Duamata.id – Aku menyebut diri bagian dari tim. Tim sukses, tentu saja. Tapi setelah pesta kemenangan usai, baliho diturunkan, dan spanduk digulung jadi alas kandang ayam, kata sukses itu terasa terlalu sempit. Maka tim kami berubah menjadi tim daftar.
Setiap ada pengumuman lowongan dari Pemda, Aku akan selalu siap untuk mengisi formulir pendaftarannya.
BUMD buka direktur? Daftar. Lembaga daerah cari komisaris? Daftar. Organisasi olahraga? Daftar. Tim ahli sosial budaya? Daftar. Apapun bidangnya, kalau Aku merasa cocok, daftar.
Bagiku, semua bidang hanyalah varian nama. Ekonomi, sosial, lingkungan, olahraga, keagamaan, semua bisa dipelajari sambil jalan, yang penting Aku harus ambil kursinya dulu.
Aku sering berkata sambil menyeruput kopi, “Ini bukan soal kompetensi. Ini soal pengabdian.”
Sejak pemimpin yang kupilih dan kuperjuangkan itu menang, aku merasa hubungan kami naik tingkat.
Dulu aku memilih dia, sekarang wajar kalau dia memilih aku. Itu bukan ambisi. Itu keseimbangan semesta, pikirku.
Aku daftar semua. Jangan tanya kenapa, karena hidup itu tentang peluang, bukan kecocokan.
Ini semua tentang pengabdian. Pengabdian yang dimaksud tentu saja pengabdian kepada masa lalu, masa ketika Aku dan tim berdiri penuh semangat, untuk mensukseskan.
“Waktu itu Aku memilih, sekarang sudah waktunya Aku dipilih.”
Aku tahu betul, ujung dari semua proses rekrutmen itu satu. Bukan tes tertulis, bukan wawancara, bukan presentasi visi-misi.
Ujungnya selalu satu nama, sang pemimpinlah yang akan menentukan siapa yang akan terpilih.
Dan pemimpin itu syukurlah orang yang Aku dukung.
Maka setiap formulir diisi dengan penuh keyakinan.Riwayat pendidikan dilebarkan, pengalaman kerja dilenturkan.
Motivasi ditulis seragam: “Siap membantu kepala daerah mewujudkan visi-misi.”
Tak ada yang menulis, “Saya tidak paham bidang ini, tapi saya hadir sejak awal perjuangan.”
Karena kalimat itu tak tersedia di kolom mana pun.
Aku menyebutnya balas jasa, Aku menyebutnya hak moral, Aku menyebutnya giliran. Tak ada yang menyebutnya antrian, apalagi seleksi.
Kadang Aku heran, kenapa masyarakat mencibir. “Kan Aku juga rakyat,” kataku.
Benar. Rakyat yang merasa ikut memilih, lalu merasa pantas dipilih balik.
Kalau ada yang bilang, “Ini kan bukan bidangmu,”
Aku selalu jawab tenang: “Bidang itu cuma nama. Yang penting orangnya.”
Formulir rekrutmen itu lucu, penuh pertanyaan seolah-olah semua ini murni soal kemampuan. Mereka tanya kompetensi, visi, integritas, padahal jawaban sesungguhnya cuma satu:
Apakah kamu ikut memilih pemimpin ini atau tidak?
Tapi pertanyaan itu tidak pernah ditulis, mungkin takut terlalu jujur.
Kalau pemerintah ini manusia, dia sudah lama berutang padaku.
Orang-orang yang datang dengan ijazah dan pengalaman itu seperti tamu tak diundang. Rapi, pintar, tapi datang terlambat. Aku sudah duduk dari awal. Aku yang buka pintu.
Mereka bilang ini meritokrasi. Aku senyum, karena Aku tahu merit yang paling dihargai di sini adalah loyalitas masa lalu.
Kadang namaku tidak lolos. Aku tidak marah, Aku hanya pindah daftar. Karena jabatan itu banyak, dan Aku sabar.
Pemerintah ini besar. Utangnya juga besar.
Dan aku percaya satu hal, tidak mungkin semua ingatan dilupakan. Pasti ada satu kursi yang masih mengingat jasaku.
Kalau bukan sekarang, nanti.kalau bukan di sini, di lembaga lain.
Karena aku bukan sekadar pelamar. Aku adalah tagihan yang berjalan. Dan suatu hari, pemerintah ini akan membayar.
Hanya Cerpen by Mang Duta.
Leave a comment