Duamata.id – Di tanah Sunda, kita mengenal satu alat perkakas bernama balincong. Dalam daftar senjata tradisional , ia sering disebut setelah kujang. Tapi sejatinya, balincong bukan untuk berperang. Ia alat pekerja keras, menggali tanah, memecah batu, membuka jalan.
Balincong itu unik. Dua matanya berlawanan arah. Satu searah gagang, satu lagi tegak lurus. Filosofis sekali. Satu mata menggali ke bawah, satu lagi seperti mengingatkan: hati-hati, yang di atas juga bisa kena imbasnya.
Sayangnya, di zaman proyek kabel optik dan utilitas modern, balincong seperti naik pangkat. Ia bukan lagi sekadar alat tukang, tapi simbol pembangunan yang datang diam-diam, pergi meninggalkan kenangan, berupa trotoar retak, tanah merah berceceran, dan lubang menganga di depan rumah warga.
Beberapa waktu lalu, bahkan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi sempat murka karena trotoar yang sudah dibangun rapi kembali rusak oleh proyek galian.
Trotoar yang tadinya estetik, instagramable, mendadak berubah jadi jalur ninja: lompat sana, lompat sini, hindari pasir dan kabel.
Setiap ada papan bertuliskan:
“Awas Ada Proyek Galian.”
Kalimatnya tegas. Penuh wibawa. Seolah berkata: ini demi kepentingan umum. Harap maklum.
Tapi tak pernah ada tulisan:
“Maaf Warung Anda Jadi Sepi.”
“Maaf Debu Masuk ke Etalase.”
“Maaf Pelanggan Putar Balik Karena Becek.”
Padahal yang paling dulu merasakan tajamnya balincong bukan tanah. Tapi pedagang kecil. Warung nasi yang mendadak tak terlihat karena tertutup seng proyek.
Toko bangunan yang justru tak bisa dilewati truknya sendiri. Rumah warga yang tiap sore harus menyiram lumpur demi bisa masuk garasi.
Lucunya lagi, setiap proyek galian selalu merasa suci. Membawa misi kemajuan. Internet cepat, jaringan stabil, masa depan digital.
Dan memang benar, itu penting. Tapi mengapa selalu terasa seperti ada dua mata balincong yang bekerja?
Satu mata menggali tanah untuk kepentingan publik.
Satu mata lagi tanpa sadar menggores rasa sabar publik.
Yang lebih satir, proyek galian sering muncul seperti musim. Trotoar baru seumur jagung? Gali. Aspal mulus baru di-hotmix? Gali. Saluran air sudah ditutup rapi? Gali lagi.
Seolah-olah perencanaan infrastruktur itu permainan bongkar-pasang. Seperti anak kecil yang belum selesai menyusun lego tapi sudah ingin membongkarnya kembali.
Dan setelah proyek selesai?
Lubang ditutup, tapi tak pernah benar-benar sama. Tambalannya beda warna. Permukaannya sedikit turun. Saat hujan, genangan kecil jadi saksi bahwa balincong pernah singgah di sana.
Mungkin sudah saatnya kita belajar dari filosofi balincong itu sendiri. Dua mata, dua arah. Kalau satu mata fokus pada pembangunan, mata yang lain seharusnya menghadap pada empati.
Karena pembangunan tanpa empati itu seperti menggali tanpa mengukur. Dalam-dalam, tapi tak tahu siapa yang jatuh ke dalamnya.
Toh, masyarakat tak pernah menolak kemajuan. Mereka hanya ingin satu hal sederhana, bukan cuma diberi papan “awas”, tapi juga dihargai dengan kata “maaf”.
Sebab di balik setiap lubang proyek, ada cerita kecil yang tak pernah masuk laporan, omzet yang turun, sepatu anak yang kotor sebelum berangkat sekolah, dan ibu-ibu yang menggerutu sambil menyapu lumpur.
Dan di situ, balincong bukan lagi sekadar alat. Ia menjadi metafora. Tentang bagaimana pembangunan kadang lebih tajam ke bawah daripada peka ke sekitar.
Catatan Mang Duta
Leave a comment