KUNINGAN — Siapa bilang keseruan nonton bola hanya milik stadion megah? Di Desa Nanggela, Kecamatan Mandirancan, euforia pertandingan Persib Bandung vs Dewa United justru terasa lebih hidup, langsung dari halaman balai desa, dengan layar tancap sederhana yang ditopang bambu.
Malam itu, ratusan warga tumplek blek. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua larut dalam satu emosi: tegang, teriak, lalu meledak dalam sorak.
Layar putih yang ditancapkan di bambu bergoyang pelan diterpa angin, tapi semangat warga justru bergelora tanpa henti.
Saat Persib tertinggal 0-2, suasana sempat hening. Wajah-wajah tegang terlihat di antara kerumunan.
Namun semuanya berubah drastis ketika penalti untuk Persib terjadi, teriakan menggema, tangan mengepal, doa-doa spontan terucap.
“GOOOLLL!”
Sorak warga pecah saat bola bersarang ke gawang. Dari situ, harapan kembali menyala.
Pertandingan Persib Bandung vs Dewa United berakhir imbang 2-2. Dewa United sempat unggul 2-0 lebih dulu
Persib bangkit di babak kedua, hasil dari gol penalti Thom Haye dan sundulan Andrew Jung.
Penalti menjadi momen penting awal comeback Persib. Laga diwarnai kartu merah dan beberapa kontroversi. Hasil ini membuat persaingan papan atas liga semakin ketat
Kepala Dusun Pahing, Darmawan, mengungkapkan bahwa kegiatan nobar ini memang sengaja digelar sebagai hiburan warga.
“Ini murni untuk kebersamaan dan hiburan. Di Desa Nanggela ini, penggemar Persib sangat banyak. Jadi momen seperti ini sayang kalau tidak dinikmati bareng-bareng,” ujarnya.
Menurutnya, kesederhanaan bukan halangan untuk menghadirkan kebahagiaan. Justru dengan layar tancap seadanya dan tiang bambu, nuansa kebersamaan terasa lebih hangat dan penuh makna.
Nobar ini bukan sekadar menonton bola. Ini adalah tentang kebersamaan, tentang desa yang bersatu dalam satu sorakan, dan tentang bagaimana sepak bola mampu menghidupkan malam dengan cara yang sederhana namun tak terlupakan. (Bengpri)
Leave a comment