KUNINGAN – Fenomena “cuan instan” yang marak di kalangan anak muda akhirnya mendapat sorotan serius. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon turun langsung ke kampus Universitas Kuningan, mengedukasi ratusan mahasiswa agar tak terjebak dalam praktik keuangan ilegal yang kian meresahkan.
Sebanyak 500 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) memenuhi Gedung Student Center Iman Hidayat, Rabu (05/05/2026), dalam kegiatan literasi keuangan yang berlangsung interaktif dan penuh antusiasme.
Rektor Uniku, Anna Fitri Hindriani, mengingatkan bahwa literasi keuangan bukan sekadar teori di kelas. Ia menyebut, di era digital saat ini, kemampuan mengelola keuangan bisa menjadi penentu masa depan seseorang.
“Banyak yang tergiur keuntungan cepat, tapi tidak memahami risikonya. Literasi keuangan adalah benteng agar mahasiswa tidak mudah terjebak,” tegasnya.
Tak kalah tegas, Pimpinan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Kuningan, Slamet Riyadi, membongkar berbagai modus penipuan digital yang kini menyasar generasi muda.
Mulai dari investasi bodong berkedok trading, pinjaman online ilegal, hingga aplikasi keuangan palsu—semua dibahas tuntas di hadapan mahasiswa.
“Jangan asal klik, jangan asal ikut tren. Pastikan legalitasnya jelas. Kalau tidak, yang hilang bukan cuma uang, tapi masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menekankan bahwa mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan literasi keuangan.
“Kami ingin mahasiswa jadi agen perubahan. Bukan hanya paham, tapi juga mengedukasi lingkungan sekitarnya,” katanya.
Dukungan penuh juga datang dari Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar. Ia menilai, kemampuan literasi keuangan akan sangat menentukan kualitas generasi muda dalam membangun ekonomi daerah.
“Kalau generasi mudanya cerdas finansial, maka daerahnya juga akan kuat secara ekonomi,” ungkapnya.
Dari sisi kebijakan, Anggota Komisi XI DPR RI, Shohibul Imam, mengingatkan pentingnya perlindungan konsumen di tengah kompleksitas sektor jasa keuangan.
Ia menegaskan, negara hadir untuk melindungi masyarakat dari risiko keuangan, namun masyarakat juga harus cerdas dan waspada.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi diskusi hangat yang dipenuhi pertanyaan kritis dari mahasiswa, mulai dari cara memilih investasi aman hingga mengenali jebakan finansial digital.
Di tengah gempuran tawaran “cepat kaya”, satu pesan kuat menggema dari kampus Uniku: cerdas finansial bukan lagi pilihan, tapi keharusan. (Bengpri).
Leave a comment