Duamata.id – Pagi itu Kebun Raya Kuningan tampak lebih hijau dari biasanya. Atau mungkin mataku saja yang sedang sensitif, karena sejak subuh notifikasi WhatsApp tak juga berbunyi.
Namaku Raka. ASN eselon yang cukup lama mengenal arti kata loyal. Setidaknya menurut versiku sendiri.
Aku berdiri agak jauh dari panggung pelantikan. Bukan di barisan kursi depan, bukan pula di daftar nama yang dipanggil satu per satu. Aku hanya penonton, dengan jas rapi dan senyum yang dipaksakan, seperti tamu kondangan yang datang karena sungkan, bukan undangan.
Seratus lima puluh pejabat dilantik pagi itu. Angkanya besar. Hampir sebesar harapanku beberapa bulan terakhir.
“Pelantikan ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini profesionalisme,” kata Bupati dari atas podium.
Aku mengangguk pelan. Kalimat itu pernah kudengar, bahkan sering kuucapkan sendiri, terutama saat dulu, jauh sebelum beliau berdiri gagah sebagai bupati, kami berjuang di lorong-lorong sempit demokrasi.
Aku ingat betul malam-malam itu. Spanduk dipasang diam-diam. Strategi dibahas sambil menyeruput kopi sachet. Grup WhatsApp tak pernah tidur. Aku bukan tim sukses resmi. ASN, tahu diri, tapi loyalitas punya caranya sendiri untuk bekerja dalam senyap.
Aku tak pernah minta apa-apa. Setidaknya begitu yang selalu kukatakan pada diriku sendiri.
Saat satu per satu nama dipanggil, aku ikut bertepuk tangan. Teman lama. Junior yang dulu sering minta tanda tangan. Ada juga yang dulu memanggilku kang, kini namanya dibacakan dengan gelar jabatan baru.
“Jabatan bukan tujuan akhir, tapi titik awal pengabdian,” lanjut Bupati.
Kali ini aku tersenyum pahit. Dalam batinku bertanya: kalau begitu, kenapa aku masih di titik yang sama?
Aku bukan pejabat bermasalah. Tak pernah dipanggil inspektorat. Laporan tepat waktu. Tak ada kasus. Tak ada catatan merah. Hanya satu kekuranganku: namaku tak pernah muncul di undangan promosi.
Aku mulai mengerti. Mungkin benar, pelantikan ini bukan soal suka atau tidak suka. Tapi juga bukan soal siapa yang paling lelah.
Evaluasi kinerja, katanya, akan dilakukan tiap semester. Aku menghitung dalam kepala. Sudah berapa semester aku bertahan dengan jabatan yang sama? Sudah berapa kali aku menjadi jembatan antara kebijakan dan warga, meski sering diinjak, jarang diapresiasi?
Di akhir sambutan, Bupati bicara soal Allah SWT. Soal pertanggungjawaban yang lebih tinggi dari manusia.
Kalimat itu menamparku lembut.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menghitung jasa, lupa menimbang niat. Loyalitasku, jangan-jangan, bukan sepenuhnya pengabdian, tapi harapan akan balasan yang sopan bernama promosi.
Saat acara bubar, aku berjalan keluar Kebun Raya. Pepohonan tetap berdiri tenang. Mereka tak bertanya siapa dilantik, siapa tertinggal. Mereka tumbuh karena tugasnya memang tumbuh.
Di parkiran, ponselku akhirnya berbunyi. Bukan undangan. Hanya pesan dari staf:
“Pak, masyarakat Desa nanya lagi soal bantuan air bersih.”
Aku mengetik balasan singkat:
“Saya ke sana siang ini.”
Mesin motor kunyalakan. Tak ada jabatan baru. Tak ada panggung. Tapi masih ada warga yang menunggu.
Dan mungkin, di situlah loyalitasku benar-benar diuji.
Cerpen by Bengpri
Leave a comment