KUNINGAN – Saat senja perlahan menyerahkan langit Cigugur kepada malam, satu per satu cahaya kecil mulai menyala di kawasan Paseban Tri Panca Tunggal. Nyala pelita itu bukan sekadar penerang gelap.
Ia adalah simbol ingatan, harapan, sekaligus penegasan bahwa warisan leluhur masih hidup di tengah derasnya arus zaman.
Rabu malam (3/6/2026), ritual Damar Sewu resmi membuka rangkaian Upacara Adat Seren Taun Rayagung 1959 Saka atau Seren Taun 2026.
Di hadapan masyarakat adat, tokoh budaya, tokoh agama, unsur Forkopimda, serta tamu dari berbagai daerah, seribu pelita menyala serempak, menghadirkan suasana sakral yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Malam itu, Cigugur tidak hanya menyalakan lampu-lampu tradisi. Cigugur sedang menyalakan kembali kesadaran tentang pentingnya merawat akar peradaban.
Pembukaan Damar Sewu dilakukan langsung oleh Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Menurutnya, makna cahaya dalam ritual tersebut jauh melampaui fungsi penerangan.
“Melalui ritual Damar Sewu, kita tidak hanya menerangi kegelapan malam. Lebih dari itu, kita sedang menegaskan pesan simbolik yang sangat kuat bahwa cahaya kearifan lokal harus tetap menyala,” ujarnya.
Tahun ini Seren Taun mengusung tema “Merawat Prasasti Peradaban Budaya untuk Masa Depan Bangsa.” Sebuah tema yang mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi masa depan.
Di tengah globalisasi yang terus mengikis batas-batas identitas, Seren Taun hadir sebagai ruang refleksi bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan akar budaya. Justru dari budaya itulah sebuah bangsa menemukan jati dirinya.
“Martabat suatu bangsa diukur dari sejauh mana mereka menghargai budayanya sendiri. Kehilangan budaya berarti kehilangan identitas, dan kehilangan identitas berarti runtuhnya sebuah peradaban,” tegas Bupati Dian.
Hadir pula Anggota DPD RI Arya Wedakarna yang mengaku terkesan dengan konsistensi masyarakat adat Cigugur dalam menjaga tradisi lintas generasi.
Sebagai tokoh yang akrab dengan kehidupan budaya Bali, ia menilai Seren Taun memiliki daya tarik dan nilai budaya yang sangat tinggi.
“Saya sering menghadiri kegiatan budaya di berbagai daerah. Namun ketika datang ke Cigugur, saya melihat sebuah festival budaya yang luar biasa. Seren Taun adalah kekayaan budaya Nusantara yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ungkapnya.
Apresiasi juga disampaikan terhadap komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam menjaga situs budaya, artefak, pusaka, dan berbagai peninggalan sejarah yang menjadi bagian penting dari identitas Paseban Tri Panca Tunggal.
Selama enam hari ke depan, mulai 3 hingga 8 Juni 2026, masyarakat akan disuguhkan berbagai kegiatan budaya, sosial, edukasi, hingga spiritual.
Camat Cigugur Yono Rohmansyah menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan meliputi Nyandak Pare ti Leuit, Mesek Pare, Siraman Baleg Kembang, Pesta Dadung, Seribu Kentongan, pameran artefak budaya, seminar kebangsaan, pengobatan gratis, harmoni lintas agama, helaran budaya, hingga puncak Seren Taun pada 8 Juni mendatang.
Namun sesungguhnya, Seren Taun tidak hanya tentang agenda dan prosesi. Ia adalah ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan. Tempat di mana tradisi bertemu modernitas, spiritualitas bertemu kebersamaan, dan kearifan leluhur bertemu generasi penerus.
Malam itu, ketika seribu pelita menyala di Cigugur, yang dijaga bukan hanya sebuah ritual adat. Yang dirawat adalah cahaya peradaban, agar tetap hidup, tetap menyala, dan terus menerangi perjalanan bangsa dari generasi ke generasi.


Leave a comment