Home Cerpen Bunda Literasi, Penjaga Mimpi Anak-Anak

Bunda Literasi, Penjaga Mimpi Anak-Anak

Share
Share

Perpustakaan desa itu sederhana, hanya bangunan kecil dengan rak kayu yang sebagian catnya terkelupas. Buku-buku tersusun tidak rapi, beberapa sampul sudah lusuh. Namun pagi itu, suasananya berbeda, anak-anak SD berkerumun, menanti kehadiran seorang tamu.

Bunda Ela masuk dengan senyum lebar, membawa setumpuk buku bergambar. Ia langsung duduk lesehan di lantai, di tengah lingkaran anak-anak.

“Hari ini, kita akan bertualang lewat cerita,” ujarnya. Anak-anak bertepuk tangan riang.

Ia membuka sebuah buku cerita rakyat Kuningan, lalu mulai membacakan dengan penuh ekspresi. Suaranya naik-turun, matanya ikut berkilat.

Anak-anak terhanyut, ada yang tertawa, ada pula yang menahan napas saat kisah sampai pada bagian menegangkan.

Seusai membaca, Bunda Ela mengeluarkan sebuah papan tulis kecil.

“Sekarang, tuliskan mimpi kalian. Mau jadi apa kalau besar nanti?” katanya.

Satu per satu anak maju. Ada yang menulis ingin jadi guru, dokter, tentara, bahkan ada yang menulis: “Aku ingin jadi penulis, biar semua orang tahu cerita desa kami.”

Bunda Ela menatap tulisan itu lama. Matanya terasa panas. “Bagus sekali. Ingat, mimpi bukan untuk ditertawakan. Mimpi adalah jalan yang akan membawa kalian ke masa depan.”

Tiba-tiba seorang anak laki-laki berambut kusut berbisik pelan, “Tapi Bunda, aku nggak punya buku di rumah. Aku sering pinjam ke teman.”
Hening. Beberapa anak mengangguk, wajah mereka malu.

Bunda Ela terdiam sejenak, lalu berdiri. “Mulai hari ini, perpustakaan ini bukan milik desa saja. Ini milik kalian. Saya titipkan buku-buku baru ini. Bacalah, jagalah, lalu ceritakan kembali kepada teman-teman. Jadilah penjaga mimpi.”

Anak-anak bersorak, sebagian menepuk-nepuk buku baru yang dibagikan. Di sudut ruangan, seorang guru desa menghapus air mata tanpa suara.

Saat keluar, Bunda Ela menatap langit senja yang mulai merona. Dalam hati ia berbisik:
“Mimpi anak-anak ini sederhana, tapi lebih kuat dari apapun. Tugasku bukan memberi jawaban, melainkan menjaga agar mimpi itu tidak padam.”. (anonim).

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Desa Wisata yang Ditanam, Lalu Ditinggal Tumbuh Sendiri

Duamata.id - Saya tersenyum membaca pernyataan bahwa maju mundurnya desa wisata tergantung...

Pesta Dadung dan 1.000 Kentongan: Ketika Budaya Menjaga Alam di Kaki Gunung Ciremai

KUNINGAN - Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Cigugur kembali membuktikan bahwa...

DAMAR SEWU MENYALA, CIGUGUR MERAWAT CAHAYA PERADABAN

KUNINGAN – Saat senja perlahan menyerahkan langit Cigugur kepada malam, satu per...

Bunda Ela Helayati Panen Bawang Bersama Warga Desa Cilimus, Ajak Generasi Muda Jadi Petani Milenial Sukses

KUNINGAN – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan, Bunda Ela Helayati, turun...