Home Cerpen Menunggu Akhir Agustus di Grup WhatsApp

Menunggu Akhir Agustus di Grup WhatsApp

Share
Share

Duamata.id – Nama grup itu sederhana. “Orangtua Kadet 2026.”

Namun setiap notifikasi yang berbunyi seolah membawa denyut yang sama: rindu.

Dulu, sekitar akhir Juni grup itu ramai dengan informasi kelulusan Pantukhir, pemberangkatan ke Magelang, no bis yang dinaiki anaknya, dan lainnya tentang kebanggaan anak-anak tercintanya berangkat ke Magelang untuk Diksarmil selama dua bulan

Kini, obrolannya berubah.

Anak-anak mereka sedang menjalani Diksarmil di Magelang. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan singkat. Yang tersisa hanyalah kabar-kabar kecil yang terkadang datang dari media sosial, potongan video, atau foto yang diunggah orang lain.

Lalu tibalah bulan Juli, yang sudah akan memasuki pertengahan bulan.

Obrolan grup mulai bergeser.

Bukan lagi tentang latihan.

Melainkan tentang hari, dimana orang tua boleh melihat dan bertemu anak-anaknya usai Diksarmil.

“Sudah ada info hotel belum, Ayah Bunda?”

Belum ada jawaban. Tetapi puluhan pesan langsung menyusul.

“Ada yang sudah pesan hotel?”

“Kalau terlambat nanti penuh, ya?”

“Enaknya menginap di mana?”

Belum selesai membahas hotel, topik lain muncul.

“Nanti kita pakai baju apa ya?”

“Ibu-ibu, seragamnya bagaimana?”

“Apa tiap prodi nanti beda warna?”

“Kalau bapak-bapak bagaimana?”

Seketika grup kembali hidup.

Ada yang mengusulkan batik.

Ada yang mengusulkan putih.

Ada yang bercanda, “Yang penting jangan sampai anak kita bingung mencari orang tuanya.”

Semua tertawa melalui emoji.

Lalu muncul pertanyaan yang paling sering berulang.

“Undangannya seperti apa ya?”

“Berapa orang yang boleh masuk?”

“Kalau cuma dua orang bagaimana?”

“Padahal kakek nenek sudah menabung ingin melihat cucunya.”

Ada yang menulis pelan.

“Adiknya sudah menghitung hari. Katanya ingin memeluk kakaknya duluan.”

Yang lain membalas.

“Paman bibinya juga ingin ikut. Mereka merasa ikut membesarkan anak itu.”

Ada pula seorang ayah yang bercerita.

“Tetangga satu kampung sudah bilang mau ikut mengantar kalau bisa.”

Tak ada yang menganggap semua pertanyaan itu berlebihan.

Karena semua tahu, di balik setiap pertanyaan sederhana tersimpan kerinduan yang panjang.

Kerinduan yang sudah berminggu-minggu dipendam.

Kerinduan yang belum menemukan tempat untuk ditumpahkan.

Sesekali seseorang mengingatkan,

“Kita tunggu saja informasi resmi dari panitia.”

Semua setuju.

Lalu… lima menit kemudian…

“Ayah Bunda, kalau hotel ini bagaimana?”

Grup kembali ramai.

Begitulah setiap hari.

Kadang membahas parkir.

Kadang membahas cuaca Magelang.

Kadang menghitung jarak dari stasiun.

Kadang memperkirakan berapa koper yang harus dibawa.

Kadang bertanya apakah nanti sempat berfoto.

Kadang hanya saling mengirim doa.

Tidak ada yang merasa terganggu.

Justru percakapan-percakapan kecil itu menjadi hiburan.

Menjadi teman menunggu.

Menjadi cara sederhana untuk mengurangi rindu.

Sebab mereka sadar, yang mereka tunggu bukan sekadar sebuah acara.

Bukan sekadar upacara.

Bukan sekadar undangan.

Yang mereka tunggu adalah detik ketika akhirnya bisa melihat kembali wajah anak-anak yang berangkat dengan senyum gugup, lalu pulang dengan sorot mata yang lebih matang.

Mungkin nanti ada ibu yang langsung menangis.

Ada ayah yang biasanya pendiam, tiba-tiba memeluk anaknya erat tanpa banyak kata.

Ada adik yang berlari paling depan.

Ada kakek yang diam-diam menyeka air mata sambil berkata, “Cucuku sudah jadi orang.”

Dan mungkin, setelah semua itu berlalu, grup WhatsApp akan kembali ramai.

Bukan lagi bertanya soal hotel.

Bukan lagi soal undangan.

Melainkan dipenuhi foto-foto pelukan, tawa, dan kebanggaan.

Sampai hari itu tiba, biarlah grup kecil ini terus ramai oleh pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Karena setiap pertanyaan bukanlah tanda tidak sabar.

Melainkan bahasa lain dari cinta.

Bahasa yang hanya dipahami oleh mereka yang sedang menunggu dengan penuh rindu.

Dan di grup WhatsApp itu, semua orang tahu satu hal.

Kadang, menikmati proses menunggu bersama-sama adalah kenangan yang kelak akan dirindukan, sama berharganya dengan hari ketika akhirnya mereka bisa memeluk anak-anak hebat itu kembali.

Cerpen oleh Mang Duta dari sebuah Kerinduan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Rokhmat Ardiyan Tegas: PLTSa Jangan Jadi Petaka bagi Warga, DPR Siap Kawal Aspirasi Rakyat

JAKARTA – Anggota Komisi XII DPR RI, , menegaskan bahwa pembangunan Pembangkit...

KILAS BALIK | Dari Rumah Sederhana di Patalagan, Doa untuk Vino Kini Berbuah Senyum

KUNINGAN – Sekitar dua bulan lalu, tepatnya saat Vino Zayyan Putra masih...

Bukan Sekadar Piknik, Ini Cara Bidan Desa Nanggela Membangun Tim yang Solid

CIREBON – Di balik kesibukan melayani masyarakat, para tenaga kesehatan juga membutuhkan...

Bunda Ela: Melihat Vino Sehat Adalah Kebahagiaan yang Tak Ternilai

KUNINGAN – Dua bulan lalu, langkah Bunda Ela Helayati menuju rumah kecil...