Home Cerpen Hari Ibu-ibu

Hari Ibu-ibu

Share
Share

Duamata.id – Di aula sebuah gedung pertemuan yang dindingnya dihiasi balon merah muda dan spanduk bertuliskan “Selamat Hari Ibu”, suara musik menggema sejak pagi. Kursi deret depan telah dikuasai para ibu-ibu dengan seragam yang berbeda-beda, dari berbagai komunitas dan organisasi yang mayoritas anggotanya adalah ibu-ibu.

Hari itu disebut sebagai perayaan Hari Ibu. Tapi entah sejak kapan, maknanya bergeser pelan-pelan, nyaris tak terasa, seperti poster yang warnanya pudar karena terlalu sering kena matahari.

“Ini momen kita, Bu!” seru seorang panitia sambil membagikan kupon doorprize. “Yang penting meriah.”

Dan memang meriah. Ada lomba joget, lomba busana kebaya modern, lomba yel-yel organisasi. Tepuk tangan bergema, kamera ponsel terangkat, dan hashtag siap diluncurkan ke media sosial. Hari Ibu menjadi Hari Ibu-ibu, penuh suara, penuh warna, penuh agenda.

Di sudut aula, duduk seorang perempuan tua bernama Ibu Sari. Ia tidak mengenakan seragam apa pun. Kebayanya sederhana, warnanya pudar, seperti pagi-pagi yang telah terlalu sering ia jalani sendirian. Ia datang bukan karena undangan, melainkan karena cucunya memintanya menunggu di sana sebelum dijemput sepulang sekolah.

Ibu Sari tidak ikut lomba. Namanya tidak tercatat dalam daftar peserta. Ia tidak wara-wiri dalam kegiatan seremonial. Hidupnya diisi oleh hal-hal yang tak pernah masuk laporan, bangun sebelum subuh, menanak nasi dengan sisa kayu bakar, menunggu kabar anaknya yang merantau dan jarang pulang, serta doa-doa pendek yang diucapkan pelan agar keluarganya baik-baik saja.

Hari Ibu hari ini bukan tentang ibu yang melahirkan, membesarkan, dan menghabiskan hidupnya di dapur, sawah, lorong rumah sakit, atau antrean sekolah. Hari Ibu hari ini tentang ibu yang bisa hadir, berdandan, dan wara-wiri dari satu acara ke acara lain, lengkap dengan konsumsi dan dokumentasi.

Di barisan depan duduk ibu-ibu yang sangat sibuk mencintai ibu, dalam bentuk seminar, talkshow, dan lomba busana. Mereka berbicara panjang tentang “peran strategis perempuan”, sambil sesekali mengecek ponsel apakah foto mereka sudah diunggah oleh ibu-ibu lainnya yang bertugas mendokumentasikannya.

Sementara itu, di kursi belakang, ada banyak Ibu Sari lain.

Ada Ibu Rukayah, yang sepanjang hidupnya menjadi ibu tunggal sejak suaminya tidak pulang dari laut. Ia tidak pernah ikut rapat apa pun, kecuali rapat batin saat harus memilih antara beli beras atau buku tulis anaknya.

Ada Ibu Wati, buruh cuci, yang tahu betul arti multi-tasking: mencuci pakaian orang lain sambil memikirkan biaya SPP, sambil menyembunyikan lelah agar anaknya tak ikut patah.

Ada Ibu Enah, yang menghabiskan hidupnya menjaga anak berkebutuhan khusus. Ia tidak punya waktu mengikuti organisasi, karena hidupnya sendiri sudah organisasi penuh waktu, tanpa SK dan tanpa honor.

Nama-nama mereka tidak dipanggil ke panggung. Tidak ada selempang untuk “Ibu Paling Setia Menunggu Anak Pulang”. Tidak ada piala untuk “Ibu yang Menelan Lelah Setiap Hari”.

Ketika pembawa acara bertanya, “Siapa ibu paling inspiratif hari ini?” tepuk tangan spontan mengarah ke deret depan, kepada mereka yang paling sering tampil, paling aktif, paling dikenal.

Ibu Sari ikut bertepuk tangan, pelan. Tangannya gemetar, bukan karena iri, melainkan karena lelah yang sudah lama bersarang.

Di atas panggung, seorang ibu menerima penghargaan “Tokoh Inspiratif Hari Ibu”. Sambutannya mengalir lancar, penuh istilah: empowerment, capacity building, role model. Tepuk tangan meriah. Kamera bergerak.

Di panggung, seorang ibu menerima selempang “Ibu Teladan”. Ia tersenyum lebar, berfoto, lalu berpidato tentang pentingnya peran ibu dalam pembangunan. Kata-katanya rapi, seperti brosur. Tepat, tapi terasa jauh.

Tak satu pun menyebut ibu yang tidak hadir karena harus menjaga anak sakit. Tak satu pun mengingat ibu yang tak bisa datang karena bekerja seharian demi uang belanja. Tak satu pun bertanya kepada ibu yang dedikasinya tidak pernah disiarkan.

Ketika acara ditutup, pembawa acara berkata,
“Semoga kita semua bisa menjadi ibu yang menginspirasi.”

Semua mengangguk puas.

Padahal, sebagian besar inspirasi hari itu sudah pulang lebih dulu, mengejar angkot, menanak nasi, menjemput anak, atau sekadar kembali ke sunyi yang tidak pernah masuk proposal kegiatan.

Sementara Ibu Sari dan Ibu Sari lainnya tetap melanjutkan tugasnya, tanpa spanduk, tanpa seremoni, menjadi ibu sebagai kerja seumur hidup, bukan agenda tahunan.

Dan barangkali, di situlah satire ini menjadi terlalu nyata, Hari Ibu dirayakan dengan sangat ramai, justru oleh mereka yang terkadang paling jarang punya waktu menjadi ibu.

Hari Ibu pun berakhir. Aula kembali sunyi, balon mengempis, spanduk digulung. Para ibu-ibu pulang dengan goodie bag dan foto kenangan.

Ibu Sari pulang dengan langkah pelan. Tidak ada selempang di pundaknya, hanya tas kain berisi bekal cucunya yang belum habis.

Di rumah, ia menanak nasi lagi. Seperti kemarin. Seperti esok. Tanpa tepuk tangan. Tanpa panggung.

Dan di sanalah, jauh dari seremonial, makna Hari Ibu tetap hidup diam-diam, setia, dan nyaris tak pernah dirayakan.

Hari Ibu pun selesai. Yang merayakan adalah ibu-ibu. Yang dilupakan adalah ibu.

Cerpen by Bengpri

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Hujan di Gerobak Kelapa

Duamata.id - Menjelang pukul empat sore, langit sudah seperti wajah orang yang...

Video MBG Viral di Pamekasan, BGN: Menu Sebenarnya Lengkap, Tapi Tidak Dikeluarkan dari Mobil

Jakarta — Video yang memperlihatkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di...

Hati-Hati! Ini Titik Macet Parah Mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

BANDUNG – Sejumlah jalur utama nontol di Jawa Barat diprediksi mengalami kemacetan...

Investasi Indramayu Meledak! Tembus Rp3,3 Triliun, Naik 121 Persen dalam Setahun

NDRAMAYU – Realisasi investasi di Kabupaten Indramayu mengalami lonjakan luar biasa sepanjang...