KUNINGAN – Di era digital saat ini, ancaman radikalisme tidak hanya hadir melalui pertemuan langsung atau penyebaran selebaran, tetapi juga dapat masuk melalui ruang digital yang setiap hari diakses masyarakat, khususnya generasi muda.
Hal tersebut disampaikan praktisi teknologi informasi Bambang Priatna, S.Kom yang akrab dipanggil Bengpri saat menjadi narasumber dalam Diklat Kebangsaan Penguatan Literasi Digital dalam Upaya Pencegahan Radikalisme dan Anarkisme yang digelar Gerakan Masyarakat Anti Radikalisme (GEMAR) Kabupaten Kuningan di Pondok Pesantren Daarul Mukhlishin, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Sabtu (20/6/2026).
Dalam pemaparannya, Bengpri menjelaskan bahwa media sosial bekerja menggunakan algoritma yang dirancang untuk menampilkan konten sesuai minat dan kebiasaan pengguna.
Semakin sering seseorang menyukai, menonton, membagikan, atau mengomentari suatu jenis konten, maka algoritma akan terus menampilkan konten serupa dalam jumlah yang lebih banyak.

“Algoritma media sosial tidak menentukan mana yang benar atau salah. Algoritma hanya membaca kebiasaan pengguna. Apa yang sering kita lihat, cari, dan klik akan menjadi dasar bagi sistem untuk menampilkan konten berikutnya,” jelas Bambang.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi peluang sekaligus ancaman. Jika pengguna sering mengakses konten edukatif, motivasi, atau wawasan kebangsaan, maka media sosial akan semakin banyak menyajikan konten positif.
Namun sebaliknya, jika seseorang mulai tertarik pada konten provokatif, ujaran kebencian, atau narasi yang mengarah pada radikalisme, algoritma akan terus memperkuat paparan terhadap konten sejenis.
Ia mengibaratkan algoritma media sosial seperti sebuah cermin yang memantulkan kembali kebiasaan penggunanya.
“Media sosial sebenarnya sedang belajar mengenali kita. Karena itu kita harus berhati-hati dengan apa yang kita tonton, sukai, dan bagikan. Algoritma akan terus mengikuti jejak digital yang kita tinggalkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bengpri uga menjelaskan fenomena filter bubble dan echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangan yang sudah diyakininya. Akibatnya, pengguna menjadi sulit menerima sudut pandang lain dan berpotensi terjebak dalam lingkungan informasi yang sempit.
Menurutnya, kondisi tersebut sering dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan propaganda, membangun opini, dan memengaruhi cara berpikir pengguna media sosial secara perlahan.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk membiasakan diri mengakses informasi dari berbagai sumber yang kredibel serta tidak mudah terpancing oleh konten yang bersifat provokatif.
“Jangan hanya membaca satu sumber informasi. Biasakan melakukan verifikasi dan membandingkan informasi dari berbagai sumber terpercaya. Literasi digital menjadi kunci agar kita tidak mudah dipengaruhi oleh informasi yang menyesatkan,” katanya.
Selain memahami cara kerja algoritma, peserta juga diajak untuk membangun kebiasaan digital yang sehat, seperti mengikuti akun-akun edukatif, memanfaatkan media sosial untuk belajar dan berkarya, serta menghindari penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya.
Bengpri menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral. Yang menentukan dampaknya adalah cara manusia menggunakannya.
“Algoritma media sosial bisa menjadi jembatan ilmu pengetahuan, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk berbagai pengaruh negatif. Karena itu, generasi muda harus menjadi pengguna yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
Melalui pemahaman mengenai cara kerja algoritma media sosial, para peserta diharapkan mampu lebih bijak dalam bermedia digital serta memiliki ketahanan terhadap berbagai bentuk propaganda, hoaks, dan paham radikalisme yang beredar di ruang siber.


Leave a comment