Home Cerpen Diundang Atau Diasingkan??

Diundang Atau Diasingkan??

Share
Share

Duamata.id – Undangannya datang rapi. Berlogo pemerintah. Bertanda tangan, ada nomor surat, ada tembusan. Lengkap. Namaku Ghani, Aku membacanya berkali-kali. Bukan karena tak paham isinya, tapi karena ingin memastikan namaku benar tertulis di sana.

Aku diundang.
Aku dilantik.
Aku dipromosikan.

Dan aku diasingkan.

Hari itu, di Kebun Raya Kuningan, aku berdiri sejajar dengan 149 ASN lain. Jas hitam, dasi lurus, wajah formal. Dari luar, hidupku tampak baik-baik saja. Bahkan, kalau mau jujur, tampak naik kelas.

Tapi ASN punya keahlian membaca yang tak diajarkan di diklat mana pun, membaca makna di balik redaksi.

Jabatanku bergeser. Lokasiku meloncat jauh melewati kecamatan ramai, melewati jalur nyaman, sampai ke wilayah yang Google Maps pun ragu memberi sinyal.

Kami menyebutnya dengan istilah sopan, penugasan strategis.
Dalam hati, aku menyebutnya: pembuangan elegan.

Bupati berbicara lantang dari podium.

“Pelantikan ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini murni profesionalisme.”

Aku mengangguk, seperti yang lain. Kamera mengambil gambar dari sudut yang indah. Pepohonan jadi saksi. Alam memang selalu netral; manusialah yang gemar memberi makna.

Aku teringat Pilkada kemarin. Aku memang berseberangan. Tak frontal. Tak ribut. Tapi cukup jelas bagi mereka yang terbiasa membaca barisan.

Aku tak menyesal memilih. Tapi aku juga tak menyangkal, pilihan punya alamat konsekuensi.

Namaku dipanggil. Aku maju. Sumpah jabatan kuucap. Tanganku menjabat tangan bupati. Senyum kami sama-sama terlatih.

Saat itulah aku sadar, aku tidak disingkirkan, aku dirapikan.

Selesai acara, beberapa teman menepuk bahuku.

“Selamat ya, Rak. Jabatan baru.”

Aku membalas, “Iya. Sekalian naik jarak.”

Mereka tertawa. Aku ikut. Tertawa selalu jadi cara termurah menyembunyikan pahit.

Seminggu kemudian aku tiba di kantor baruku. Bangunannya kecil. Pegawainya sedikit. Warganya banyak. Masalahnya lebih banyak lagi.

Di sinilah ironinya, aku justru benar-benar bekerja.

Tak ada rapat besar. Tak ada seremoni. Tak ada politik. Hanya layanan, keluhan, dan tanah becek. Setiap hari, masyarakat datang tanpa peduli aku siapa dan dulu memilih siapa.

Di sinilah aku belajar arti kalimat yang diucapkan bupati hari itu:

“Jabatan bukan tujuan akhir, tapi titik awal pengabdian.”

Mungkin ini maksudnya.
Atau mungkin ini kebetulan yang dipaksakan jadi pelajaran.

Kadang aku bertanya:
Apakah aku diasingkan agar dilupakan?
Atau diuji agar dibuktikan?

Jawabannya tak pernah datang dalam bentuk surat resmi.

Tapi setiap kali ada warga pulang dengan senyum karena urusannya selesai, aku merasa: diundang ke pelantikan ternyata bukan akhir cerita.

Pengabdian tak selalu berada dekat kekuasaan.
Kadang ia sengaja dijauhkan untuk melihat apakah masih setia pada maknanya.

Bagiku, semua tempat penugasan adalah sama, jalan pengabdian bagi seorang Aparatur Sipil Negara

Dan aku?
Aku masih ASN.
Masih bekerja.
Masih di sini, di kecamatan paling jauh, dengan undangan yang ternyata sangat dekat dengan kenyataan.

Cerpen by Bengpri

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Wajah-Wajah Memelas Menjelang Lebaran

Duamata.id - Ada satu fenomena sosial yang selalu muncul setiap menjelang Lebaran....

PSI Bidik 5 Kursi DPRD Kuningan, Sinyal Kekuatan Baru di Peta Politik Lokal

KUNINGAN – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai tancap gas menghadapi kontestasi politik...

Prabowo–Gibran Kompak Bayar Zakat di Istana! Pesan Penting Presiden soal Potensi Ekonomi Umat

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan...

Jelang Lebaran, Pemerintah Pastikan Stok BBM dan LPG Nasional Aman

JAKARTA – Pemerintah memastikan cadangan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM)...