Home Cerpen Tempat yang Tak Pernah Menghakimi

Tempat yang Tak Pernah Menghakimi

Share
Share

Duamata.id – Menjadi bagian dari dinamika pekerjaan pemerintahan ternyata tidak sesederhana yang dilihat orang-orang.

Namaku Diraya.

Setiap hari aku bertemu banyak wajah. Mendengar harapan, keluhan, kritik, bahkan kadang kemarahan.

Ada keputusan yang harus diambil cepat, ada amanah yang tak boleh salah arah, ada tekanan yang sering datang bersamaan tanpa sempat memberi jeda.

Orang-orang melihatku berdiri tegak.
Padahal ada hari ketika hati ini juga ingin beristirahat.

Ada malam ketika pikiran terasa penuh.

Tentang pekerjaan.
Tentang tanggung jawab.
Tentang bagaimana caranya tetap menjadi manusia yang baik di tengah dunia yang semakin gaduh.

Dan saat semuanya terasa sesak, aku selalu datang ke tempat ini.
Ke makam bapak dan ibu.

Tempat paling sunyi, tapi justru paling mampu menenangkan diriku.

Pagi ini aku duduk jongkok di dekat pusara mereka. Menyiram bunga-bunga kecil yang tumbuh rapi di atas tanah merah.

Air mengalir perlahan, membasahi tanah yang menyimpan dua orang paling berjasa dalam hidupku.

Tak ada percakapan.
Tak ada suara manusia.
Hanya desir angin dan daun pisang yang bergerak pelan.

Namun di tempat inilah aku sering berbicara dalam hati.

“Pak… Bu… Diraya datang lagi.”

Mataku menatap nisan itu cukup lama. Lalu pelan-pelan aku mengangkat tangan, memanjatkan doa yang tak pernah absen setiap kali datang.

Aku mendoakan agar Allah melapangkan kubur mereka. Menghapus segala khilaf semasa hidupnya. Menempatkan bapak dan ibu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan di setiap doa itu, selalu ada rasa bersalah yang diam-diam ikut tumbuh.

Karena semakin dewasa aku baru sadar… kasih sayang orangtua ternyata terlalu besar untuk bisa dibalas sepenuhnya.

Dulu, waktu bapak masih ada, beliau sering menasihatiku tentang hidup.

“Kalau nanti dipercaya orang, jangan sombong.”
“Jangan menyakiti orang kecil.”
“Kalau bisa membantu, bantulah.”

Sedangkan ibu selalu mengajarkan hal-hal sederhana yang kini justru terasa paling mahal.

Tentang sabar.
Tentang ikhlas.
Tentang menjaga hati meski dunia sering melukai.

Dulu mungkin aku mendengarnya biasa saja.
Sekarang, setelah mereka tiada, setiap petuah itu seperti suara yang terus hidup di kepalaku.

Dan di depan makam inilah aku sering berjanji pada mereka.

Bahwa aku akan berusaha menjaga semua nasihat itu.
Bahwa aku tidak ingin hidup hanya mengejar jabatan dan penghormatan, tapi lupa menjadi manusia yang baik.
Bahwa aku ingin tetap rendah hati seperti yang bapak ajarkan.

Tetap lembut kepada orang lain seperti yang ibu contohkan.

Aku sadar, mungkin inilah cara seorang anak meneruskan cinta orangtuanya: mempraktikkan semua kebaikan yang dulu mereka tanamkan.

Matahari mulai meninggi. Cahaya matahari jatuh pelan di atas bunga-bunga kecil yang mulai bergoyang diterpa angin.

Aku menarik napas panjang.
Lalu kembali berbisik pelan,

“Pak… Bu… kalau Diraya masih sering salah, maafkan ya. Tapi Diraya janji akan terus berusaha menjadi anak yang kalian banggakan. Doakan Diraya tetap kuat menjaga semua petuah yang dulu kalian titipkan.”

Tak ada jawaban.

Namun entah kenapa, di tempat itu hatiku selalu terasa lebih tenang.
Seolah doa-doa itu benar-benar sampai.
Dan seolah bapak serta ibu masih memelukku dari kejauhan.

Diraya, 08 Mei 2026

Cerpen oleh ; Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Pemkab Kuningan Gandeng Swasta Kelola Lapang Randu, Disiapkan Jadi Kawasan Publik Terintegrasi

KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama...

Kuliah Umum KPK di UNIKU: Bangun Generasi Berintegritas Menuju Indonesia Emas 2045

KUNINGAN — Semangat membangun budaya integritas dan pendidikan antikorupsi terus digaungkan di...

Raker I KORPRI Kuningan 2026: Perkuat Soliditas ASN dan Dorong Organisasi Lebih Modern

KUNINGAN – Dewan Pengurus (DP) KORPRI Kabupaten Kuningan menggelar Rapat Kerja (Raker)...

KDMP Kaduagung Disebut Bukan di Lahan LP2B, PPL dan UPTD Pertanian Berikan Klarifikasi

KUNINGAN — Polemik terkait pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa...