Duamata.id – Di Kampung Angin Sore, ada sebuah perusahaan jamu yang mengklaim produknya ampuh menangkal masuk angin.
Masalahnya, warga kampung tidak pernah benar-benar percaya.
“Mana buktinya?” tanya seorang bapak di warung kopi.
Direktur perusahaan pun menggelar rapat darurat.
“Kita harus membuat masyarakat yakin. Caranya… kita adakan Demo Masuk Angin!”
Semua pegawai bertepuk tangan.
“Demo bagaimana, Pak?”
“Ya, kita demonstrasikan masuk angin. Biar nanti produk kita tampil sebagai penyelamat.”
Hari yang ditunggu tiba.
Ratusan orang berkumpul membawa spanduk.
“Tolak Badan Meriang!”
“Usir Angin dari Dada!”
“Perut Kembung Adalah Penjajahan!”
Orator naik ke atas mobil bak terbuka.
“Saudara-saudara! Hari ini kita akan membuktikan bahwa masuk angin itu nyata!”
Massa bersorak.
“Lanjutkan!”
Satu per satu peserta diminta berdiri di depan kipas angin raksasa.
Ada yang disuruh kehujanan.
Ada yang dipaksa minum es tiga gelas.
Ada yang tidur di teras tanpa selimut.
Setelah tiga jam…
Tak seorang pun masuk angin.
Panitia panik.
“Kalau begini produknya nanti tidak laku.”
Akhirnya diputuskan aksi jilid dua.
Peserta diwajibkan begadang dua malam, makan mi instan lima bungkus, lalu naik motor keliling kampung tanpa jaket.
Barulah beberapa mulai bersendawa.
Seorang panitia berteriak penuh harapan.
“Itu… itu gejala!”
Tim dokumentasi langsung mengambil gambar dari segala sudut.
Belum sempat orang itu bicara, seorang ibu menghampiri sambil membawa minyak kayu putih.
“Nih, dioles saja.”
Lima menit kemudian sembuh.
Panitia kembali kecewa.
Direktur mulai frustrasi.
“Kita butuh masuk angin yang lebih dramatis!”
Akhirnya mereka mengundang konsultan demonstrasi.
Sang konsultan datang membawa proposal setebal kamus.
“Kalau ingin dipercaya, jangan fokus pada hasil.”
“Lalu?”
“Fokus pada demonya.”
“Semakin banyak peserta, semakin keras pengeras suara, semakin panjang spanduk, semakin sering konferensi pers… orang akan mengira ada sesuatu yang sangat besar sedang diperjuangkan.”
“Tapi kalau tidak ada yang benar-benar masuk angin?”
“Itu urusan belakangan.”
Maka demo digelar setiap minggu.
Tema berganti-ganti.
Aksi Nasional Melawan Sendawa.
Aliansi Peduli Perut Kembung.
Koalisi Bersatu Anti Meriang.
Poster dicetak ribuan.
Pengeras suara disewa paling besar.
Live streaming jalan terus.
Yang aneh, semakin lama, peserta tidak lagi tahu sedang membela apa.
“Ini demo apa?”
“Kurang tahu.”
“Yang penting hadir.”
“Katanya ada nasi kotak.”
Yang lain menjawab, “Saya ikut karena teman kantor ikut.”
Beberapa bahkan sibuk berswafoto di depan spanduk.
Orator berteriak berapi-api.
Massa bertepuk tangan.
Media datang.
Konten viral.
Namun sampai matahari terbenam…
Tak ada seorang pun yang benar-benar masuk angin.
Tak ada pula yang membeli obatnya.
Warga hanya pulang sambil bertanya,
“Jadi… tadi kita sedang mendemonstrasikan apa?”
Sejak itu, Kampung Angin Sore mendapat pelajaran baru.
Ternyata tidak semua demo lahir karena masalah besar.
Ada pula yang sekadar mencari panggung, mengisi linimasa, atau menjaga agar pengeras suara tidak berdebu.
Sebab di zaman itu, yang paling mudah digelar bukanlah penyelesaian.
Melainkan demonstrasi.
Dan yang paling sering hilang bukanlah angin.
Melainkan arah.
Hanya Cerpen oleh Mang Duta



Leave a comment