Duamata.id – Namaku Dian Rachmat Yanuar.
Banyak orang mengenalku hari ini sebagai Bupati Kuningan. Tapi setiap kali mobil dinas berhenti di depan rumah tua itu, semua jabatan seakan luruh. Yang tersisa hanyalah seorang anak yang pulang dengan rindu.
Ramadan kali ini berbeda. Ini puasa pertama tanpa Ayah. Begitu gerbang rumah kubuka, aroma kayu tua dan tanah halaman yang lembap menyambutku.
Sunyi. Tak ada lagi suara batuk kecil Ayah saat beliau duduk di kursi favoritnya di beranda.
Biasanya pagi hari, Ayah akan berjemur di sana. Menikmati hangat matahari Kuningan sambil memejamkan mata, seolah sedang menghitung syukur.
Kini kursi itu kosong.
Aku berdiri lama di depannya. Tanganku menyentuh sandaran kayu yang mulai halus dimakan usia.
Di kursi itulah Ayah biasa memanggilku, bukan sebagai bupati, tapi sebagai “Dian” anaknya, yang selalu membuatku merasa pulang.
“Jabatan itu titipan, jangan pernah lebih tinggi dari hati nuranimu.”
Kalimat itu masih terngiang.
Aku melangkah ke halaman samping. Dulu, di sudut itu, Mamah merawat anggrek-anggrek kesayangannya.
Beliau bukan hanya seorang guru di sekolah, tapi juga guru kesabaran di rumah ini.
Tangannya telaten, membersihkan daun, menyiram dengan takaran pas, berbicara pada bunga-bunga seakan mereka anak-anaknya sendiri.
“Kalau mau sesuatu tumbuh indah, rawat dengan cinta,” kata Mamah suatu sore.
Kini pot-pot itu masih ada. Beberapa anggrek masih berbunga, entah bagaimana caranya. Mungkin cinta memang tak pernah benar-benar mati.
Ingatanku melompat pada momen buka puasa bersama. Meja makan sederhana itu dulu terasa penuh, bukan hanya oleh makanan, tapi oleh tawa dan doa.
Ayah selalu duduk di kursi ujung. Saat Lebaran tiba, menu kesukaan beliau tak pernah berubah, kepala kambing.
Sementara Mamah setia dengan kornet buatannya, resep turun-temurun yang rasanya tak pernah bisa kutemukan lagi di mana pun.
Aku berdiri di ruang makan itu sendirian. Membayangkan suara sendok beradu, canda ringan, dan doa panjang Ayah sebelum menyuap makanan pertama.
Air mataku jatuh tanpa aba-aba.
Di rumah inilah aku ditempa. Dari seorang anak guru yang pernah berjualan es untuk membantu orang tua, hingga hari ini dipercaya memimpin daerah kelahiran sendiri.
Aku masih ingat panasnya jalan saat mengantarkan termos es untuk dititipkan ke warung-warung, rasa malu yang kadang datang saat teman-teman melihat.
Tapi Ayah tak pernah membiarkanku merasa kecil.
“Kerja keras bukan untuk dipamerkan, tapi untuk membangun harga diri,” katanya.
Hari ini, setiap keputusan yang kuambil sebagai pemimpin, selalu kuukur dengan pertanyaan sederhana, apakah Ayah dan Mamah akan bangga?
Rumah ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi bisu perjuangan dua guru sederhana yang melahirkan mimpi besar dalam diri anaknya.
Dari sinilah aku belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang kuasa, tapi tentang pengabdian. Bukan tentang tepuk tangan, tapi tentang ketulusan.
Sebelum pulang, aku kembali ke beranda. Duduk di kursi Ayah. Memandang langit senja yang mulai berubah jingga.
Untuk pertama kalinya, aku mencoba mengisi kekosongan itu. Bukan untuk menggantikan belia, karena tak akan pernah bisa, tetapi untuk meneruskan nilai-nilai yang beliau wariskan.
“Yah, Mah… terima kasih,” bisikku pelan.
Jika hari ini aku kuat berdiri, itu karena doa yang tak pernah putus dari kalian. Jika aku mampu memimpin, itu karena teladan yang kalian hidupkan.
Dan jika rindu ini terasa begitu dalam, itu karena cinta kalian begitu luas.
Azan magrib berkumandang dari kejauhan. Aku menengadahkan tangan.
Al-Fatihah untuk Ayah dan Mamah.
Semoga setiap langkah pengabdianku di Kuningan menjadi amal jariyah untuk kalian.
Dan kursi kosong di beranda itu… akan selalu menjadi pengingat bahwa sebelum aku menjadi bupati, aku adalah seorang anak.
Cerpen by Mang Duta
Leave a comment