Duamata.id – Setiap musim hujan ada genangan. Setiap musim kemarau ada kekeringan. Dan setiap musim penerimaan siswa baru, ada satu tradisi yang selalu tumbuh subur: titipan.
Aneh memang. Di negeri yang katanya sedang membangun karakter, justru karakter sering kali ditinggalkan di gerbang sekolah.
Warung kopi ramai bukan membahas kurikulum atau kualitas guru. Yang dibahas justru nama-nama orang yang bisa “membantu”.
“Ada kenalan di sana?”

“Bisa nitip enggak?”
“Kalau lewat jalur khusus berapa?”
Pertanyaan itu beredar lebih cepat daripada informasi resmi dari sekolah.
Seorang ayah yang sehari-hari mengajarkan anaknya agar jujur, tiba-tiba berubah menjadi makelar nasib. Ia mendatangi sana-sini. Menelpon pejabat. Menemui tokoh masyarakat. Bahkan menyiapkan amplop yang katanya sekadar tanda terima kasih.
Padahal anaknya baru saja lulus SMP.
Belum masuk sekolah baru, tapi sudah diajari satu pelajaran penting:
“Kalau ada jalan belakang, kenapa harus lewat pintu depan?”
Ironis.
Kita sering menyalahkan koruptor. Mengutuk pejabat yang menerima suap. Mengeluh tentang negeri yang penuh kolusi.
Namun ketika anak sendiri hendak masuk sekolah favorit, sebagian dari kita berubah menjadi murid teladan dalam mata pelajaran yang sama.
Bedanya hanya nominal.
Di sebuah ruang tamu, seorang ibu tampak cemas.
“Pokoknya harus masuk sekolah itu. Apa pun caranya.”
Apa pun caranya.
Kalimat yang terdengar sederhana, tetapi sering menjadi awal dari banyak kerusakan.
Sebab setelah “apa pun caranya” diterima, maka kejujuran menjadi pilihan. Integritas menjadi hiasan pidato. Dan moral hanya menjadi tulisan besar di dinding sekolah.
Lucunya, sekolah yang diburu mati-matian itu biasanya memiliki slogan megah.
“Mencetak generasi berkarakter.”
Kalimat itu terpampang besar di gerbang.
Sementara di luar gerbang, orang tua sedang sibuk mencari jalur tikus.
Mungkin anak-anak sebenarnya sedang belajar.
Bukan belajar matematika.
Bukan belajar fisika.
Tetapi belajar dari orang tuanya.
Belajar bahwa aturan bisa dinegosiasikan.
Belajar bahwa uang dapat mempercepat proses.
Belajar bahwa kedekatan lebih penting daripada kemampuan.
Belajar bahwa moral ternyata memiliki harga.
Lalu beberapa tahun kemudian kita heran.
Mengapa anak-anak tumbuh menjadi generasi yang suka menerobos antrean.
Mengapa mereka mudah mencontek.
Mengapa mereka terbiasa mencari jalan pintas.
Mengapa mereka menganggap koneksi lebih penting daripada kompetensi.
Padahal benihnya mungkin sudah ditanam sejak hari pertama mereka masuk sekolah.
Dengan sebuah titipan.
Dengan sebuah amplop.
Dengan sebuah telepon dari orang penting.
Yang lebih menyedihkan, semua itu dilakukan atas nama kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang salah kadang lebih berbahaya daripada kebencian.
Kita ingin anak masuk sekolah terbaik.
Itu wajar.
Tetapi bukankah lebih penting memastikan mereka masuk dengan cara terbaik?
Karena sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu.
Sekolah juga mengajarkan nilai.
Dan nilai pertama yang dibawa seorang anak ke dalam kelas bukan berasal dari guru.
Melainkan dari rumah.
Dari ayah yang memilih jalan jujur.
Dari ibu yang berani menerima kenyataan.
Dari orang tua yang mengajarkan bahwa gagal dengan terhormat lebih mulia daripada berhasil dengan cara curang.
Sebab jika gerbang sekolah dibuka dengan suap, titipan, dan kolusi, maka jangan heran bila suatu hari kita melahirkan generasi yang pandai berhitung, tetapi miskin hati.
Generasi yang hafal Pancasila, tetapi lupa maknanya.
Generasi yang cerdas mengejar nilai, namun gagap membedakan benar dan salah.
Dan saat itu terjadi, mungkin masalahnya bukan pada sekolah yang menerima mereka.
Melainkan pada orang dewasa yang sejak awal mengantar mereka ke sana.
Dengan membawa tas berisi harapan.
Dan amplop berisi kehancuran moral yang dibungkus rapi dengan alasan: demi masa depan anak.
Hanya Cerpen oleh Mang Duta


Leave a comment