Setiap tanggal 25 November, halaman sekolah itu tiba-tiba berubah seperti panggung pesta. Balon warna-warni digantung, banner besar bertulis “SELAMAT HARI GURU NASIONAL” dibentangkan, dan panggung disusun rapi, lebih rapi daripada administrasi dapur sekolah.
Para guru honorer menyambutnya dengan senyum… yang kalau difoto terlihat bahagia, tapi kalau diperbesar bisa terlihat kantung mata akibat kerja rangkap.
Bu Rini berdiri di samping Pak Seno, keduanya memakai seragam batik kebanggaan. Bukan karena bangga batiknya, tapi bangga masih bisa membeli semir sepatu.
Acara dimulai dengan kedatangan para pejabat: Camat, Kabid, anggota DPRD, dan seseorang yang disebut “tokoh pendidikan” tapi tidak ada yang tau persis apa yang pernah ia didik.
Mereka datang dengan langkah mantap dan parfum mahal yang aromanya menampar lebih kencang daripada realita honor guru honorer.
Setelah sambutan singkat (yang tidak singkat), kata-kata mulai meluncur dari mikrofon:
“Guru adalah pilar bangsa!”
“Guru adalah cahaya peradaban!”
“Kalau bukan karena guru, kita tidak akan bisa berdiri di sini!”
Pidatonya begitu tinggi hingga hampir menyentuh awan. Bahkan burung yang sedang lewat pun tampak kebingungan: “Ini mereka bicara tentang malaikat atau manusia?”
Bu Rini dan Pak Seno saling pandang.
“Cahayanya terang sekali, ya?” bisik Bu Rini.
“Iya,” jawab Pak Seno, “sayang listriknya tetap kita yang bayar.”
Tepuk tangan bergemuruh. Pejabat tersenyum. Kamera berkilat. Semua terlihat sempurna, kecuali fakta kecil bahwa slip honor bulan ini belum turun.
Setelah pidato, para pejabat memberikan penghargaan simbolis: sebuah sertifikat, bingkisan, dan satu karangan bunga raksasa.
Saking besarnya, itu bisa menutupi papan pengumuman yang isinya jadwal mengajar tambahan yang tidak dibayar.
Acara semakin meriah: murid-murid menari, kembang api mini dinyalakan, musik keras terdengar. Hari Guru benar-benar jadi festival tahunan. Tapi di sela keriuhan itu, Bu Rini merasakan sesuatu yang mengganjal.
“Pak Seno,” katanya pelan, “kenapa ya, kalau bicara tentang guru semua orang bisa setinggi langit, tapi kalau bicara soal honor… semua turun jadi bisik-bisik?”
Pak Seno tersenyum kecil.
“Mungkin karena honor kita memang tinggal se-tipis awan, Bu.”
Di akhir acara, sebelum para pejabat keluar dan kamera berhenti merekam, seorang murid kecil berlari memeluk Bu Rini.
“Bu, terima kasih ya. Ibu guruku terbaik.”
Pelukan itu sederhana. Tidak berbau parfum mahal. Tidak dibungkus pidato. Tapi hangatnya nyata.
Bu Rini hampir menangis.
Sejenak, semua suara janji pejabat lenyap. Semua panggung hilang. Semua balon tak terdengar.
Yang tersisa hanya satu hal: alasan kenapa ia masih bertahan.
Ketika pesta selesai dan para pejabat menghilang bersama iring-iringan mobil, para guru honorer kembali membereskan kursi, membersihkan sampah, dan mematikan lampu aula.
Meriah sekali.
Megah sekali.
Hanya saja… mereka pulang tetap naik motor tua yang bensinnya harus diisi sesuai sisa honor.
Selamat Hari Guru.
Untuk para guru honorer, pahlawan sebenarnya, yang tetap mengajar meski hanya difasilitasi pujian, bukan kesejahteraan.
Hanya Fiksi by Beng
Leave a comment