Home Cerpen UMK di Judul, Pas-pasan di Dompet

UMK di Judul, Pas-pasan di Dompet

Share
Share

duamata.id – Setiap pagi, Arman menyalakan laptopnya dengan satu niat yang selalu sama: menulis dengan marah yang terukur. Ia jurnalis. Kolomnya kerap menyoroti perusahaan-perusahaan yang membayar buruh di bawah UMK.

Arman hafal betul pasal, angka, dan janji-janji manis yang tak pernah lunas. “Keuntungan naik, upah stagnan,” tulisnya berulang kali, seperti doa yang tak kunjung diijabah.

Ironisnya, sebelum huruf pertama artikelnya muncul, Arman sudah tahu satu hal, gajinya sendiri lebih rendah dari UMK yang ia bela dengan tinta.

Angka di slip gajinya adalah lelucon internal redaksi, tak pernah dibahas, tapi semua tahu. Redaktur menyebutnya “situasi media,” sebuah frasa payung yang cukup lebar untuk menutupi apa pun, termasuk rasa malu.

Di ruang redaksi yang sempit, teman-temannya tertawa getir. Ada yang tak digaji sama sekali. “Kita kan idealis,” kata Bima sambil mengangkat alis, seolah idealisme bisa menggantikan beras.

Arman adalah jurnalis yang paling lantang bicara soal UMK. Di linimasa, namanya identik dengan kritik: perusahaan rakus, buruh diperas, regulasi dilanggar.

Tulisan-tulisannya galak, penuh data, penuh kutipan pejabat dan pasal undang-undang. Ia seperti pisau tajam, asal bukan diarahkan ke dirinya sendiri.

Ironisnya, setiap akhir bulan Arman menerima gaji yang nilainya bahkan tak berani ia sebutkan di tulisannya. Jauh di bawah UMK yang ia bela habis-habisan. Ia tahu itu.

Semua di redaksi tahu itu. Tapi mereka sepakat untuk tidak membicarakannya. Dapur sendiri adalah wilayah terlarang.

“Yang penting kita independen,” kata redakturnya suatu hari. Kalimat itu terdengar heroik, sampai Arman sadar independensi rupanya hanya berlaku ke luar, bukan ke dalam.

Di ruang redaksi, sebagian rekannya bahkan tak digaji. Mereka hidup dari amplop liputan, jika ada narasumber yang iba atau dari fee iklan yang dicari sendiri.

Jurnalisme berubah menjadi kerja sambilan yang menyamar sebagai panggilan hidup. Anehnya, tak satu pun dari mereka pernah menulis berita tentang kondisi itu.

Arman pernah mencoba mengusulkan liputan internal: Media dan Upah di Bawah UMK. Redakturnya tertawa kecil. “Itu bunuh diri, Man.” Sejak saat itu Arman paham, keberanian pun punya batas wilayah.

Sore hari, Arman sering ngopi dengan para pegawai honorer di kecamatan. Mereka sama-sama digaji di bawah UMK, sama-sama dipuji sebagai pahlawan pelayanan publik, dan sama-sama tak pernah benar-benar diperjuangkan.

Bedanya, para honorer tahu mereka tertindas. Arman masih berpura-pura tidak.
“Mas kan jurnalis, kok nggak nulis soal kita?” tanya seorang honorer.
Arman terdiam. Ia tahu jawabannya, tapi tak berani mengucapkannya.

Karena menulis tentang honorer aman. Menulis tentang buruh perusahaan lain mulia. Tapi menulis tentang dapur sendiri, tentang media yang menggaji jurnalisnya di bawah UMK, itu pengkhianatan, kata mereka.

Padahal yang lebih tepat: itu kejujuran.
Malamnya, Arman kembali menulis kritik pedas tentang perusahaan besar yang melanggar UMK.

Artikelnya viral. Dipuji aktivis. Dibagikan serikat buruh. Namun saat laptopnya ditutup, dapurnya tetap dingin. Kritiknya tidak pernah pulang ke rumah.

Pada akhirnya, Arman sadar: ia hidup dari kata-kata yang memperjuangkan upah, sementara upahnya sendiri hidup dari kesabaran.

Ia menulis untuk mengingatkan dunia, sekaligus menertawakan dirinya. Sebab dalam negeri satire ini, jurnalis dan honorer duduk di meja yang sama, menghitung receh, mengaduk kopi, dan berharap suatu hari, UMK bukan lagi sekadar judul berita, melainkan kenyataan yang bisa dibayar lunas.

Di titik itu Arman sadar, ia bukan tak tahu ketidakadilan. Ia hanya memilih keadilan yang aman. Berani mengintip dapur orang, tapi menunduk saat melewati dapur sendiri.

Dan di negeri ini, barangkali itulah bentuk kemunafikan paling rapi, menghidupi idealisme dengan upah yang bahkan tidak kita perjuangkan untuk diri sendiri.

Hanya Cerpen by Bengpri

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Video MBG Viral di Pamekasan, BGN: Menu Sebenarnya Lengkap, Tapi Tidak Dikeluarkan dari Mobil

Jakarta — Video yang memperlihatkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di...

Hati-Hati! Ini Titik Macet Parah Mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

BANDUNG – Sejumlah jalur utama nontol di Jawa Barat diprediksi mengalami kemacetan...

Investasi Indramayu Meledak! Tembus Rp3,3 Triliun, Naik 121 Persen dalam Setahun

NDRAMAYU – Realisasi investasi di Kabupaten Indramayu mengalami lonjakan luar biasa sepanjang...

Di Istana Negara, Quraish Shihab Ingatkan: Al-Qur’an Mengajarkan Perdamaian, Tapi Tanpa Mengorbankan Keadilan

JAKARTA – Ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa pesan...