Home Cerpen Untung Rupiah yang Dibahas, Bukan Rupiah Kami

Untung Rupiah yang Dibahas, Bukan Rupiah Kami

Share
Share

Duamata.id – Seorang wakil rakyat berdiri gagah di halaman gedung. Di hadapannya, mahasiswa berteriak lantang membawa berbagai tuntutan.

Tentang program makan bergizi.

Tentang koperasi desa.

Tentang harga Pertamax.

Tentang nilai tukar rupiah.

Tentang berbagai kebijakan yang alamat suratnya sebenarnya jauh di ibu kota.

Dengan wajah penuh empati, ia mengangguk-angguk. Sesekali mengepalkan tangan, sesekali menepuk dada, seolah sedang memikul beban republik seorang diri.

Dalam hati kecilnya, ia sebenarnya sedang tersenyum lega.

“Syukurlah…”

“Hari ini yang dibahas Pertamax, bukan tunjangan.”

Mahasiswa terus berorasi.

“Syukurlah yang dibahas nilai tukar rupiah, bukan nilai tukar janji politik saat pemilu.”

Orasi semakin keras.

“Syukurlah yang dibahas program pusat, bukan fungsi pengawasan kami yang kadang lebih sering muncul di laporan daripada di lapangan.”

Lalu tibalah momen yang paling ia sukai.

Dengan suara mantap dan penuh wibawa, ia berkata:

“Ini adalah gerakan murni aspirasi masyarakat.”

Mahasiswa bertepuk tangan.

Ia semakin bersemangat.

Karena kalimat itu adalah jawaban paling aman di dunia politik.

Tidak perlu membantah.

Tidak perlu berdebat.

Tidak perlu menjelaskan.

Cukup katakan bahwa ini murni aspirasi rakyat.

Lalu tutup dengan kalimat sakti:

“Kami siap menyampaikan aspirasi ini ke pemerintah pusat.”

Selesai.

Tepuk tangan.

Foto bersama.

Berita terbit.

Semua tampak berjalan sempurna.

Sebab menyampaikan aspirasi ke pusat jauh lebih mudah daripada menjawab pertanyaan tentang apa yang sudah diperjuangkan di daerah.

Mengirim surat jauh lebih ringan daripada mengirim hasil kerja.

Dan menjadi jembatan aspirasi terkadang terasa lebih nyaman daripada menjadi pengawas yang harus mempertanggungjawabkan pengawasannya.

Menjelang aksi bubar, sang wakil rakyat merasa seperti pahlawan.

Padahal tuntutan tidak ditujukan kepadanya.

Kewenangan tidak berada di tangannya.

Risiko politiknya pun nyaris tidak ada.

Ia hanya perlu menerima berkas, mengangguk dengan penuh perhatian, lalu mengucapkan mantra demokrasi yang diwariskan dari generasi ke generasi:

“Kami menerima seluruh aspirasi ini dan akan menyampaikannya ke pusat.”

Dalam hati, ia kembali bersyukur.

“Untung mahasiswa hari ini sedang melihat jauh ke Jakarta.”

Sebab bila pandangan mereka berhenti sejenak di gedung tempat ia berdiri, mungkin daftar tuntutannya akan menjadi jauh lebih panjang. Dan untuk yang satu itu, belum tentu cukup dijawab dengan kalimat:

“Siap kami sampaikan.”

Hanya Cerpen oleh Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Sekda Kuningan Ajak Masyarakat Perkuat Semangat Hijrah dan Kepedulian Sosial

KUNINGAN – Momentum pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dimaknai...

Eceng Gondok, Gulma yang Paling Adil Membagikan Citra

Duamata.id - Nama saya Eceng. Lengkapnya Eceng Gondok. Penduduk lama Waduk Darma....

Peduli Lingkungan, KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning Kerahkan 50 Anggota Bersihkan Eceng Gondok di Waduk Darma

KUNINGAN – Gelombang kepedulian terhadap penyelamatan Waduk Darma terus mengalir. Setelah Pemerintah...

Dian Turun ke Waduk, Pimpin Langsung Perang Melawan Eceng Gondok demi Selamatkan Waduk Darma

KUNINGAN – Pemandangan tak biasa terlihat di Waduk Darma, Sabtu (13/6/2026). Di...