Home Kuningan Di Balik ‘Jejak Hati’, Ada Perempuan yang Selalu Menguatkan

Di Balik ‘Jejak Hati’, Ada Perempuan yang Selalu Menguatkan

Share
Share

KUNINGAN — Peringatan Hari Kartini ke-147 di Kabupaten Kuningan menyimpan satu momen yang tak hanya resmi, tetapi juga sangat personal.

Di tengah gemuruh semangat pemberdayaan perempuan, perhatian justru tertuju pada sosok yang selama ini lebih sering berdiri di belakang layar, Bunda Ela Helayati.

Saat Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyerahkan buku “Jejak Hati” kepadanya, suasana seketika berubah.

Bagi banyak orang, itu mungkin sekadar simbol. Namun bagi Bunda Ela, itu adalah potongan perjalanan panjang yang ia jalani bersama, dalam diam, dalam sabar, dan dalam doa.

Di matanya, buku itu bukan hanya kumpulan tulisan. Ia adalah cermin dari perjalanan seorang pemimpin yang ia lihat dari jarak paling dekat, dengan segala tekanan, keputusan sulit, dan tanggung jawab yang tak pernah ringan.

“Saya tahu, perjalanan ini tidak mudah,” ungkapnya lirih usai acara.

Bunda Ela menyadari, di balik setiap kebijakan yang diambil, ada malam-malam panjang yang dilalui dengan penuh pertimbangan.

Ada kegelisahan yang tak selalu terlihat publik. Ada beban yang seringkali harus dipikul sendiri.

Namun ia memilih tetap berada di sisi itu, menjadi tempat pulang, menjadi penenang, menjadi penguat.

Momentum Hari Kartini kali ini terasa berbeda baginya. Bukan hanya tentang perempuan yang tampil di depan, tetapi juga tentang perempuan yang menguatkan dari belakang.

“Kartini masa kini bukan hanya yang terlihat hebat di luar. Tapi juga yang setia menjaga rumah, mendukung, dan tetap berdiri kuat dalam diam,” ujarnya.

Buku “Jejak Hati” yang ia terima hari itu seperti menjawab banyak hal. Terutama saat bagian epilog dibacakan tentang perjalanan yang belum selesai, tentang kelelahan yang tak selalu diucapkan, dan tentang keinginan sederhana untuk terus mencoba

Di titik itu, Bunda Ela tak hanya melihat seorang bupati. Ia melihat sosok yang ia kenal sebagai suami yang terus belajar, terus bertahan, dan terus berusaha menjadi lebih baik.

Baginya, penyerahan buku itu bukan sekadar seremoni. Itu adalah pengakuan bahwa setiap langkah yang diambil tidak pernah benar-benar sendiri.

“Kami menjalani ini bersama,” katanya.

Peringatan Hari Kartini di Kuningan pun akhirnya menghadirkan makna yang lebih dalam. Bahwa di balik perempuan yang berdaya, ada kisah tentang ketulusan, kesabaran, dan kekuatan yang seringkali tidak terlihat.

Dan di balik seorang pemimpin, selalu ada perempuan yang memilih untuk tetap berdiri meski tak selalu disorot, namun tak pernah berhenti menguatkan. (Bengpri).

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bukan Sekadar Buku, ‘Jejak Hati’ Jadi Simbol Perjalanan Dian dan Dukungan Sang Istri

KUNINGAN — Ada yang berbeda dalam peringatan Hari Kartini ke-147 di Kabupaten...

Bupati Dian Tekankan Peran Strategis Perempuan dalam Pembangunan Daerah

KUNINGAN — Peringatan Hari Kartini ke-147 di Kabupaten Kuningan bukan sekadar seremoni...

Sosok ‘Indung Kuring’ yang Diam-Diam Menginspirasi

KUNINGAN – Momentum Hari Kartini tahun ini menghadirkan sosok yang tak biasa...

Tertinggal Lalu Bangkit! Warga Nanggela Histeris Nobar Persib Bandung Pakai Layar Bambu

KUNINGAN — Siapa bilang keseruan nonton bola hanya milik stadion megah? Di...