Home Cerpen Paku yang Menonjol

Paku yang Menonjol

Share
Share

Duamata.id – Di sebuah bengkel tua yang nyaris dilupakan waktu, hiduplah sekotak paku dalam kaleng berkarat. Mereka berdesakan, saling bertumpuk, sebagian bengkok, sebagian berkarat, sebagian lagi masih lurus dan tajam.

Di antara mereka, ada satu paku yang selalu berdiri lebih tinggi dari yang lain. Namanya Tegak.

“Aku tidak mau seperti kalian,” katanya suatu hari. “Terkubur, tak terlihat. Kalau memang kita diciptakan untuk menancap, biarlah aku yang paling terlihat.”

Paku-paku lain hanya tertawa kecil.
“Yang menonjol itu bukan jadi hebat,” celetuk paku tua yang kepalanya sudah gepeng. “Yang menonjol itu yang pertama dipukul.”

Tegak tidak peduli. Ia justru semakin menjulang, menegakkan tubuhnya setiap kali kaleng itu terguncang.

Hingga suatu hari, seorang tukang kayu membuka kaleng itu. Tangannya kasar, matanya tajam menilai. Ia mengaduk isi kaleng, lalu berhenti.

“Ini,” katanya singkat, sambil menjepit Tegak.

Paku-paku lain terdiam. Tegak merasa bangga. Ia terpilih. Ia berbeda. Ia menonjol.

Ia dibawa ke papan kayu yang retak, diletakkan tegak di atasnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan udara bebas. Matahari menyentuh tubuhnya. Dunia terasa luas.

“Lihat?” bisiknya dalam hati. “Aku benar.”

Namun sebelum kalimat itu selesai, sesuatu datang dari atas.
Palu

Pukulan pertama menghantam kepalanya. Tegak terhuyung, sebagian tubuhnya masuk ke kayu.

Pukulan kedua lebih keras. Suaranya nyaring, menyakitkan.

Pukulan ketiga membuatnya hampir tak bisa berpikir.

“Kenapa… aku…?” gumamnya di sela rasa nyeri.
Palu itu tak menjawab. Ia hanya menjalankan tugasnya.

Setiap pukulan membuat Tegak semakin masuk, semakin tenggelam, hingga akhirnya hanya kepalanya yang terlihat. Tak lagi menjulang. Tak lagi berbeda.

Di dalam kaleng, paku-paku lain mendengar suara itu. Denting berulang, seperti nasib yang sudah mereka kenal.

Paku tua berbisik pelan, “Bukan soal menonjol atau tidak. Dunia ini… punya caranya sendiri untuk meratakan.”

Namun di luar dugaan, ketika pekerjaan selesai, tukang kayu menepuk papan itu dengan puas.

“Yang ini kuat,” katanya. “Paku ini yang menahan semuanya.”

Tegak, yang kini tertanam dalam, tak lagi terlihat mencolok. Tapi ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak lagi berdiri sendiri.

Ia menahan papan. Ia menjaga sambungan. Ia menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Sakitnya belum hilang. Bekas pukulan masih terasa. Tapi untuk pertama kalinya, ia mengerti.

Menonjol memang membuatmu dipukul.
Tapi kadang, pukulan itu yang menempatkanmu… pada posisi paling penting.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Puspa Langlangbuana Disulap Jadi Surga Kuliner Modern! Bupati Dian : Siap Ramai Lagi?

KUNINGAN – Yang dulu sempat meredup, kini bangkit dengan wajah baru yang...

Diterjang Banjir Ekstrem, Jembatan Cijemit Nyaris Lumpuh! Bupati Dian : “Pantang Mundur, Proyek Harus Lanjut!”

KUNINGAN – Banjir besar yang menghantam Desa Cijemit, Kecamatan Ciniru, membuat proyek...

Susu Rempah Kuningan dan Masker Susu Alami, Rahasia Segar dari Alam Langsung Ke Tubuh dan Kulit Anda!

Duamata.id - Di tengah tren gaya hidup sehat dan kembali ke bahan...

Situ Sedong: “Surga Tersembunyi” di Cirebon dengan View Gunung Ciremai yang Bikin Betah Berlama-lama!

Duamata.id - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas dan padatnya rutinitas, ternyata masih ada...