Duamata.id – Di sebuah kota kecil yang warganya lebih takut tagihan daripada hal lainnya, hiduplah seorang pegawai bernama Darsa. Jabatan resminya staf administrasi, jabatan tidak resminya: ahli menyesuaikan kenyataan.
Setiap akhir bulan, Darsa selalu menerima slip gaji dari kantornya. Kertas tipis itu tampak biasa saja. Tapi di tangan Darsa, slip gaji bukan sekadar bukti penghasilan. Ia adalah makhluk lentur. Bisa melar seperti karet, bisa mengecil seperti celana habis dicuci.
Suatu hari, Darsa datang ke bank.
Ia mengenakan kemeja paling rapi, sepatu paling mengilap, dan parfum yang aromanya seperti orang baru cair THR.

“Bapak mau mengajukan pinjaman berapa?” tanya petugas bank sambil tersenyum profesional.
“Dua ratus juta saja, Bu. Buat renovasi rumah.”
Padahal rumahnya baru dicat tiga bulan lalu dan renovasi terbesar yang dilakukan hanyalah mengganti foto presiden di ruang tamu.
“Slip gajinya ada?”
Darsa tersenyum kecil. Ia membuka map merah dengan khidmat seperti membuka kitab suci. Di dalamnya ada slip gaji dengan angka yang gagah perkasa.
Gaji pokok: Rp12.500.000
Tunjangan: Rp7.000.000
Insentif: Rp4.500.000
Total penghasilan: cukup untuk membuat petugas bank memanggilnya “Bapak” dengan penuh hormat.
Padahal di kantor, Darsa sering patungan galon dan pernah berutang lima ribu di warung selama dua minggu.
Petugas bank mengangguk kagum.
“Wah, penghasilan Bapak besar juga ya.”
Darsa merendah.
“Ah biasa saja, Bu. Kadang malah habis sebelum tanggal muda.”
Kalimat yang selalu diucapkan orang-orang yang cicilannya lebih banyak daripada isi kulkas.
Dua minggu kemudian, pinjaman disetujui. Darsa pulang dengan wajah berseri-seri seperti calon pejabat habis survei elektabilitas.
Namun kehidupan tidak pernah berhenti memberi kebutuhan baru.
Anaknya, Riko, diterima di universitas negeri ternama lewat penerimaan mahasiswa baru jalur SNBT. Biaya kuliahnya membuat jantung Darsa berdetak seperti melihat saldo ATM tanggal tua.
“Tenang,” kata Darsa kepada istrinya. “Masih ada jalur keringanan UKT.”
“Memangnya bisa?”
Darsa tersenyum bijak. Senyum orang yang percaya semua masalah administrasi bisa diatur lewat fotokopi dan stempel.
Besoknya ia kembali membuka map merah itu. Tapi kali ini isi slip gajinya berubah drastis.
Gaji pokok: Rp1.850.000
Tunjangan: Rp250.000
Insentif: tidak ada
Keterangan tambahan: pegawai honorer kontrak tidak tetap.
Slip gaji itu tampak begitu miskin sampai kalau dilipat pun terdengar sedih.
Petugas kampus memandang iba.
“Bapak penghasilannya kecil sekali…”
Darsa menghela napas panjang. Napas seorang aktor FTV yang baru divonis hidup susah.
“Iya, Bu. Kadang buat makan saja pas-pasan.”
Padahal semalam ia baru setor DP motor baru hasil pinjaman bank.
Anaknya yang duduk di samping hanya menunduk. Bukan malu. Tapi bingung. Ayahnya ini sebenarnya kaya atau miskin.
Petugas kampus pun luluh.
“Nanti kami usulkan keringanan UKT ya, Pak.”
“Alhamdulillah…” kata Darsa lirih sambil menahan haru palsu.
Di perjalanan pulang, istrinya bertanya pelan.
“Pak… sebenarnya penghasilan kita berapa sih?”
Darsa diam sebentar.
Lalu menjawab dengan tenang:
“Tergantung lagi butuh apa.”
Sejak saat itu, slip gaji tak lagi dianggap dokumen. Ia sudah naik derajat menjadi alat survival nasional.
Kalau ke bank, penghasilan naik seperti harga cabai menjelang lebaran.
Kalau mengurus bantuan, mendadak turun seperti janji politik setelah pemilu.
Dan negeri ini, entah kenapa, selalu memberi ruang bagi angka-angka untuk lebih jujur kepada kebutuhan daripada kepada kenyataan.
Cerpen oleh Mang Duta


Leave a comment