Duamata.id – Beberapa saat yang lalu atau mungkin beberapa waktu yang lalu, dalam ukuran internet, jika seseorang mengunggah foto wajah cantik atau ganteng di media sosial, pertanyaannya sederhana dan jujur dalam ketidakjujurannya.
“Pakai aplikasi apa?”
“Filternya yang mana?”
Sekarang pertanyaan itu berevolusi. Bukan lagi soal filter, tapi soal Tuhan baru bernama AI.
“Pakai AI apa?”
“Prompt-nya gimana?”
Tak ada lagi yang bertanya, “Itu kamu?”
Karena jawabannya terlalu berbahaya untuk kejujuran.
Di sebuah kota bernama Timeline, hiduplah seorang pejabat bernama Pak Narasi. Ia rajin turun ke lapangan, setidaknya begitu kata unggahan resminya.
Setiap kunjungan selalu diawali rapat kecil, bukan soal masalah warga, tapi soal estetika penderitaan.
“Warga miskinnya kurang dramatis,” kata staf media.
“Coba cari yang rumahnya retak, tapi jangan terlalu retak. Nanti kelihatan kumuh.”
“Ekspresi saya nanti bagaimana?” tanya Pak Narasi.
“Tenang Pak, nanti AI yang mengatur. Tatapan mata tulus level 8, senyum empati level 6.”
Setelah kunjungan selesai, yang lebih banyak dihabiskan untuk mencari sudut cahaya terbaik.
Pak Narasi tidak langsung pulang. Ia duduk menunggu. Bukan menunggu warga selesai bercerita, tapi menunggu hasil olahan.
“Ini fotonya, Pak,” kata staf.
“Sudah dihaluskan wajahnya, keriput empatinya ditambah, latar belakang kami buat sedikit buram biar fokus ke Bapak.”
“Bagus. Caption-nya?”
“Ini versi AI, Pak: ‘Hari ini saya belajar tentang keteguhan hidup rakyat kecil. Mereka mengajarkan arti syukur.’”
Pak Narasi mengangguk puas. Ia tidak ingat nama warga yang ditemuinya. Tapi itu tak penting. Yang penting, unggahannya tembus ribuan likes.
Empati kini diukur bukan dari perubahan, tapi dari engagement.
Di sisi lain kota, seorang perempuan bernama Asli, ironis memang namanya, mengunggah foto tanpa filter, tanpa AI, tanpa prompt.
Wajahnya biasa saja. Cahaya seadanya. Senyumnya jujur, tapi tidak simetris.
Komentar pun datang:
“Kok beda?”
“Kurang glowing.”
“Coba pakai AI biar niat.”
Asli membaca sambil tersenyum pahit. Di zaman ini, kejujuran dianggap kurang usaha.
Malamnya, Timeline kembali ramai. Wajah-wajah sempurna berjejer. Senyum-senyum hasil perintah. Kepedulian yang ditulis mesin.
Semua tampak indah, semua tampak peduli, semua tampak… palsu.
Kita hidup di zaman ketika teknologi mampu menciptakan wajah yang tak pernah lelah tersenyum, hati yang selalu tampak peduli, dan pejabat yang terlihat bekerja tanpa harus benar-benar bekerja.
Dan yang paling ironis, AI tak pernah berbohong.
Manusialah yang memintanya untuk memalsukan.
Hanya Cerpen by Bengpri
Leave a comment