Home Cerpen Lantang di Podium, Licin di Lapangan

Lantang di Podium, Licin di Lapangan

Share
Share

Cerpen Satir

Di setiap aksi mahasiswa, nama Rayan selalu disebut dengan takzim. Dialah orator paling lantang di kampus, pahlawan anti KKN versi brosur organisasi.

Suaranya menggelegar tiap kali ia berteriak di atas mobil bak terbuka:

“Hapuskan Korupsi, Kolusi, Nepotisme! Ini negeri bukan warisan keluarga pejabat!”

Mahasiswa bersorak, kamera melayang, dan poster-poster menari. Rayan berdiri gagah, dadanya terangkat, seakan ia sendiri malaikat bersayap transparan yang turun ke bumi untuk menegakkan integritas.

Namun integritas, rupanya, hanya bertahan sampai mikrofon dimatikan.

Suatu pagi, ibunya sakit keras. Rayan panik, tentu saja. Tapi bukannya berbondong-bondong ke rumah sakit untuk antre secara jujur seperti warga biasa, ia langsung menekan nomor telepon yang sudah hafal di luar kepala.

“Bang Ujang,” katanya setengah berbisik, seolah membicarakan rahasia negara.

“Tolong print-kan nomor antrean paling depan ya. Pokoknya yang nomor satu. Saya OTW.”

Bang Ujang, tukang parkir RS yang sudah ia kenal sejak zaman sering demo di depan gedung gubernur, tertawa sambil merokok.

“Beres, Yan. Negara boleh kacau, tapi parkiran aman sama saya.”

Sepuluh menit kemudian, Rayan datang dengan langkah percaya diri. Ia melewati warga-warga yang sudah datang sejak subuh, yang mengerutkan dahi melihatnya berjalan langsung ke loket.

Rayan tersenyum malu-malu, tapi hanya sebentar. Setelah itu, ia memasang muka paling serius, seperti orang penting yang sedang menjalankan “misi penyelamatan”.

Beberapa minggu kemudian, KTP elektroniknya hilang. Rayan memutuskan pergi ke Disdukcapil. Namun tentu saja ia tidak mau antre.

Baginya antrean adalah praktik kolonial yang menghambat produktivitas rakyat.

Ia langsung mengirim chat ke grup alumni kampus.

Rayan: “Bro, lu kan staf Disdukcapil ya? Bisa bantuin nggak? Gue butuh KTP hari ini. Mendesak. Negara lagi butuh gue bicara di forum antikorupsi.”

Temannya: “Lewat belakang aja, Yan. Bilang aja sudah janjian.”

Dan begitu lah. Rayan masuk melewati pintu samping, yang konon hanya terbuka jika kamu staf, pejabat, atau punya kenalan.

Lima belas menit kemudian KTP-nya jadi, sambil ia keluar lewat lorong kecil yang cat temboknya sudah mengelupas, bukti bahwa jalur belakang memang sejati adanya.

“Negara harus berubah,” gumamnya sambil memasukkan KTP baru ke dompet. “Rakyat tidak boleh lagi dipersulit sistem.”

Ironisnya, ia mengucapkannya saat melewati para warga yang sudah antre dari pagi sambil membawa map biru lusuh.

Setelah lulus kuliah, Rayan memulai babak baru perjuangannya: mencari pekerjaan. Tapi jangan bayangkan ia mengirim CV ke sana-sini seperti manusia biasa. Tidak. Ia punya strategi “perjuangan” versi sendiri.

Ia membuka lemari, mengeluarkan tumpukan bendera organisasi kampusnya dulu, yang katanya simbol idealisme, perjuangan, dan martabat mahasiswa.

    Lalu ia mulai keliling menemui senior-seniornya yang sudah bekerja di instansi pemerintah dan BUMN.

    “Bang, ini saya yunior di organisasi kampus dulu, kalau ada lowongan, info-info ya Bang. Saya siap mengabdi.”

    Ajaib, seminggu kemudian ia dipanggil tes kerja “internal”. Tesnya cuma wawancara lima menit, lalu diterima.

    “Tuh kan,” batinnya bangga. “Rezeki orang baik memang tidak ke mana.

    Beberapa bulan setelah bekerja, Rayan kembali naik podium dalam sebuah seminar nasional tentang integritas.

    Wajahnya bercahaya, suaranya bergetar heroik:
    “Kita harus membangun negeri ini tanpa KKN! Semua harus lewat prosedur resmi! Jangan ada jalur belakang, jangan ada nepotisme, jangan ada ordal”

    Saat itu, HP-nya bergetar. Pesan masuk dari Bang Ujang.

    Bang Ujang:
    “Yan, katanya keponakannya mau periksa ke poli, kalau mau antrian RS besok, saya ada diparkiran”

    Rayan meraih HP-nya dengan cepat, menutup layarnya agar moderator tidak melihat.
    “Siap Bang, nanti saya kabari,” balasnya singkat.

    Ia tersenyum. Lalu kembali melanjutkan pidatonya.

    “Integritas itu harga mati!” serunya.

    Dan hadirin pun bertepuk tangan meriah, tanpa tahu bahwa lelaki di depan mereka adalah bukti hidup bahwa KKN tidak pernah mati, hanya berganti bentuk, dan kadang memakai megafon.

    Rayan berjalan turun dari panggung bak pahlawan. Banner di belakangnya bertuliskan besar:

    “GERAKAN INDONESIA TANPA KKN”

    Ia melewatinya begitu saja, tak merasa bersalah, tak merasa aneh.

    Karena bagi Rayan dan mungkin bagi banyak orang lain, KKN adalah musuh yang harus diperangi.

    Kecuali kalau lagi butuh.

    Yang penting tetap lantang di podium. Soal licin di lapangan, itu urusan belakangan.

    Hanya Fiksi by Beng

    Share

    Leave a comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Related Articles

    Wajah-Wajah Memelas Menjelang Lebaran

    Duamata.id - Ada satu fenomena sosial yang selalu muncul setiap menjelang Lebaran....

    PSI Bidik 5 Kursi DPRD Kuningan, Sinyal Kekuatan Baru di Peta Politik Lokal

    KUNINGAN – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai tancap gas menghadapi kontestasi politik...

    Prabowo–Gibran Kompak Bayar Zakat di Istana! Pesan Penting Presiden soal Potensi Ekonomi Umat

    JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan...

    Jelang Lebaran, Pemerintah Pastikan Stok BBM dan LPG Nasional Aman

    JAKARTA – Pemerintah memastikan cadangan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM)...