KUNINGAN – Tidak semua perjuangan terlihat. Namun bagi banyak perempuan, hidup adalah tentang bertahan, beradaptasi, dan terus melangkah bahkan dalam keterbatasan.
Momentum Hari Kartini di Kuningan kali ini diwarnai refleksi yang lebih dalam.
Wakil Bupati Tuti Andriani secara terbuka mengangkat realita yang kerap luput dari perhatian: perjuangan sunyi perempuan di balik kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri talkshow “Saujana Kartini: Merawat Harapan, Mengukir Peran Perempuan Kuningan” di Saung Kopi Hawwu, Selasa (21/4/2026).
Dalam penyampaiannya, Wabup Tuti menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penopang keluarga, tetapi juga kekuatan penting dalam pembangunan daerah.
“Perempuan adalah sosok tangguh. Banyak yang menjalani peran ganda, bahkan dalam kondisi yang tidak mudah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, di lapangan masih banyak perempuan yang harus berjuang sendiri—menjadi tulang punggung keluarga, bahkan setelah kehilangan pasangan hidup.
Realita ini, menurutnya, tidak bisa dianggap biasa.
“Perempuan tidak boleh merasa sendiri. Tugas kita adalah membuka akses, memperkuat dukungan, dan memastikan mereka bisa bangkit,” tegasnya.
Talkshow yang digelar bukan sekadar peringatan simbolik. Sejak awal, suasana dibuat cair dan penuh kejujuran. Berbagai persoalan perempuan di Kuningan mengemuka, beban ganda antara rumah tangga dan pekerjaan, keterbatasan akses ekonomi, hingga fenomena perkawinan usia dini
Topik-topik yang sering dibicarakan pelan, kini justru dibuka terang-terangan.
Ketua Yayasan Hibar Budaya, Kang Tulang, yang membuka kegiatan, menyampaikan refleksi yang sederhana namun dalam.
“Mungkin kita laki-laki terlihat kuat, tapi sejatinya perempuan jauh lebih kuat. Tanpa perempuan, kita tidak akan ada di sini,” ujarnya.
Ia menilai, banyak perempuan memikul beban besar—mengurus keluarga sekaligus mencari nafkah tanpa banyak sorotan.
Dalam diskusi, berbagai perspektif memperkaya pembahasan:
- Hj. Nurhayati menyoroti banyaknya perempuan yang kini menjadi penopang ekonomi keluarga, meski terkendala akses permodalan.
- Listianti Kahfiana menekankan pentingnya literasi usaha dan apresiasi terhadap produk UMKM perempuan.
- Vera Verawati mengingatkan bahwa perempuan harus terus belajar agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dari sisi hukum, juga diangkat kesadaran tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, fisik, psikis, ekonomi, hingga seksual yang masih sering terjadi namun belum sepenuhnya disadari.
Kegiatan ini dihadiri berbagai elemen, mulai dari komunitas perempuan, mahasiswa, pegiat sosial, hingga masyarakat umum. Namun satu benang merah yang terasa kuat, Kartini hari ini bukan hanya sosok sejarah, tetapi hadir dalam kehidupan nyata. (Bengpri).
Leave a comment