Duamata.id – Tahun ini, Kabupaten Kuningan berhasil mencetak prestasi baru: Lebaran tanpa macet menuju tempat wisata. Sebuah pencapaian yang, kalau dipikir-pikir, lebih cocok dirayakan dengan keheningan daripada kebanggaan.
Biasanya, jalur menuju obyek wisata di kaki Gunung Ciremai berubah jadi lautan kendaraan. Orang-orang rela berdesakan demi satu hal: liburan.
Tapi sekarang? Jalanan seperti habis disapu bersih. Lengang. Rapi. Nyaris seperti simulasi, bukan realita.
Katanya ekonomi sedang sulit. Daya beli turun. Betul. Tapi anehnya, di daerah lain, wisata masih bisa ramai, setidaknya tidak sesepi ini.
Artinya, mungkin ada yang lebih dari sekadar “ekonomi sedang tidak baik-baik saja.”
Di sinilah peran Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kuningan menjadi menarik untuk dibahas. Menarik, karena nyaris tak terlihat.
Kalau pariwisata itu panggung, maka Disporapar adalah sutradaranya. Tapi Lebaran kali ini terasa seperti panggung tanpa pertunjukan.
Lampu ada, kursi ada, bahkan dekorasi alamnya luar biasa. Tapi tidak ada yang mengarahkan cerita. Tidak ada yang memanggil penonton.
Promosi? Seperti bisikan di tengah badai, ada, tapi tak terdengar. Di era ketika destinasi kecil bisa viral hanya karena satu video kreatif, Kuningan justru seperti memilih jalur sunyi, berharap orang datang karena “sudah tahu dari dulu.”
Padahal wisata bukan soal menunggu. Wisata itu dirancang, dipaketkan, dipromosikan, bahkan, kalau perlu “dipaksa viral.”
Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan:
Apa strategi Disporapar menghadapi penurunan daya beli?
Apakah ada inovasi paket wisata murah Lebaran?
Apakah ada kolaborasi dengan pelaku UMKM, konten kreator, atau agen perjalanan?
Atau jangan-jangan strateginya memang: diam dan berharap keadaan membaik sendiri?
Lebih ironis lagi, keberadaan Mojang Jajaka Kuningan yang seharusnya menjadi wajah promosi, terasa seperti pajangan etalase indah, tapi tidak bergerak.
Di zaman di mana promosi ditentukan oleh kreativitas digital, apakah peran mereka sudah benar-benar dimaksimalkan, atau hanya sebatas seremoni tahunan?
Satirnya begini:
Kuningan punya alam yang luar biasa, tapi pengelolaannya terasa biasa saja.
Punya potensi besar, tapi geraknya kecil.
Punya panggung megah, tapi lupa menjual tiket.
Lebaran ini seharusnya jadi momentum. Tapi yang terjadi justru seperti uji coba: “Apa yang terjadi jika kita tidak melakukan apa-apa?”
Dan jawabannya sudah terlihat, sepi.
Mungkin ini saatnya Disporapar berhenti mengandalkan keindahan alam sebagai satu-satunya “jualan.”
Karena di zaman sekarang, yang menang bukan yang paling indah, tapi yang paling terlihat.
Kalaupun ada obyek wisata di Kabupaten Kuningan yang tetap ramai saat Lebaran kemarin, mari jujur saja, itu bukan karena sistem yang bekerja, tapi karena pemiliknya yang “tidak mau ikut sepi.”
Mereka yang putar otak. Mereka yang bikin spot foto baru, diskon tiket, wahana tambahan, bahkan rela belajar bikin konten agar tempatnya muncul di beranda orang.
Mereka jungkir balik melawan sepinya pasar.
Lalu peran Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kuningan di mana?
Pertanyaan ini penting, karena dalam teori dan juga dalam anggaran, Disporapar bukan sekadar penonton.
Mereka seharusnya jadi amplifier: memperbesar suara, memperluas jangkauan, menyatukan promosi agar tidak jalan sendiri-sendiri.
Satirnya begini:
Kalau ramai, itu karena pengelola kreatif.
Kalau sepi, itu karena ekonomi.
Di tengah-tengahnya, peran Disporapar seperti… opsional.
Padahal, di era sekarang, promosi tidak bisa lagi diserahkan sepenuhnya ke pemilik obyek wisata. Tidak semua punya sumber daya, jaringan, atau kemampuan digital yang sama.
Di sinilah negara melalui Disporapar harus hadir, membuat narasi besar, kampanye terpadu, bahkan sekadar memastikan bahwa setiap destinasi punya panggung yang sama untuk dikenal.
Apakah sudah ada kampanye besar “Ayo ke Kuningan saat Lebaran”?
Apakah Disporapar aktif mengkurasi dan mendorong konten digital destinasi lokal?
Apakah ada program nyata untuk membantu pengelola wisata kecil agar bisa naik kelas?
Atau jangan-jangan, semuanya diserahkan ke mekanisme alam, yang kuat bertahan, yang lemah hilang.
Lalu bagaimana dengan Mojang Jajaka Kuningan? Mereka yang seharusnya jadi wajah promosi.
Sudahkah mereka dijadikan ujung tombak kampanye digital? Atau masih berkutat di seremoni, selempang, dan panggung formal yang tidak pernah benar-benar menyentuh calon wisatawan?
Padahal, hari ini satu video kreatif bisa mengalahkan satu baliho mahal. Satu ide segar bisa menggerakkan ribuan orang datang.
Tapi itu butuh orkestrasi, dan di situlah Disporapar seharusnya bermain.
Realitasnya sekarang terasa pahit tapi jujur,
Kuningan masih hidup dari inisiatif individu, bukan dari sistem yang kuat.
Dan kalau kondisi ini dibiarkan, kita akan terus melihat pola yang sama setiap tahun, yang kreatif akan tetap ramai, yang biasa akan tenggelam, dan pemerintah… tetap sibuk menjelaskan kenapa semuanya terjadi.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya “kenapa sepi?”
Dan mulai bertanya lebih tepat, apa sebenarnya yang sudah dan belum dikerjakan oleh Disporapar?
Opini by Mang Duta
Leave a comment