekarangan dan tanaman obat keluarga.

Kata “menampilkan” dibaca dengan sangat serius.
Kata “memanfaatkan” dibaca sambil lalu.

UPTD pertanian datang lebih dulu. Bukan membawa bibit, tapi membawa konsep.

“Begini, Pak Kades,” kata petugas sambil membuka map.

“Kita tidak perlu mulai dari nol. Kita percepat saja.”

“Percepat bagaimana, Pak?” tanya kepala desa hati-hati.

Petugas itu tersenyum, senyum orang yang sudah sering menang tanpa harus menanam.

“Kita kumpulkan saja yang sudah ada.”

“Yang sudah ada di mana?”

“Di mana saja. Yang penting nanti ada di sini.”

Kecamatan mengangguk setuju.
Mereka tidak butuh proses. Mereka butuh panorama.

Maka dimulailah operasi yang lebih rapi dari programnya sendiri: Penghijauan Berbasis Mobilisasi.
Mobil bak terbuka bergerak seperti iring-iringan logistik perang.

Polybag-polybag diangkut dari berbagai titik:
dari kebun warga yang benar-benar merawat,
dari halaman kantor yang selama ini jadi pajangan, bahkan dari desa tetangga yang belum sempat menolak.

Semua disatukan di satu lokasi yang dipilih bukan karena subur, tapi karena strategis untuk difoto.

Desa Tunas Mekar pun mendadak hijau.
Bukan karena tanahnya berubah, tapi karena isinya dipindahkan.

Kepala desa berdiri melihat halaman yang baru semalam masih kosong.

Sekarang penuh cabai merah, tomat segar, dan tanaman obat yang tampak sangat “terbina”.

“Pak… ini nanti gimana?” bisiknya ke petugas UPTD.

“Tenang saja, Pak. Ini namanya pembinaan,” jawabnya santai.

“Yang penting nanti terlihat berhasil.”

“Kalau warga nanya?”

“Bilang saja ini hasil kerja bersama.”

Kerja bersama yang lebih banyak dikerjakan oleh mobil daripada manusia.

Sementara itu, ibu-ibu PKK desa dikumpulkan untuk briefing kilat.

“Nanti kalau ditanya, jawab saja ini sudah berjalan rutin,” kata staf kecamatan.

“Sejak kapan, Pak?” tanya seorang ibu.

“Sejak program ini dicanangkan.”

“Kapan itu?”

“Tidak perlu terlalu detail, Bu. Yang penting yakin.”

Keyakinan memang lebih mudah ditanam daripada tanaman.

Malam sebelum kunjungan, halaman itu berubah jadi panggung utama.

Polybag disusun seperti pasukan upacara.
Yang segar di depan, yang biasa di tengah, yang hampir menyerah disembunyikan di belakang.

Ada yang terlalu kecil? Tukar.
Ada yang kurang menarik? Ganti.
Ada yang terlalu jujur terlihat baru? Pindahkan.

Karena di sini, yang penting bukan pertumbuhan,
tapi penampilan.

Keesokan harinya, rombongan pembina datang.
Sepatu bersih menginjak tanah yang semalam belum siap.

Kamera menyala. Senyum mengembang.
“Luar biasa,” kata salah satu pejabat kecamatan, yang kemarin juga ikut menyusun polybag

“Ini contoh nyata keberhasilan pembinaan.”

UPTD mengangguk penuh rasa memiliki.

Seolah-olah akar tanaman itu juga ikut mereka tanam.
Seorang pembina PKK berhenti di depan deretan tanaman obat.

“Ini siapa yang mengelola?”

Ketua PKK desa menjawab, dengan suara yang sudah dilatih semalam,

“Ini hasil pendampingan dari UPTD dan kecamatan, Bu.”

Pendampingan, kata halus untuk pemindahan massal.

“Sudah berapa kali panen?”

“Sudah beberapa kali, Bu.”

Tanaman-tanaman itu diam. Mereka baru panen pengalaman pindah tempat.

Kunjungan selesai dengan sukses besar.
Foto diambil dari sudut terbaik.
Laporan nanti akan ditulis dari imajinasi yang sama rapi.

Sore harinya, operasi kedua dimulai: Penghijauan Balik Arah. Polybag-polybag kembali diangkut.

Satu per satu “bukti keberhasilan” meninggalkan lokasi.
Desa Tunas Mekar perlahan kembali ke warna aslinya.

Kepala desa hanya bisa melihat, seperti tuan rumah yang rumahnya dipinjam untuk pesta orang lain.

“Pak, ini nanti programnya dilanjutkan?” tanya seorang perangkat desa.

Ia menoleh ke arah mobil terakhir yang pergi.
“Dilanjutkan… kalau ada kunjungan lagi.”

Di kantor kecamatan, evaluasi berjalan lancar.
“Alhamdulillah, pembinaan sukses. Desa terlihat berkembang pesat,” kata seorang pejabat.
UPTD menambahkan,
“Ini bukti bahwa pendekatan kita efektif.”

Efektif dalam memindahkan, bukan menumbuhkan.
Dan di laporan tahunan, Desa Tunas Mekar tercatat sebagai Desa dengan keberhasilan tinggi dalam pemanfaatan pekarangan dan tanaman obat.

Sementara di lapangan, satu-satunya yang benar-benar tumbuh hanyalah kesadaran diam-diam, bahwa di antara semua program, yang paling subur adalah pencitraan.

Dan di antara semua tanaman,
yang paling sering dipanen adalah polybag dipanen dari satu tempat, ditanam di tempat lain, dan dipetik hasilnya… di atas kertas.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Pemerintah Kejar Target SLHS SPPG Tuntas Agustus 2026

JAKARTA - Progres pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk Satuan Pelayanan...

Tak Mau Sekadar Program, Bupati Dian Dorong ‘Bersepeda’ Jadi Kebiasaan

KUNINGAN — Jangan salah paham. “Bersepeda” yang digaungkan Bupati Kuningan bukan soal...

Ratusan Miliar Digelontorkan! Pemprov Jabar Bangun Puluhan Sekolah Baru

BOGOR — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali bikin gebrakan. Kali ini,...

HUT ke-80 Persit di Kuningan Diwarnai Aksi Tanam Pohon untuk Selamatkan Lingkungan

KUNINGAN — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persit Kartika Chandra Kirana...