Home Cerpen Ajakan Ngopi dan Telepon yang Tak Pernah Berdering

Ajakan Ngopi dan Telepon yang Tak Pernah Berdering

Share
Share

Duamata id – Di sebuah daerah yang ‘ingin’ selalu terlihat damai, ada tradisi baru yang lebih sakral daripada upacara hari Senin, yaitu Ngopi Bareng Media.

Acara itu selalu digelar di kafe paling estetik di pojok kota. Kursinya empuk, kopinya pahit-manis seperti janji kampanye, dan meja-mejanya cukup panjang untuk menampung tawa yang dibuat-buat.

Di sana, Pemimpin duduk santai tanpa podium, tanpa naskah, hanya ditemani cangkir dan kamera yang siap memotret sudut terbaik wajah kekuasaan.

Undangan tidak pernah berbentuk surat resmi. Ia lebih intim. Sebuah telepon.

“Mas, nanti siang bisa ngopi bareng Bapak, ya. Santai aja. Kita ngobrol-ngobrol ringan soal isu yang lagi rame,” begitu biasanya suara di seberang sana, orang dekat yang lebih berkuasa untuk mengatur protokol.

Hampir semua jurnalis pernah merasakan getar suci itu. Hampir. Kecuali Arman.

Arman adalah jurnalis yang ponselnya jarang berdering. Ia menulis seperti orang yang tidak punya tabungan, tidak ada cadangan aman, tidak ada kalimat penyangga.

Hari itu, lini masa penuh dengan foto rekan-rekannya duduk melingkar bersama sang Pemimpin.

Ada yang memotret cangkir kopi dengan latar belakang wajah pemimpin yang tersenyum seperti baliho hidup.
Caption-nya seragam:

“Diskusi santai penuh kehangatan bersama Bapak membahas berbagai isu strategis daerah. Terima kasih atas keterbukaannya, Pak!”

Arman membaca itu sambil menyeruput kopi sachet di kantor redaksi yang dispensernya sudah dua hari rusak.

Ia menatap ponselnya. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada pesan singkat. Bahkan tidak ada sinyal bahwa namanya sempat dipertimbangkan.

Ia tersinggung.
Bukan karena tidak diajak ngopi. Tapi karena tidak dianggap perlu diajak.

“Jangan-jangan aku dianggap tidak berbahaya,” gumamnya.
Ia mulai menyusun teori konspirasi kecil di kepalanya sendiri.

Mungkin tulisannya selama ini terlalu biasa saja. Mungkin kritiknya tidak cukup tajam untuk melukai.

Atau lebih menyakitkan lagi, mungkin ia sudah dianggap jinak tanpa perlu dijinakkan.

Di sudut kota, acara ngopi itu berlangsung hangat.
Seorang wartawan bertanya dengan suara selembut busa latte, “Pak, bagaimana tanggapan Bapak soal isu pengelolaan anggaran yang lagi ramai?”

Pemimpin tersenyum. “Itu hanya miskomunikasi. Kita ini kan keluarga besar.”

Semua tertawa. Kamera klik. Status diperbarui.
Kata “miskomunikasi” malam itu menjadi payung besar yang cukup untuk meneduhkan semua dugaan.
Arman membayangkan suasana itu.

Ia tahu persis pola mainnya. Pertanyaan dilunakkan. Jawaban diluruskan. Judul dipilihkan. Esok hari, berita yang terbit bukan lagi soal “isu ramai”, melainkan “klarifikasi tuntas”.

Ngopi bukan sekadar minum. Ia adalah ritual sterilisasi.

Namun tetap saja, Arman gelisah.
Ia merasa seperti maling yang tidak dicurigai. Seperti demonstran yang tidak diawasi.

Seperti suara yang bahkan tak perlu dibungkam karena dianggap tak akan menggema.

Tak lama kemudian, seorang teman sesama wartawan menelepon.
“Man, kamu nggak diundang, ya?”
“Nggak.”
“Wah, mungkin kuota penuh.”

Arman tertawa kecil. “Atau mungkin aku nggak masuk daftar yang perlu diamankan.”
Di ujung sana terdengar tawa yang ragu.

Keesokan harinya, berita-berita hasil ngopi memenuhi portal lokal. Isinya hampir seragam: Pemimpin responsif, Pemimpin terbuka, Pemimpin menjawab.

Berita Arman terbit paling akhir. Tanpa foto ngopi. Tanpa senyum pejabat. Hanya gambar retakan tanah sawah kering dan wajah warga yang lelah.

Tak lama, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.
“Mas Arman, ya? Ini dari… ya, dari teman-teman lah. Nanti kita atur waktu ketemu. Biar nggak ada salah paham.”

Akhirnya.
Undangan itu datang juga, meski dengan nada yang lebih hati-hati.

Arman menatap layar ponselnya cukup lama sebelum menjawab.
Ia tersenyum tipis.

Tiba-tiba ia sadar, selama ini ia salah paham. Bukan ia yang tidak dianggap berbahaya. Mungkin ia hanya belum cukup keras bersuara.

Ia teringat kegelisahannya semalam. Tentang takut dianggap tak penting. Tentang takut tak perlu dibungkam.

Kini ia paham.
Kebebasan ‘menulis’ di daerahnya bukanlah kebebasan sepenuhnya. Ia seperti kebebasan bersyarat, bebas selama tahu kapan harus melunak, kapan harus duduk manis, kapan harus bilang “nggak enak, Pak”.

Dan ngopi adalah syarat administrasinya.
Arman menarik napas.

“Terima kasih undangannya,” katanya akhirnya. “Tapi kalau mau klarifikasi, kirim saja pernyataan resmi. Biar saya kutip utuh. Biar pembaca yang menilai.”

Di seberang sana, hening sesaat.
“Jadi… nggak bisa ngopi bareng, Mas?”
“Maaf. Saya alergi gula berlebih.”

Telepon ditutup.
Arman kembali ke meja kerjanya. Ia membuka dokumen baru. Di atasnya ia menulis kalimat pertama:
“Di daerah ini, kopi tak lagi sekadar minuman. Ia adalah alat ukur, siapa yang perlu dibungkam, dan siapa yang dianggap sudah cukup diam.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan satu kalimat lagi, “Dan kadang, kehormatan terakhir seorang jurnalis adalah tidak pernah menerima telepon itu.”

Di luar, baliho Pemimpin masih tersenyum lebar.
Di dalam, seorang jurnalis akhirnya merasa, untuk pertama kalinya benar-benar merdeka.
Bukan karena diajak ngopi, justru karena tidak.

Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Video MBG Viral di Pamekasan, BGN: Menu Sebenarnya Lengkap, Tapi Tidak Dikeluarkan dari Mobil

Jakarta — Video yang memperlihatkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di...

Hati-Hati! Ini Titik Macet Parah Mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

BANDUNG – Sejumlah jalur utama nontol di Jawa Barat diprediksi mengalami kemacetan...

Investasi Indramayu Meledak! Tembus Rp3,3 Triliun, Naik 121 Persen dalam Setahun

NDRAMAYU – Realisasi investasi di Kabupaten Indramayu mengalami lonjakan luar biasa sepanjang...

Di Istana Negara, Quraish Shihab Ingatkan: Al-Qur’an Mengajarkan Perdamaian, Tapi Tanpa Mengorbankan Keadilan

JAKARTA – Ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa pesan...