Home Cerpen Giliran yang Tak Pernah Tiba

Giliran yang Tak Pernah Tiba

Share
Share

Duamata.id – Langit pagi itu masih lembut. Aroma opor dan ketupat mengepul dari dapur, bercampur dengan suara takbir yang tersisa dari semalam. Di ruang tamu, tawa dan peluk hangat bersahutan. Hari yang ditunggu akhirnya datang, Lebaran.

Namun di teras rumah, seorang ayah duduk sendiri.
Tangannya menggenggam rokok yang hampir habis, asapnya melayang pelan, seperti pikirannya yang entah ke mana.

Dari kursinya, ia bisa melihat anak-anaknya, tiga orang yang dulu digendongnya satu per satu, kini sibuk bersalaman.

“Maaf ya, Kek…” “Maaf ya, Nek…” “Tante, mohon maaf lahir batin…”
Suara mereka tulus, hangat, penuh haru.

Sang ayah tersenyum kecil. Matanya mengikuti setiap gerakan mereka. Ada bangga di sana, ada juga sesuatu yang pelan-pelan mengendap, sesuatu yang sulit ia beri nama.

Ia menunggu.
Mungkin setelah ini.
Mungkin setelah mereka selesai dengan semua orang.

Ia menepuk-nepuk saku bajunya, mencari rokok lain, lalu mengurungkan niat. Ia ingin tetap sadar sepenuhnya untuk momen itu.

Momen sederhana.
Momen ketika salah satu dari mereka mendekat, menunduk, lalu berkata,
“Pak, maaf ya…”

Namun waktu berjalan seperti sengaja mempercepat langkahnya.
Anak-anaknya tertawa lagi. Mereka berfoto bersama keluarga besar. Saling bercanda. Saling berbagi cerita.

Dunia mereka penuh, tanpa celah.
Sang ayah masih di teras.
Ingatannya mengembara
Tentang keputusan-keputusan yang ia ambil tanpa banyak bicara.
Tentang diamnya yang sering disalahartikan.

Tentang langkah-langkahnya dulu, yang dipandang salah oleh anak-anaknya
Ia bukan ayah yang pandai meminta maaf. Bahkan mungkin, tak pernah benar-benar melakukannya.

Dan hari ini… ia ingin.
Untuk pertama kalinya, ia ingin menjadi yang lebih dulu berkata,
“Maaf ya…”

Tapi lidahnya kelu.
Harga diri?
Atau kebiasaan lama?
Ia sendiri tidak tahu.

Dari dalam, suara anak bungsunya terdengar, “Foto lagi, yuk!”
Semua berkumpul. Termasuk dirinya yang akhirnya dipanggil.
“Pak, sini… foto bareng!”

Ia berdiri pelan, mematikan rokoknya, lalu masuk. Berdiri di tengah-tengah mereka. Kamera menyala. Semua tersenyum.

Klik.
Satu momen tertangkap.
Namun tidak semua rasa ikut terabadikan.

Setelah itu, anak-anaknya kembali sibuk. Sementara ia perlahan kembali ke teras, duduk di kursi yang sama.
Angin siang mulai hangat.
Ia menunduk.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, matanya basah.
Bukan karena ia tidak dicintai.
Bukan karena anak-anaknya lupa.

Tapi karena ia sadar, selama ini, mungkin ia juga tidak pernah benar-benar memberi mereka ruang untuk mendekat.

Ia terlalu lama berdiri sebagai “ayah”
hingga lupa bagaimana caranya menjadi “manusia”.
Di dalam rumah, tawa masih pecah.

Mungkin, bagi anak-anaknya, sang Ayah lah yang harus meminta maaf, bukan mereka.

Di luar, seorang ayah akhirnya berbisik pelan, hampir tak terdengar—
“Maaf ya…”

Tak ada yang mendengar.
Namun mungkin, untuk pertama kalinya, hatinya sedikit lebih ringan.

Dan di Hari Raya itu,
ia belajar satu hal yang terlambat—
bahwa meminta maaf tidak selalu harus menunggu giliran.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Dari Lereng Darma ke Dunia, Kopi Kuningan Siap Go Internasional

KUNINGAN – Aroma kopi segar dari lereng Darma tak lagi sekadar dinikmati...

Bukan Sekadar Halal Bihalal, Wabup Tuti Tegaskan Peran Perempuan Kunci Peradaban di Milad ke-21 Salimah

KUNINGAN – Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam peringatan Halal Bihalal...

Gerak Cepat Tangani Pergeseran Tanah, Tim PUTR Turun Sondir Tanah di Ciwiru–Padamatang

KUNINGAN – Ancaman pergeseran tanah di jalur Ciwiru–Padamatang membuat Pemerintah Kabupaten Kuningan...

Apresiasi Atlet Kuningan, Bupati Soroti Minimnya Anggaran hingga Ancaman Atlet Hijrah

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan memberikan apresiasi kepada para atlet berprestasi dalam...