Duamata.id – Pernah dengar suara bek, bek, bek! yang menggema di gang-gang kampung? Bagi warga Jawa Barat, suara itu bukan sembarang bunyi, itulah pertanda rujak bebek datang. Jajanan tradisional legendaris ini dulu selalu dinanti, kini justru semakin sulit ditemukan
Rujak bebek (dibaca beubeuk), bukan rujak biasa. Buah-buahan lokal seperti kedondong, mangga muda, bengkuang, nanas, hingga pisang batu ditumbuk setengah hancur dalam lumpang kayu.
Ditambah gula merah, terasi, garam, dan cabai rawit, rasanya langsung “menghantam” lidah.
Uniknya, sebelum menumbuk, penjual selalu bertanya: “Pedasnya berapa?” .
Tapi jangan tertipu. Meski minta tidak pedas, sensasi panasnya tetap merayap perlahan hingga ke tenggorokan. Awalnya segar, lalu… panasnya datang belakangan!
Proses pembuatannya pun tak kalah ikonik. Alat tumbuk kayu yang disebut jubleg dipukul berulang kali, menghasilkan suara khas yang mudah dikenali.
Dulu, rujak ini disajikan di pincuk daun pisang dengan sendok dari daun sederhana, tapi sarat rasa dan kenangan.
Dengan harga yang dulu hanya Rp5 ribu seporsi, rujak bebek dipercaya ampuh mengusir kantuk dan mengembalikan tenaga.
Tak heran jika jajanan ini jadi favorit banyak orang, terutama saat siang hari. Di tengah menjamurnya jajanan modern, rujak bebek kini perlahan menghilang.
Padahal, satu suapan saja sudah cukup membuktikan: kuliner tradisional tak pernah kalah oleh zaman.
Kalau Anda masih menemukan tukang rujak bebek, jangan lewatkan. Bisa jadi, itu adalah kesempatan langka mencicipi rasa asli masa kecil.(Bengpri).
Leave a comment