Home Cerpen Lagu Kecil dan Boneka Kain

Lagu Kecil dan Boneka Kain

Share
Share

Suara riang anak-anak PAUD memenuhi ruangan kecil dengan dinding yang dicat warna-warni. Mereka berdiri berbaris, menyanyikan lagu sederhana: “Balonku ada lima…” Suara fals bercampur tawa, tapi justru itulah yang membuat suasana hangat.

Bunda Ela berdiri di pintu kelas, matanya berbinar melihat puluhan wajah mungil yang polos. Ia menunduk, menyapa satu per satu, bahkan berjongkok agar sejajar dengan pandangan anak-anak.

“Halo, siapa yang mau jadi dokter?” tanyanya lembut.
Serentak tangan kecil terangkat. Ada yang menjawab dokter, ada yang guru, bahkan ada yang spontan berteriak, “Mau jadi Bunda Ela!”

Tawa pecah. Bunda Ela menutup mulutnya, tersipu. Ia lalu ikut bernyanyi bersama anak-anak, suaranya tak kalah lantang, meski napasnya cepat habis. Di sela itu, ia melihat seorang guru PAUD duduk di pojok, wajahnya letih tapi penuh kasih.

Usai nyanyi, Bunda Ela mendekati guru itu. “Ibu capek sekali ya?” tanyanya lirih.
Guru itu tersenyum kaku. “Kami senang, Bu. Tapi mainan anak-anak banyak yang rusak. Gaji kami pun pas-pasan. Kadang saya pakai uang pribadi untuk beli kapur atau kertas.”

Bunda Ela terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia membuka tas besar yang dibawanya, lalu mengeluarkan beberapa boneka kain, puzzle kayu, dan kartu huruf buatan pengrajin lokal.
“Ini bukan hadiah, Bu. Ini titipan harapan. Anak-anak belajar, pengrajin kita pun hidup. Mari kita ajarkan sejak kecil, cinta pada karya sendiri.”

Anak-anak langsung berebut boneka kain, tertawa, memeluk erat seolah menemukan teman baru. Sang guru tak bisa menahan air mata. Ia menggenggam tangan Bunda Ela erat-erat.
“Terima kasih, Bunda. Selama ini kami merasa sendiri.”

Bunda Ela balas menggenggam. “Tidak ada guru yang sendiri. Kalian adalah pahlawan pertama yang membentuk masa depan bangsa. Saya hanya singgah sebentar, tapi doa saya bersama Ibu setiap hari.”

Saat pulang, Bunda Ela menoleh sekali lagi. Anak-anak masih bernyanyi sambil memainkan boneka kain itu. Suara mereka pecah-pecah, tapi bagi Bunda Ela, itulah simfoni terindah.

Dan di hatinya, ia menulis diam-diam:
“Kadang suara kecil anak-anak lebih nyaring daripada teriakan politik. Karena dari mereka, aku belajar arti ketulusan yang murni.”(anonim).

Cerpen yang terinspirasi dari perjalanan hidup seorang Perempuan Hebat

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Bupati Dian Tantang IMM Kuningan Jadi Motor Perubahan, Soroti Industri hingga Pertanian Modern

KUNINGAN — Dian Rachmat Yanuar menghadiri pelantikan Pengurus Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah...

Bupati Dian Soroti Judi Online hingga Anak Kecanduan Gadget Saat Buka MTQ Nusaherang

KUNINGAN — Dian Rachmat Yanuar menghadiri sekaligus membuka secara resmi Musabaqah Tilawatil...

Tangis Haru Iringi Pelepasan Jemaah Haji Kuningan, Bupati Dian Titip Doa untuk Daerah

KUNINGAN – Suasana haru menyelimuti Masjid At-Taufiq Kuningan Islamic Center saat ratusan...

Banjir Cisantana Disorot, KAWALI Sentil Pemda: Jangan Hanya Salahkan Hujan, Siapa yang Izinkan Bangunan di Resapan Air?

KUNINGAN – Banjir yang menerjang kawasan Cisantana kini memantik polemik baru. Setelah...