Duamata.id – Di ujung samudra, tempat langit seolah menyentuh ombak, seekor elang setiap hari melayang bebas. Dari ketinggian, ia melihat hiu berenang begitu cepat membelah lautan.
“Andaikan saja aku bisa berenang,” gumam sang elang. “Tak perlu repot mencari mangsa dari udara.”
Di bawah permukaan laut, hiu juga sering mendongak ke langit. Ia iri melihat elang menari di antara awan.
“Andaikan saja aku bisa terbang,” desah hiu. “Aku bisa melihat dunia lebih luas.”

Hari demi hari, keduanya sibuk menghitung kelebihan milik orang lain, hingga lupa mensyukuri anugerah yang mereka punya.
Suatu malam, ombak membawa seekor penyu tua ke pantai. Penyu itu mendengar keluhan mereka.
Ia tersenyum lalu berkata, “Elang, jika kau hidup di laut, sayapmu akan menjadi beban. Hiu, jika kau hidup di langit, insangmu tak akan bisa menyelamatkanmu.”
Keduanya terdiam.
Penyu melanjutkan, “Masalahmu bukan karena kurang kemampuan. Masalahmu karena kau sibuk menginginkan kehidupan yang memang bukan untukmu.”
Esok paginya badai besar datang.
Elang terbang tinggi menghindari gelombang raksasa. Hiu menyelam dalam hingga badai berlalu. Mereka sama-sama selamat, bukan karena memiliki kemampuan yang sama, melainkan karena menggunakan kelebihan yang sudah diberikan kepada mereka.
Sejak hari itu, elang tak lagi iri melihat lautan. Hiu pun tak lagi memimpikan langit.
Mereka akhirnya mengerti bahwa kebahagiaan bukan dimulai saat kita memiliki hidup orang lain, tetapi saat kita mampu memaksimalkan hidup yang sudah menjadi milik kita.
Pesan:
Perbandingan memang bisa mencuri kebahagiaan. Tetapi rasa syukur dan usaha akan selalu mengembalikannya. Jangan habiskan waktu menginginkan sayap orang lain, sampai lupa bahwa siripmu sendiri bisa membawamu mencapai tujuan.
Cerpen oleh Mang Duta


Leave a comment