KUNINGAN — Gedung bersejarah Graha Wangi kembali berdenyut. Bukan sekadar bangunan cagar budaya, kini ia menjelma menjadi ruang hidup bagi ide, kreativitas, dan perjumpaan lintas generasi.
Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Kementerian Kebudayaan RI resmi meresmikan Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan (BEEK), Sabtu (7/2/2026).
Peresmian ini sekaligus menandai satu tahun perjalanan kreatif Yayasan Tulisan dan Gambar (TUDGAM), yang kini bertransformasi menjadi sebuah art collective compound, ruang bersama bagi seniman, budayawan, komunitas, hingga pelaku UMKM kreatif.
Hadir dalam momentum tersebut jajaran Kementerian Kebudayaan RI, perwakilan Bank Indonesia Cirebon, pimpinan OPD Kabupaten Kuningan, serta para seniman dan budayawan lokal.
Graha Wangi pun hari itu bukan hanya tempat seremoni, tetapi ruang dialog dan harapan.
Mewakili Bupati Kuningan, Wakil Bupati Tuti Andriani menegaskan bahwa Graha Wangi adalah warisan sejarah yang harus dijaga sekaligus dimanfaatkan secara bermakna.
“Cagar budaya tidak boleh berhenti sebagai simbol masa lalu. Ia harus hidup, memberi ruang ekspresi, dan menjadi penggerak literasi budaya serta ekonomi kreatif,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya soal jalan dan gedung, tetapi juga tentang membangun karakter, identitas, dan kebanggaan masyarakat melalui kebudayaan.
Senada, Sekretaris Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Judi Wahjudin, menyebut pemanfaatan cagar budaya sebagai ruang publik kreatif merupakan praktik baik yang patut direplikasi.
“Pelaku budaya butuh ruang. Ketika ruang itu hidup, kebudayaan akan memberi dampak sosial dan ekonomi. Kebudayaan adalah profesi, dan harus dihargai,” tegasnya.
Dalam sambutan tertulis Dirjen PPPK Kementerian Kebudayaan Ahmad Mahendra, ditegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.
Sepanjang 2025, puluhan aset budaya di berbagai daerah telah direvitalisasi, dan program ini akan terus diperluas.
BEEK sendiri menaungi berbagai inisiatif kreatif seperti Kuningan Biennale, Sekolah Baik, Adu Ide, hingga kolaborasi UMKM kreatif.
Kehadirannya diharapkan menjadi katalis lahirnya karya-karya baru sekaligus memperkuat identitas budaya Kuningan di tingkat nasional.
Lebih dari sekadar peresmian, BEEK menjadi simbol gotong royong, antara pemerintah, komunitas, dan pelaku seni dalam menjaga warisan, merawat ruang, dan menumbuhkan masa depan kebudayaan Kuningan
Leave a comment