Home Cerpen Lebaran yang Terlalu Lengang

Lebaran yang Terlalu Lengang

Share
Share

Duamata.id – Pagi itu, tak ada klakson bersahut-sahutan. Tak ada suara mesin meraung panjang di tanjakan. Tak ada wajah-wajah lelah di balik kaca mobil yang setengah terbuka.

Jalanan di Kabupaten Kuningan, di hari lebaran ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya… relatif lengang.

Pak Darsa berdiri di pinggir jalan, di depan warung kecilnya yang biasanya kebanjiran pembeli setiap Lebaran. Ia mengaduk kopi sendiri, lalu menyeruput pelan. Tidak terburu-buru. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Sepi, Pak?” tanya seorang pemudik yang berhent, bukan karena macet, tapi karena bingung harus berhenti di mana.

Pak Darsa tersenyum tipis.
“Bukan sepi, ini mah… damai,” jawabnya, setengah bercanda.

Pemudik itu tertawa kecil, lalu melihat ke kanan dan kiri. Jalan yang biasanya padat merayap kini seperti jalan desa di hari biasa. Bahkan lebih sepi.

“Biasanya di sini ngantri panjang ya, Pak?”
“Iya… biasanya orang ke sini bukan buat sampai. Tapi buat berhenti lama,” kata Pak Darsa.

Ia ingat betul, dulu orang-orang datang membawa harapan: liburan, udara segar, foto-foto, dan cerita untuk dibawa pulang. Jalanan macet bukan masalah, itu justru bagian dari cerita.

Sekarang, cerita itu seperti hilang sebelum dimulai.
Di kejauhan, seorang tukang parkir duduk melamun di kursi plastiknya. Peluit yang biasanya nyaring, kini tergantung diam di lehernya. Ia meniup sekali… pelan… hanya untuk memastikan masih bisa bersuara.
Tidak ada yang parkir.

Di warung sebelah, Bu Rini menyusun ulang kerupuk di toples, untuk ketiga kalinya pagi itu. Bukan karena habis, tapi karena tak ada yang mengambil.

“Lebaran kok kayak bukan Lebaran,” gumamnya.

Pak Darsa menatap jalan lagi.
Mobil lewat satu… dua… lalu hilang di tikungan tanpa meninggalkan antrean.

“Dulu kita mengeluh macet,” katanya pelan.
“Sekarang… kita kehilangan alasan untuk mengeluh.”

Pemudik itu mengangguk, tapi matanya kosong. Ia paham, tapi mungkin belum benar-benar mengerti.
“Kenapa bisa sepi ya, Pak?” tanyanya lagi.

Pak Darsa tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir kopinya yang tinggal setengah, lalu berkata pelan, seolah takut didengar terlalu jelas:

“Mungkin… orang-orang lagi menghitung, bukan menikmati.”
“Ngitung apa?”
“Ngitung cukup atau tidaknya.”

Angin pagi berhembus, membawa aroma tanah basah dan sedikit kegelisahan yang tak terlihat.

Di hari yang seharusnya penuh tawa, justru yang terdengar adalah sunyi yang terlalu rapi.
Tidak ada kemacetan.
Tidak ada keramaian.
Tidak ada keluhan

Dan entah kenapa… itu terasa jauh lebih mengkhawatirkan.

Pak Darsa menghabiskan kopinya, lalu berdiri.
Ia melihat ke jalan sekali lagi, berharap ada kemacetan kecil, sekadar untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja

Tapi jalan itu tetap lengang.
Seolah-olah, bukan hanya kendaraan yang tak datang…
melainkan juga daya untuk pergi.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Demo Masuk Angin

Duamata.id - Di Kampung Angin Sore, ada sebuah perusahaan jamu yang mengklaim produknya ampuh menangkal masuk angin. Masalahnya, warga kampung tidak pernah benar-benar...

Related Articles

Demo Masuk Angin

Duamata.id - Di Kampung Angin Sore, ada sebuah perusahaan jamu yang mengklaim...

Hari Ini Aku Pakai Seragam Merah Putih..

KUNINGAN – Pagi itu, senyum Muhammad Elvano Diarurrahman tak pernah lepas dari...

Sinergi PKK dan Dekranas di Makassar, Bunda Ela Helayati: Kader PKK dan Pengrajin Kuningan Harus Siap Mendunia

MAKASSAR — Semangat membangun keluarga sejahtera dan memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya...

MPLS di SDN 2 Bayuning Tak Sekadar Perkenalan, Ini Komitmen Besar Sekolah dan Orang Tua

KUNINGAN – Tangis haru sebagian murid baru perlahan berubah menjadi senyum ceria....