Home Cerpen Saat Roda Berputar

Saat Roda Berputar

Share
Share

:Duamata.id – Di sebuah warung kopi pinggir jalan, Arga duduk sendirian menatap cangkir yang mulai dingin. Hujan gerimis turun perlahan, seperti sengaja menemani pikirannya yang sedang penuh.

Beberapa tahun lalu, hidupnya berbeda. Usahanya berkembang, teleponnya tak pernah sepi, dan banyak orang datang menawarkan persahabatan.

Setiap acara keluarga, ia selalu menjadi orang yang dicari. Setiap ada kesulitan, namanya sering disebut sebagai tempat meminta bantuan.

Namun roda kehidupan memang tidak pernah diam.

Usaha yang dibangunnya bertahun-tahun runtuh dalam waktu singkat. Satu demi satu aset terjual. Tabungan menipis. Orang-orang yang dulu sering menghubunginya mulai menghilang.

Awalnya Arga tidak terlalu memikirkan itu. Ia paham, setiap orang memiliki kesibukan masing-masing.

Sampai suatu hari ia benar-benar membutuhkan bantuan.

Bukan bantuan besar. Hanya sebuah uluran tangan, sebuah rekomendasi pekerjaan, atau sekadar dukungan moral agar ia bisa bangkit lebih cepat.

Ia menghubungi beberapa saudara.

Ada yang membaca pesannya tanpa membalas.

Ada yang menjawab singkat lalu menghilang.

Ada pula yang berbicara seolah dirinya sedang meminta sesuatu yang sangat merepotkan.

Arga terdiam.

Yang membuatnya kecewa bukan karena bantuan itu tidak datang.

Ia tahu tidak ada orang yang wajib menolongnya.

Yang membuatnya sedih adalah cara sebagian orang memperlakukannya saat ia berada di bawah.

Seolah nilai seseorang hanya diukur dari keadaan dompetnya.

Seolah hubungan kekeluargaan dan persahabatan memiliki syarat tersembunyi: selama kamu sukses, kami dekat.

Malam itu Arga berjalan pulang dengan langkah pelan.

Di sepanjang perjalanan, ia mengingat satu per satu nama yang pernah ia bantu saat dirinya berada di atas.

Anehnya, ia tidak marah.

Ia hanya merasa kehilangan sebuah kesempatan.

“Padahal kalau mereka mau membantu sedikit saja,” gumamnya dalam hati, “aku ingin membawa kenangan itu sampai kapan pun.”

Karena jauh di dalam dirinya, Arga yakin roda kehidupan akan kembali berputar.

Ia yakin masa sulit ini tidak akan selamanya.

Ia yakin suatu hari nanti dirinya akan berdiri lagi.

Dan saat hari itu tiba, ia ingin mengingat siapa saja yang pernah berdiri di sampingnya ketika semua orang menjauh.

Bukan untuk membalas jasa.

Bukan juga untuk berutang budi.

Tetapi untuk memastikan bahwa orang-orang baik itu selalu mendapat tempat istimewa dalam hidupnya.

Hari-hari berlalu.

Bulan berganti tahun.

Perlahan, keadaan mulai berubah.

Arga mendapatkan kesempatan baru. Ia membangun usaha kecil dari nol. Tidak mudah, tetapi pengalaman jatuh membuatnya lebih kuat dan lebih bijaksana.

Usahanya tumbuh.

Jaringannya kembali luas.

Pendapatannya bahkan melampaui masa kejayaannya dahulu.

Namun ada hal yang berbeda.

Daftar orang di sekelilingnya tidak lagi sama.

Bukan karena Arga sengaja menjauhkan mereka.

Melainkan karena alam seakan bekerja dengan caranya sendiri.

Orang-orang yang dulu meremehkannya perlahan tersisih dari kehidupannya.

Ada yang pindah kota.

Ada yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Ada yang tetap ada, tetapi hubungan mereka tak pernah lagi sedekat dulu.

Bukan karena dendam.

Hanya karena waktu telah menunjukkan posisi masing-masing.

Sebaliknya, orang-orang yang pernah memberi dukungan sekecil apa pun justru semakin dekat.

Mereka yang dulu hanya mengirim pesan, “Semangat ya, kamu pasti bisa bangkit,” mendapat tempat yang lebih besar daripada mereka yang pernah berjanji banyak tetapi menghilang saat dibutuhkan.

Suatu sore, Arga kembali duduk di warung kopi yang sama.

Kali ini dengan senyum yang lebih tenang.

Ia memandang jalanan yang ramai dan teringat masa-masa sulit yang pernah dilaluinya.

Ternyata benar.

Roda kehidupan memang berputar.

Tetapi pelajaran terbesarnya bukan tentang siapa yang berhasil dan siapa yang gagal.

Melainkan tentang siapa yang tetap menghargaimu saat kamu tidak memiliki apa-apa.

Karena ketika seseorang berada di bawah, topeng-topeng mulai jatuh satu per satu.

Dan ketika ia kembali berada di atas, ia tidak perlu membalas siapa pun.

Hidup sudah melakukannya dengan caranya sendiri.

Yang tersisa hanyalah rasa syukur kepada mereka yang memilih bertahan, saat dunia sedang mengajarkan arti sebenarnya dari saudara, keluarga, dan sahabat.

Cerpen oleh Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Setahun Kepemimpinan Dian Rachmat Yanuar, Kuningan Kembali Raih Opini WTP dari BPK

BANDUNG – Kepemimpinan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. menunjukkan...

ASABRI dan Bank BWS Sosialisasikan Jaminan Sosial serta Literasi Keuangan kepada Personel Kodim 0615/Kuningan

KUNINGAN – PT ASABRI (Persero) bersama Bank BWS menggelar kegiatan sosialisasi program...

KDM Minta Sekolah Swasta Buka Akses untuk Siswa Kurang Mampu, Pemprov Jabar Siapkan Bantuan Rp2,7 Juta

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, , meminta sekolah swasta ikut berperan dalam...

Kuningan Kirim 140 Personel ke Porsenitas XIII Cirebon, Targetkan Juara Umum

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan mengirimkan 140 personel untuk mengikuti Pekan Olahraga,...