Duamata.id Pagi itu jalan menuju Cisantana masih agak lengang. Kabut tipis turun dari arah gunung, dan beberapa pedagang jagung bakar mulai membuka lapaknya.
Di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan, tiga orang duduk santai: Mang Ujang, sopir angkot yang hari itu lagi sepi penumpang; Jajang, mahasiswa semester tua yang skripsinya sudah lebih tua dari motornya; dan Bu Eha, pemilik warung yang selalu tahu kabar sebelum wartawan tahu.
Di seberang jalan, para pekerja terlihat sibuk membangun sesuatu yang tinggi. Rangkanya sudah kelihatan seperti… angklung raksasa.
Mang Ujang menyeruput kopi.
“Eta naon deui, Jang?” tanyanya.
Jajang melirik ke arah proyek.
“Oh itu, Mang. Katanya mau jadi Tugu Angklung. Ikon budaya baru.”
Mang Ujang mengangguk pelan.
“Bagus sih. Angklung kan budaya kita.”
Bu Eha yang sejak tadi mengipas gorengan ikut nimbrung.
“Iya bagus. Tapi kalau tugu doang mah angklungnya tetap nggak bunyi.”
Mereka tertawa kecil.
Di kejauhan, beberapa pejabat datang meninjau proyek. Ada yang pakai helm proyek, ada yang pakai sepatu mengkilap yang jelas tidak pernah menginjak tanah.
Jajang menatap ke sana.
“Katanya nanti jadi simbol budaya Kuningan.”
Mang Ujang mengangguk lagi.
“Simbol sih gampang, Jang. Yang susah itu… bikin orang masih ingat cara mainnya.”
Bu Eha menyodorkan pisang goreng.
“Sekarang anak-anak mah kalau dengar kata angklung, mikirnya bukan alat musik.”
“Terus apa?” tanya Mang Ujang.
“Nama gang WiFi.”
Mereka tertawa lagi.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di dekat proyek. Orang-orang berdiri, ada yang foto-foto, ada yang menunjuk-nunjuk ke arah bangunan.
Mang Ujang memperhatikan dengan wajah serius.
“Kalau sudah jadi, kira-kira orang berhenti nggak di sini?”
Jajang berpikir.
“Mungkin berhenti buat selfie.”
“Bukan buat main angklung?” tanya Mang Ujang.
“Selfie dulu. Budaya nanti.”
Bu Eha tertawa sampai hampir menjatuhkan sendok.
Di sela-sela suara palu dari para pekerja, kabut mulai naik perlahan dari arah Gunung Ciremai.
Gunung itu berdiri tenang seperti biasa, tidak terlalu peduli pada tugu baru yang sedang dibangun di bawahnya.
Mang Ujang menatap gunung sebentar.
“Dulu mah,” katanya pelan, “orang main angklung di sawah, di pesta kampung, di sekolah. Sekarang… mungkin nanti di depan tugu.”
Jajang mengangguk.
“Minimal orang tahu dulu bentuknya.”
Bu Eha menambahkan sambil menuang kopi lagi.
“Yang penting jangan sampai nanti ada anak kecil lewat sini terus nanya…”
“Mang, itu apa?”
Mang Ujang menatap tugu yang belum selesai.
“Terus kita jawab apa?”
Jajang mengangkat bahu.
“Mungkin kita bilang…”
“Itu, Nak… alat musik yang sekarang lebih sering dijadikan monumen daripada dimainkan.”
Warung kopi kembali sunyi sebentar.
Lalu mereka bertiga tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena kalimat itu terdengar terlalu masuk akal.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment