Home Cerpen Rumah Senyap Nenek Renta

Rumah Senyap Nenek Renta

Share
Share

Lorong sempit itu basah oleh sisa hujan semalam. Bau tanah bercampur dengan aroma kayu lapuk dari rumah-rumah tua.

Bunda Ela melangkah hati-hati, menyibakkan ujung kebayanya agar tidak terkena lumpur. Di ujung lorong, sebuah rumah reyot menunggu, dengan dinding bambu yang mulai miring.

“Di sini, Bu… rumah Nenek Unah,” bisik seorang kader sosial yang menemaninya.

Bunda Ela mengetuk pelan. Pintu kayu rapuh itu terbuka, memperlihatkan sosok perempuan renta, tubuhnya kurus, mata sayu, rambut putih tergerai.

“Silakan masuk, Nduk…” suara seraknya hampir tak terdengar.

Ruangan itu pengap. Hanya ada kasur tipis di atas lantai tanah, satu lampu redup, dan beberapa panci berdebu di pojok.

Bunda Ela tak tahan, ia segera duduk di lantai, sejajar dengan sang nenek. Ia menggenggam tangan keriput yang dingin.

“Mbah sehat?” tanya Bunda Ela lembut.
Nenek Unah tersenyum samar. “Sehat? Entahlah… yang penting masih bisa lihat matahari. Kalau hujan deras, kadang bocor, kadang takut roboh.”

Bunda Ela menelan ludah. Matanya berkaca-kaca. Ia mengeluarkan selimut baru, beberapa sembako, dan obat sederhana dari tasnya.

Namun nenek itu hanya menatap, lalu berbisik lirih:
“Aku bukan butuh beras, Nduk. Aku butuh teman ngobrol. Rumah ini terlalu senyap.”

Kalimat itu menghantam hati Bunda Ela lebih kuat daripada apapun. Ia merapatkan genggaman tangannya.

“Mbah tidak sendiri. Saya di sini. Kapanpun Mbah butuh cerita, ada kader yang siap menemani.”

Nenek Unah menunduk, bahunya bergetar. Air mata jatuh, bercampur dengan keriput di pipinya. Bunda Ela memeluknya erat, seperti anak yang kembali kepada ibunya.

Dari sudut ruangan, seorang wartawan yang ikut meliput menurunkan kameranya. Untuk pertama kali, ia merasa memotret bukanlah hal utama, ia hanya ingin menyaksikan keheningan yang penuh makna itu.

Saat keluar dari rumah reyot itu, hujan rintik kembali turun. Bunda Ela menatap langit abu-abu, dalam hatinya ia berjanji:
“Bantuan bisa habis, program bisa berganti. Tapi kesepian tidak boleh dibiarkan. Setiap orang berhak merasa ditemani.”(anonim).

Cerpen yang terinspirasi dari perjalanan hidup seorang Perempuan Hebat

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Saat Roda Berputar

:Duamata.id - Di sebuah warung kopi pinggir jalan, Arga duduk sendirian menatap...

ASABRI dan Bank BWS Sosialisasikan Jaminan Sosial serta Literasi Keuangan kepada Personel Kodim 0615/Kuningan

KUNINGAN – PT ASABRI (Persero) bersama Bank BWS menggelar kegiatan sosialisasi program...

KDM Minta Sekolah Swasta Buka Akses untuk Siswa Kurang Mampu, Pemprov Jabar Siapkan Bantuan Rp2,7 Juta

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, , meminta sekolah swasta ikut berperan dalam...

Kuningan Kirim 140 Personel ke Porsenitas XIII Cirebon, Targetkan Juara Umum

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan mengirimkan 140 personel untuk mengikuti Pekan Olahraga,...