Duamata.id – Warung kopi Ujung Meja pagi itu lebih ramai dari biasanya. Bukan karena kopinya tambah gula, tapi karena kabar dari gedung-gedung ber-AC lagi gonjang-ganjing.
Pak Ujang, pensiunan guru yang selalu datang paling pagi, mengaduk kopinya pelan.
“Kalian baca berita kemarin?” katanya membuka obrolan.
Pak Darto, tukang ojek yang helmnya selalu ditaruh di kursi kosong, mengangguk.
“Baca. Wartawan nanya ke legislatif, disuruh nanya ke eksekutif.”
Pak Ujang nyeruput kopi.
“Terus wartawannya ke eksekutif.”
“Jawabannya?” timpal Mang Asep, pemilik warung.
Pak Darto tersenyum kecut.
“No comment.”
Sendok kopi berhenti bergerak.
“Lah,” kata Mang Asep, “jadi wartawan itu di pingpong ya? Dipukul ke sana, dibalik ke sini, bolanya hilang.”
“Berarti,” kata Darto sambil menghitung gula, “DPRD itu apa? Wakil rakyat atau wakil Google Maps? Cuma nunjuk arah.”
Mang Asep nyeletuk,
“Kalau tugasnya cuma nyuruh nanya ke orang lain, tukang parkir juga bisa.”
Tatang ikut nimbrung, suaranya dingin.
“Katanya fungsi DPRD itu tiga: legislasi, anggaran, pengawasan.”
Pak Ujang mengangguk.
“Sekarang nambah satu: fungsi lempar pertanyaan.”
Semua tertawa. Lalu diam.
Darto menyeruput kopi.
“Heran. Waktu kampanye, mereka jago nanya: ‘apa keluhan rakyat?’ Sekarang ditanya wartawan, malah suruh nanya ke yang lain.”
“Kalau DPRD tidak berani bertanya ke eksekutif, terus siapa yang bertanya atas nama kita?”
Tatang menjawab pelan,
“Rakyat. Tapi sayangnya, rakyat nggak punya ruang sidang, cuma punya warung kopi.”
Pak Darto berdiri.
“Kalau begini terus, jangan heran kalau rakyat makin pintar bertanya, tapi makin jarang percaya jawaban.”
Pak Ujang tertawa kecil.
“Yang lucu, katanya legislatif itu wakil rakyat. Tapi giliran ditanya, malah bilang, ‘tanya saja ke pemerintah’.”
Pak Darto menggaruk kepala.
“Kalau gitu, wakil siapa dong? Wakil papan nama?”
Dari meja pojok, Tatang, buruh bangunan yang baru selesai narik gerobak, ikut nimbrung.
“Katanya tugas legislatif itu ngawas dan nanya, kan?”
“Iya,” jawab Pak Ujang. “Tapi kayaknya sekarang tugas nanyanya sudah di-outsourcing.”
Mang Asep menaruh gelas.
“Kalau eksekutif bilang no comment, legislatif bilang ‘bukan urusan saya’, terus rakyat nanya ke siapa?”
Sunyi sebentar. Hanya suara air mendidih.
Pak Darto akhirnya bicara pelan,
“Mungkin ke warung kopi. Soalnya di sini, paling enggak, kalau ditanya masih dijawab.”
Semua tertawa. Tapi tawanya pendek.
Pak Ujang menutup obrolan,
“Repot ya. Yang dipilih buat nanya malah diam. Yang ditanya memilih diam. Informasi berdiri di tengah, bingung mau pulang ke siapa.”
Mang Asep mengelap meja.
“Kopi pahit masih bisa ditambah gula. Tapi jawaban pahit begini, mau ditambah apa?”
Tak ada yang menjawab.
Karena pertanyaan itu…
belum ada yang mau mewakili.
Cerpen by Mang Duta
Leave a comment