Home Cerpen Kopi Pahit, Suara Separuh

Kopi Pahit, Suara Separuh

Share
Share

Duamata.id – Warung kopi Mang Ujang pagi itu ramai. Bukan karena kopinya lebih enak dari biasanya, tapi karena berita dari “Rumah Rakyat” lagi panas-panasnya.

Di pojok warung, dua pelanggan setia duduk berhadapan. Asep, seorang pegawai yang hafal semua isu tapi tetap tak punya kuasa.

Di depannya, Dudung, temannya yang lebih banyak tertawa daripada percaya.

“Sep, baca berita kemarin?” tanya Dudung sambil meniup kopi hitamnya.

Asep mengangguk, serius.

“Yang soal dewan itu? Yang bahas LHP BPK?”

“Iya. Wah, mantap itu. Vokal banget ke eksekutif. Angka disebut satu-satu. Rapatnya berderet. Kayak sidang skripsi.”

Asep nyengir.

“Empat ratus halaman katanya. Dibedah. Diurai. Disorot.”

“Rp3,2 miliar lagi,” tambah Dudung. “Langsung disebut. Tegas.”

Mereka diam sebentar. Suara sendok beradu dengan gelas jadi latar

Lalu Dudung mendekatkan badan, suaranya diturunkan.

“Tapi Sep… yang lagi rame soal anggota dewan sendiri itu gimana?”

Asep menyeruput kopinya pelan.
“Yang isu itu?”

“Iya. Yang katanya ada yang selingkuh, ada yang KDRT…”

Asep mengangkat bahu.
“Katanya sih… belum ada laporan.”

Dudung langsung tertawa.
“Ah, itu kalimat paling aman sedunia. ‘Belum ada laporan’.”

“Kalau soal eksekutif, selalu gercep” sahut Asep cepat.

Dudung mengangguk, puas.
“Nah itu dia. Kalau ke luar, suaranya kayak toa masjid. Kenceng, jelas, bahkan kadang menggema.”

Asep menyambung,
“Kalau ke dalam, kayak mode silent.”

“Bukan silent lagi,” kata Dudung. “Mode pesawat. Semua sinyal diputus.”

Mereka tertawa kecil. Mang Ujang yang lewat hanya ikut senyum tanpa bertanya.

Asep kembali bicara, kali ini lebih pelan.
“Lucunya lagi, yang bahas etika itu kan ada Badan Kehormatan.”

“Iya, harusnya paling depan tuh.”

“Tapi jawabannya sama… belum ada pengaduan.”

Dudung menggeleng.
“Jadi moral itu nunggu dilaporin dulu baru dianggap ada?”

“Kayaknya begitu. Kalau gak ada yang ngadu, berarti semua baik-baik saja.”
“Wah, enak banget hidup kayak gitu,” celetuk Dudung.

Mereka kembali diam. Kali ini lebih lama.

Dari berita di media online terlihat samar. Tentang tunjangan dewan. Tentang pencairannya yang dipernasalahkan. Tentang angka yang lagi-lagi besar.

Dudung melirik.
“Sep, itu tunjangan gede ya?”

Asep mengangguk.
“Lumayan. Cukup buat beli empati, harusnya.”

“Harusnya,” ulang Dudung. “Tapi kayaknya empati lagi langka sekarang.”

Asep tersenyum tipis.
“Empati gak masuk anggaran, Kang.”

Dudung tertawa keras. Beberapa orang menoleh.
“Jadi begini ya,” lanjut Dudung sambil menepuk meja pelan, “kalau soal rakyat, dewan itu galak. Tegas. Berani, gpp bagus itu”

Asep mengangguk.

“Tapi kalau soal diri sendiri…”

Asep menimpali,
“Jadi bijak.”

“Bijak atau takut?” tanya Dudung.

Asep tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap sisa kopi di gelasnya.

“Entahlah,” katanya akhirnya. “Yang jelas… suaranya jadi setengah.”

Dudung mengangkat gelasnya.
“Untuk suara yang setengah,” katanya.

Asep ikut mengangkat gelas.
“Dan kopi yang tetap pahit,” tambahnya.

Mereka meneguk bersamaan.

Di luar, matahari mulai naik. Di dalam gedung dewan, mungkin rapat sedang dimulai.

Tentang transparansi.
Tentang akuntabilitas.
Dan entah kapan… tentang keberanian melihat ke cermin sendiri.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bunda Literasi Kuningan Ajak Generasi Muda Bijak Bermedia Sosial dan Tangkal Radikalisme Digital

KUNINGAN – Bunda Literasi Kabupaten Kuningan, Hj. Ela Hayati, S.Sos, mengajak generasi...

GEMAR Kuningan Perkuat Literasi Digital Generasi Muda untuk Tangkal Radikalisme di Era Media Sosial

KUNINGAN – Di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin sulit dibendung,...

Jangan Batasi Cita-Cita Anak karena Keterbatasan Ekonomi, Pesan Menyentuh Ketua LKKS Kuningan

KUNINGAN – Ketua LKKS Kabupaten Kuningan, Hj. Ela Helayati, S.Sos, mengajak para...

Untung Rupiah yang Dibahas, Bukan Rupiah Kami

Duamata.id - Seorang wakil rakyat berdiri gagah di halaman gedung. Di hadapannya,...