Duamata.id – Pagi itu antrean di toko emas mengular sampai ke trotoar. Wajah-wajah yang berdiri di sana sama-sama tenang, tetapi isi kepalanya mungkin sedang berperang.
Seorang ayah berdiri di tengah kerumunan.
Ia memperhatikan orang-orang yang keluar masuk toko. Ada yang menggenggam kantong belanja kecil berlogo toko emas. Ada pula yang keluar hanya membawa amplop putih dan tatapan kosong.
Entah mereka sedang membeli.

Entah mereka sedang menjual.
Ia tidak ingin menebak.
Toh, hidup sudah cukup sibuk menghakimi orang. Untuk apa ia ikut menambah pekerjaan itu?
Yang membuatnya justru berpikir adalah satu pertanyaan sederhana.
“Kalau antrean sepanjang ini, sebenarnya ekonomi kita sedang baik atau sedang sesak napas?”
Kalau banyak yang membeli, mungkin orang-orang sedang punya uang.
Kalau banyak yang menjual, mungkin uang sedang meninggalkan terlalu banyak rumah.
Sulit dibedakan.
Sebab senyum orang yang membeli emas kadang sama tipisnya dengan senyum orang yang baru menjual cincin kawinnya.
Nomor antreannya dipanggil.
Ia melangkah masuk.
Kasir mengenal wajahnya.
“Pak… beli lagi?”
“Iya.”
Beberapa menit kemudian ia mengeluarkan ponselnya. Bukan dompet. Bukan uang tunai.
Ia membuka aplikasi paylater.
Cicilan enam bulan.
Disetujui dalam hitungan detik.
Teknologi memang luar biasa. Memberi utang jauh lebih cepat daripada memberi pekerjaan.
Emas itu berpindah ke tangannya.
Belum sempat terasa beratnya.
Ia kembali mengambil nomor antrean.
Kali ini di loket sebelah.
“Pak… mau jual?”
“Iya.”
Kasir menatapnya sebentar. Tatapan yang seolah bertanya, “Bukankah tadi baru beli?”
Ia pura-pura sibuk merapikan struk.
Tak lama kemudian emas itu berpindah tangan lagi.
Nilainya berkurang.
Beberapa ratus ribu rupiah hilang begitu saja.
Harga dari kebutuhan yang tidak bisa menunggu.
Sebagai gantinya, ia menerima uang tunai.
Bukan untung.
Hanya napas tambahan agar hidupnya bisa bertahan sampai akhir bulan.
Ia tahu dirinya rugi.
Ia juga tahu pelayan toko pasti paham apa yang sedang dilakukannya.
Mungkin mereka sudah melihat adegan yang sama puluhan kali hari ini.
Tak ada yang menertawakan.
Karena orang-orang yang bekerja di balik etalase emas mungkin lebih sering menyaksikan kemiskinan daripada kemewahan.
Di luar, orang-orang sering berkata, “Kalau susah, pinjam saja ke saudara.”
Lucunya, nasihat itu biasanya datang dari orang yang teleponnya juga tak pernah diangkat ketika kita benar-benar menelepon.
Katanya banyak teman.
Banyak keluarga.
Banyak relasi.
Namun saat kebutuhan datang lebih cepat daripada gaji, yang paling cepat menjawab justru aplikasi pinjaman.
Bukan manusia.
Ia memasukkan uang tunai ke dompet.
Dompet itu kini berisi uang hasil menjual emas yang bahkan belum sempat menjadi miliknya.
Langkahnya terasa ringan.
Hatinya tidak.
Di perjalanan pulang, ia melihat papan reklame besar bertuliskan, “Hidup Lebih Mudah dengan Limit Besar.”
Ia tersenyum kecil.
Negeri ini memang lucu.
Utang dibuat semudah satu sentuhan jari.
Sementara meminta pertolongan kepada sesama manusia kini harus melalui proses seleksi yang jauh lebih rumit.
Sore itu ia membeli beras, susu anak, dan obat untuk istrinya.
Tak ada emas yang dibawa pulang.
Yang ada hanyalah waktu.
Waktu beberapa hari lagi sebelum tagihan paylater mulai berbunyi.
Ia sadar sedang menggali lubang untuk menutup lubang.
Tetapi bagi orang yang rumahnya sudah kebanjiran, kadang yang paling penting bukan membangun bendungan.
Melainkan bertahan agar esok masih ada rumah yang bisa diselamatkan.
Dan mungkin, di situlah satir terbesar kehidupan hari ini.
Di negeri yang katanya kaya, begitu banyak orang rela kehilangan uang demi mendapatkan uang.
Bukan karena bodoh.
Melainkan karena mereka sudah kehabisan pilihan.
Cerpen oleh Mang Duta


Leave a comment