Duamata.id – Pagi itu kabut turun pelan di lereng Taman Nasional Gunung Ciremai. Seperti biasa, getah pinus menetes tanpa banyak suara. Yang berisik justru bukan hutan, melainkan manusia.
Di warung kopi dekat jalan setapak, obrolan menghangat.
“Katanya ilegal.”
“Katanya boleh, asal zona tradisional.”
“Katanya tunggu PKS.”
“Katanya nanti ditertibkan.”
Semua serba katanya.
Asep, yang tiga tahun terakhir menyadap dengan rapi sesuai pelatihan, hanya mengaduk kopinya pelan. Ia bukan orang yang pandai debat. Ia hanya ingin kepastian.
“Kalau memang dilarang, ya bilang dilarang,” ujarnya lirih.
“Kalau boleh, ya bilang boleh. Jangan kami dibiarkan saling curiga.”
Di balai desa, suasana lebih tegang. Sebagian warga mulai saling menyalahkan. Ada yang takut nama desanya tercoreng. Ada yang merasa perjuangan mereka dianggap salah.
Yang paling menyakitkan bukan tudingan dari luar, tapi retaknya rasa percaya di dalam.
Selama tiga tahun, aktivitas itu berjalan. Petugas tahu. Warga tahu. Pemerintah desa tahu. Tidak ada razia besar. Tidak ada penyegelan. Tidak ada surat penghentian resmi.
Tapi juga tidak ada pernyataan tegas yang menenangkan.
Diam.
Dan diam, dalam situasi seperti ini, terasa lebih tajam daripada larangan.
Seorang ibu berdiri dalam forum desa. Suaranya gemetar, tapi matanya tegas.
“Kami ini rakyat kecil. Jangan jadikan kami penonton yang bingung. Instansi berwenang harus bersikap. Jangan biarkan kami seperti sedang diadu.”
Ruangan hening.
Yang dibutuhkan warga bukan pembenaran sepihak. Bukan pula pembiaran yang berkepanjangan. Mereka hanya ingin kejelasan.
Jika penyadapan getah pinus memang tidak diperbolehkan, katakan dengan terbuka. Sertakan dasar hukumnya. Jelaskan alasannya. Beri waktu transisi. Carikan solusi.
Jika diperbolehkan dengan syarat kemitraan dan prosedur tertentu, sampaikan secara resmi. Percepat prosesnya. Dampingi. Awasi.
Jangan hanya menonton ketika opini saling berhadapan seperti dua tebing yang siap runtuh.
Karena ketika negara diam terlalu lama, rakyat mulai berbicara sendiri.
Dan ketika rakyat berbicara tanpa kepastian, yang muncul sering kali prasangka.
Asep pulang sore itu dengan pakaian langkah pelan. Ia berhenti sejenak, menatap pinus-pinus yang berdiri tenang.
“Hutan ini tidak pernah mengadu domba,” gumamnya.
“Yang bikin ribut itu kita… karena tidak ada yang mau bicara jelas.”
Ia tidak marah. Ia hanya lelah.
Di kaki gunung, masyarakat tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin satu hal: kepastian.
Agar mereka tidak lagi bertengkar soal benar atau salah.
Agar mereka tidak merasa seperti pion dalam permainan opini.
Agar instansi yang berwenang benar-benar berdiri di tengah, bukan sekadar menonton dari jauh.
Karena hutan bisa tetap hijau. Rakyat bisa tetap hidup.
Asal yang diberi kewenangan berani berkata tegas:
Ini boleh. Atau ini tidak.
Bukan diam, lalu membiarkan warga saling berhadap-hadapan.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment