Duamata.id – Warung kopi Mang Darto selalu jadi ruang rapat yang tak pernah diundang, tapi selalu ramai. Malam itu, bangku kayu dipenuhi anak-anak
Karang Taruna yang kalau siang disebut “generasi harapan”, tapi kalau malam sering dianggap “pengganggu ketertiban karena terlalu lama nongkrong”.
Di tengah asap kopi dan rokok murah, satu topik mengapung pelan: retret kepala desa.
“Lima juta, ya?” tanya Rian, sambil meniup kopi yang sebenarnya sudah dingin.
“Hampir,” jawab Asep. “Katanya sih dana pribadi.”
Kata pribadi langsung bikin mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Pribadi itu menarik,” kata Deni. “Kalau buat retret, langsung jelas. Tapi kalau buat kegiatan kita… tiba-tiba jadi ‘tidak ada anggaran’.”
Semua mengangguk. Ini bukan pertama kalinya mereka bicara soal anggaran. Setiap tahun, menjelang 17 Agustus, obrolannya selalu sama, proposal dibuat, diserahkan, lalu pulang dengan kalimat klasik:
“Kita sesuaikan kemampuan desa, ya.”
Kemampuan desa, ternyata sering lebih kuat untuk hal-hal yang tidak melibatkan mereka.
“Waktu itu kita minta berapa?” tanya Rian.
“Dua juta,” jawab Asep cepat. “Itu juga buat lomba anak-anak, panggung kecil, sama hadiah seadanya.”
“Dikasih berapa?”
Asep tersenyum tipis. “Disuruh cari sponsor.”
Tawa pecah. Bukan karena lucu, tapi karena terlalu sering terjadi.
“Lucu ya,” kata Deni. “Kalau kita bikin acara buat warga, harus kreatif cari dana. Tapi kalau retret, kreativitasnya langsung muncul di kata ‘pribadi’.”
“Eh, jangan salah,” sahut Rian. “Itu kan buat penguatan mental.”
“Lah kita ini apa? Lemah mental?” balas Asep.
“Kita kuat,” kata Deni. “Kuat nahan kecewa tiap proposal ditolak.”
Semua tertawa lagi. Kali ini lebih keras.
Di pojok warung, bendera merah putih kecil tergantung miring. Bekas Agustusan tahun lalu. Warnanya mulai pudar, seperti semangat yang selalu diminta tapi jarang benar-benar didukung.
“Bayangin deh,” kata Rian, “kalau yang diperkuat itu kita.”
“Maksudnya?”
“Ya retret juga. Karang Taruna. Penguatan mental pemuda desa.”
Asep pura-pura serius, “Programnya apa?”
“Belajar bikin acara tanpa dana,” jawab Deni cepat.
“Udah mahir kita mah,” sahut yang lain.
Tawa lagi.
“Tapi serius,” lanjut Rian. “Kalau pemuda diperhatiin, mungkin beda. Kita bisa bikin kegiatan lebih hidup. Anak-anak punya ruang. Desa juga kelihatan bergerak.”
“Masalahnya,” kata Asep pelan, “yang kelihatan bergerak itu bukan yang paling penting. Yang penting itu yang kelihatan… penting.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah. Kopi masih hangat, tapi pikiran mulai dingin.
“Retret itu kan buat pemimpin,” kata Deni akhirnya. “Biar kuat.”
“Pertanyaannya,” timpal Rian, “kuat untuk apa?”
“Untuk tahan kritik,” jawab Asep cepat.
“Berarti bukan buat dengerin kita,” sahut yang lain.
Sunyi sejenak. Hanya suara sendok beradu dengan gelas.
“Kadang gue mikir,” kata Rian pelan, “desa ini seperti panggung.”
“Kita pemainnya?” tanya Deni.
“Bukan,” Rian menggeleng. “Kita penontonnya. Tepuk tangan kalau disuruh. Diam kalau tidak diajak.”
“Terus retret itu apa?” tanya Asep.
Rian tersenyum tipis. “Latihan supaya yang di panggung tetap percaya diri… meski penontonnya mulai sepi.”
Malam makin larut. Satu per satu gelas kosong. Obrolan mulai melambat.
Sebelum pulang, Deni berdiri dan melihat bendera kecil itu.
“Agustus nanti kita tetap bikin acara,” katanya.
“Dana?” tanya Asep.
Deni mengangkat bahu. “Seperti biasa. Kreativitas.”
Rian tersenyum. “Mental kita memang sudah kuat.”
“Karena tidak pernah diberi pilihan lain,” sahut Asep.
Mereka tertawa kecil, lalu beranjak pulang.
Di belakang mereka, warung kembali sepi.
Bendera kecil itu masih tergantung, pudar, tapi bertahan.
Seperti pemuda desa, tidak selalu diperkuat, tidak selalu dianggarkan, tapi selalu diminta siap… kapan saja.
Dan mungkin itu yang paling satir, yang paling sering diminta kuat, justru yang paling jarang diberi kekuatan.
Cerpen oleh Mang Duta
Leave a comment