Duamata.id – Warung kopi di sudut kota itu tidak pernah sepi. Pagi hari, seperti biasa, beberapa pelanggan setia duduk mengelilingi meja kayu sambil membaca berita dari ponsel masing-masing.
“Masih ramai soal demo itu?” tanya Ujang sambil mengaduk kopi hitamnya.
“Masih,” jawab Dedi. “Tapi aneh juga.”
“Aneh kenapa?”

Dedi menunjukkan layar ponselnya.
“Lihat saja. Yang dibahas sekarang bukan lagi orang yang dituduh melanggar etik.”
Ujang mendekat.
“Terus yang dibahas apa?”
“Macam-macam. Ada yang bahas atribut demonya. Ada yang bahas bupati datang atau tidak. Ada yang bahas etika aksi. Ada yang bahas politik di balik aksi.”
Ujang tertawa kecil.
“Iya juga, ya.”
Mereka terdiam sejenak.
Di meja sebelah, seorang bapak yang sejak tadi ikut mendengarkan tiba-tiba menyahut.
“Padahal kalau tidak salah, awalnya demo itu kan karena ada dugaan pelanggaran etik.”
“Betul,” jawab Dedi.
“Nah, sekarang ada yang masih bahas itu?”
Semua saling pandang.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena memang sulit menemukan jawabannya.
Beberapa hari terakhir media sosial penuh perdebatan. Grup WhatsApp ramai. Kolom komentar tidak pernah sepi.
Tetapi semakin banyak orang berbicara, semakin jauh pembahasannya dari persoalan awal.
Ujang menyeruput kopinya.
“Kadang isu itu seperti bola, ya.”
“Maksudnya?”
“Awalnya ditendang ke satu arah. Lama-lama diperebutkan banyak orang. Pas berhenti, malah sudah jauh dari tujuan awal.”
Semua tertawa kecil.
“Tapi serius,” lanjutnya. “Kalau memang ada dugaan pelanggaran etik, mestinya yang dibahas itu. Ada pemeriksaan atau tidak? Ada sanksi atau tidak? Ada hasilnya atau tidak?”
“Benar,” kata bapak di meja sebelah. “Kalau terbukti, ya proses sesuai aturan. Kalau tidak terbukti, ya jelaskan juga. Publik berhak tahu.”
Dedi mengangguk.
“Masalahnya sekarang orang lebih senang membahas keramaiannya daripada penyelesaiannya.”
Kalimat itu membuat meja mendadak hening.
Di luar, kendaraan lalu lalang seperti biasa. Orang-orang berangkat bekerja. Anak-anak berangkat sekolah.
Sementara di dunia maya, perdebatan terus berputar.
Tentang simbol.
Tentang aksi.
Tentang siapa yang benar.
Tentang siapa yang salah.
Tetapi semakin sedikit yang bertanya tentang inti persoalan.
Ujang kemudian meletakkan cangkirnya.
“Mungkin begini nasib banyak isu sekarang.”
“Gimana?”
“Saat baru muncul, semua orang bicara soal masalahnya. Setelah viral, semua orang bicara soal keramaiannya.”
“Terus masalahnya?”
Ujang tersenyum tipis.
“Kadang-kadang justru tertinggal di belakang.”
Mereka kembali menyeruput kopi masing-masing.
Tidak ada yang membantah.
Karena di layar ponsel yang masih menyala di atas meja, puluhan berita terus bermunculan.
Namun dari semua judul yang lewat pagi itu, hampir tidak ada satu pun yang benar-benar menjawab pertanyaan yang sejak awal menjadi alasan kegaduhan:
Apakah dugaan pelanggaran etik itu akan berujung pada sanksi, atau justru tenggelam bersama ramainya perdebatan yang kini telah bergeser ke mana-mana?
Hanya Cerpen oleh Mang Duta


Leave a comment