Home Cerpen Jalan yang Sama, Mata yang Berbeda

Jalan yang Sama, Mata yang Berbeda

Share
Share

Duamata.id – Pagi itu, jalanan di sebuah desa di kaki Gunung Ciremai tampak lebih ramai dari biasanya. Mobil-mobil yang membawa para pejabat administrator berdatangan menuju lokasi pelantikan..

“Ini pelantikan paling dekat dengan alam,” bisik seorang pejabat sambil merapikan dasi.
“Biar kita menyatu dengan alam,” sahut yang lain, sambil berhenti sejenak karena sepatunya kemasukan kerikil.

Menuju lokasi pelantikan di Kebun Raya, rombongan kendaraan melambat. Bukan karena macet, tapi karena berpapasan dengan dumtruck bermuatan batu.

Debu mengepul, menempel di kaca mobil dinas. Beberapa pejabat menutup jendela, sebagian lain memalingkan wajah.

“Ini kenapa banyak truk ya?” gumam salah satu pejabat yang akan dilantik.

Padahal jalur itu bukan jalur baru. Sejak bertahun-tahun, batu diangkut, pasir digali.

Tapi pagi itu, semuanya terasa seperti pemandangan pertama, karena hari ini mereka resmi menyatu dengan alam, bukan sekadar melintasinya.

Sebelum sampai lokasi pelantikan, rombongan ASN yang akan diantik ini melewati sebuah jalur aspal berbatu.

Di kiri-kanan jalan, tampak bekas galian, tanah terkelupas, batu berserakan, dan pohon-pohon yang batangnya tinggal separuh cerita.

Sebagian memandang lurus ke depan, sebagian lagi pura-pura sibuk mengecek ponsel.

“Ah, nanti juga ditanami lagi,” kata seseorang ringan.
“Toh hari ini kita dilantik di tengah hijau,” tambahnya, yakin.

Di Kebun Raya, pelantikan berlangsung khidmat. Alam menjadi saksi. Angin mengibaskan daun, burung-burung bersiul seolah ikut mengamini sumpah jabatan.

Pesan-pesan pelantikan berbicara tentang meritokrasi, profesionalisme, dan jabatan sebagai amanah. Para pejabat mengangguk serempak, sebuah koreografi birokrasi yang sudah terlatih..

“Jabatan adalah jembatan,” kata suara dari mimbar.

Beberapa hari kemudian, jalur yang sama kembali dilalui rombongan. Bedanya, kali ini tanpa spanduk, tanpa kursi, tanpa pengeras suara.

Gubernur turun dari mobil, kaki telanjangnya menyentuh tanah yang sama, tanah yang dilewati para pejabat menuju pelantikan.

Ia berhenti. Menunduk. Menatap bekas galian.

“Ini di kaki gunung nambang batu?” katanya, setengah bertanya, setengah menampar kenyataan.

Tak ada yang bisa menjawab dengan pidato. Alam sudah lebih dulu berbicara lewat luka-lukanya.

Gubernur menunjuk lereng yang terkelupas. “Nanam pohon seremonial, habis itu ditinggal.”

Kalimat itu melayang cepat, mungkin sampai ke kursi-kursi pelantikan yang kini sudah dilipat rapi.

Ia lalu bicara tentang solusi, bukan laporan, bukan konsep, tapi manusia. Warga yang biasa menambang, diajak menanam. Digaji. Merawat. Menjaga. Sampai pohon tumbuh besar.

“Selama saya memimpin,” katanya, “bukan cuma sampai spanduk dicopot.”

Seandainya alam bisa berbicara, mungkin ia akan tersenyum getir. Akhirnya ada yang membaca teks aslinya, bukan sekadar banner.

Para ASN yang dilantik hari itu mungkin tak tahu bahwa jalur menuju jabatan mereka adalah jalur yang sama dengan jalur sidak.

Jalur yang mengajarkan bahwa menyatu dengan alam bukan soal lokasi upacara, tapi keberanian melihat kerusakan sebelum mengucap sumpah.

Gubernur datang diam-diam. Di titik yang sama, di jalur yang sama, kini suara berubah. Bukan sumpah jabatan, melainkan nada marah.

Kata-kata itu menggema lebih keras daripada pidato pelantikan. Kamera merekam. Media menyiarkan. Viral.

Dan ajaibnya, kesadaran pun tumbuh serempak.

“Wah, ternyata rusak ya,” kata seorang pejabat yang baru dilantik, sambil menatap layar ponsel.
“Padahal kemarin lewat situ,” sahut lainnya.
“Iya, tapi baru kelihatan sekarang.”

Alam yang sama. Jalan yang sama. Dumtruck yang sama.Bedanya, hari ini ada kamera dan gubernur.

Barulah istilah “kerusakan lingkungan” menjadi kalimat resmi. Barulah muncul diskusi, rapat, dan wacana pemulihan.

Bahkan ada yang berujar lirih, “Untung pelantikannya di alam, jadi dapat pelajaran langsung.”

Alam tersenyum getir, jika alam bisa tersenyum. Ia telah lama mengajar, hanya saja murid-muridnya baru mau mendengar setelah ujian viral digelar.

Di desa yang sama, alam akhirnya bicara.Bukan lewat pidato, tapi lewat sidak.

Di Desa tersebut, alam sudah lebih dulu melantik mereka semua, sebagai saksi, sebagai terdakwa, dan sebagai pengingat.

Bahwa jabatan boleh diangkat di tengah hijau, tetapi pengabdian diuji justru di tanah yang terluka.

Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Video MBG Viral di Pamekasan, BGN: Menu Sebenarnya Lengkap, Tapi Tidak Dikeluarkan dari Mobil

Jakarta — Video yang memperlihatkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di...

Hati-Hati! Ini Titik Macet Parah Mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

BANDUNG – Sejumlah jalur utama nontol di Jawa Barat diprediksi mengalami kemacetan...

Investasi Indramayu Meledak! Tembus Rp3,3 Triliun, Naik 121 Persen dalam Setahun

NDRAMAYU – Realisasi investasi di Kabupaten Indramayu mengalami lonjakan luar biasa sepanjang...

Di Istana Negara, Quraish Shihab Ingatkan: Al-Qur’an Mengajarkan Perdamaian, Tapi Tanpa Mengorbankan Keadilan

JAKARTA – Ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa pesan...