Duamamata.id – Pagi itu warung Mak Iis belum ramai. Hanya bau kopi hitam, rokok kretek, dan suara sendok beradu gelas. Di bangku panjang, Mang Ujang, Pa Darsa, dan Asep duduk berderet seperti biasa. Bedanya, hari itu obrolan mereka lebih panas dari kopinya.
“Jadi ayeuna, kabeh kebuka,” kata Mang Ujang sambil meniup kopi. “Hutan gundul, kayu ilang, batu digali, air disedot. Padahal kemarin-kemarin katanya aman.”
Pa Darsa terkekeh pendek. “Aman keur saha?”
Asep yang dari tadi main korek api angkat kepala. “Lucu, nya. Begitu Kang Dedi turun, langsung rame. Kayu sonokeling tiba-tiba muncul batangnya, tambang jadi kelihatan lubangnya, pipa air mendadak ilegal.”
Mang Ujang mengangguk pelan. “Berarti selama ini ada dua kemungkinan, Sep.”
“Apa tuh, Mang?” tanya Asep.
“Pertama,” Mang Ujang mengangkat satu jari, “aparatna tutup mata.”
Pa Darsa langsung nyambung, “Atau yang kedua, matana melek tapi teu digawe.”
Mereka bertiga tertawa, tapi tawanya cepat padam. Mak Iis dari balik warung ikut nyeletuk, “Mun kuring nu jual kopi teu nyeduh, pelanggan kabur. Mun jual kopi tapi matana merem, bisa-bisa gula diganti uyah.”
Asep mengangguk. “Nah, eta. Ini hutan, bukan gelas kopi. Tapi kok bisa kayu segede gitu nebang sama ngangkut pake mode silent kaya hp.”
Pa Darsa menyeruput kopinya. “Mungkin kayunya ga butuh di chainsaw. Sonokeling punya peredam suara”
“Atau chainsaw-nya pakai mode senyap,” tambah Mang Ujang. “Kaya maling di film.”
Mak Iis tertawa kecil. “Atuh urang kampung mah heran. Katanya kawasan konservasi, tapi kok kayak pasar malam. Ada yang nebang, ada yang ngangkut, ada yang beli.”
Asep menatap jalanan desa. “Sekarang katanya mau diberesin. Mau dibenerin. Personel ditambah. Warga digaji buat nanam pohon.”
Pa Darsa mengangguk pelan. “Bagus. Tapi pertanyaannya bukan besok. Pertanyaannya kemarin.”
Mang Ujang menepuk meja pelan. “Iya. Kemarin-kemarin itu siapa yang jaga? Siapa yang ngawasi? Siapa yang digaji buat lihat tapi gak lihat?”
Mak Iis mengelap gelas. “Urang mah rakyat kecil. Tau rusak ya karena keliatan. Sungai keruh, air kecil, hutan gundul. Tapi aneh, yang tugasnya jaga baru sadar setelah disidak.”
Asep tersenyum pahit. “Berarti sidak itu kayak kacamata. Dipake sebentar, semua jelas. Dilepas, kabur lagi.”
Mang Ujang menghabiskan kopinya. “Soalnya urang mah sederhana. Kalau semua bisa diberesin sekarang, berarti dulu bukan gak bisa.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan,
“Berarti memang gak mau.”
Di warung kecil itu, kopi habis, rokok tinggal abu. Hutan masih jauh di kaki gunung. Tapi obrolan masyarakat kecil pagi itu, entah kenapa, terdengar lebih jujur dari laporan mana pun.
Warung Mak Iis siang itu tambah ramai. Matahari naik, kopi berganti es teh, tapi topiknya masih sama: sidak.
Mang Ujang baru datang, duduk sambil ngipas-ngipas topi.
“Ayeuna mah lain ukur kayu. Wisata oge rek ditertibkeun, cenah.”
Pa Darsa mengangkat alis. “Wisata? Yang saungnya nambah terus, parkirnya makan kebon, jalannya beton sampai ke jantung hutan itu?”
Asep nyengir. “Katanya luas izin sekian, di lapangan jadi sekian belas kali lipat. Tapi baru ketahuan ayeuna.”
Mak Iis nyeletuk dari balik kompor, “Berarti ukurannya baru keluar sekarang?”
Mang Ujang tertawa pendek. “Air oge kitu. Debit air katanya bakal diukur. Lah, selama puluhan taun ngocor ka mana wae, teu aya nu nanya?”
Pa Darsa mengaduk es teh. “Iya, heran. Air keluar tiap hari, pipa gede-gede. Tapi katanya baru mau dicek. Emang airnya baru keluar kemarin?”
Asep menggeleng. “Air mah dari jaman aki urang juga ngalir. Tapi yang baru ngalir kayaknya kesadaran.”
Mak Iis meletakkan gelas dengan suara agak keras. “Di warung mah gampang. Gula habis ya kelihatan. Air habis ya keran kering. Masa di gunung, air berkurang bertahun-tahun katanya normal?”
Pa Darsa tertawa pahit. “Yang kemarin diam, ayeuna jadi paling depan. Yang dulu tanda tangan izin, sekarang ngomel soal pelanggaran.”
Asep menatap ke arah gunung yang samar dari kejauhan. “Katanya sekarang mau diberesin semua. Wisata ditertibkan. Air dibagi adil. Hutan dipulihkan.”
Pa Darsa mengangguk pelan. “Bagus. Tapi jangan lupa satu hal.”
“Apa?” tanya Mang Ujang.
“Kalau semua bisa diberesin sekarang,” kata Pa Darsa pelan, “berarti selama ini bukan gak tau.”
Mak Iis menambahkan, “Dan bukan gak mampu.”
Asep menyimpulkan sambil berdiri, “Berarti tinggal dua pilihan: tutup mata, atau mata terbuka tapi pura-pura buta.”
Angin siang meniup daun pisang di depan warung. Gunung Ciremai tetap berdiri, diam, seperti biasa seolah sudah terlalu sering dengar janji.
Mang Ujang menghabiskan minumannya.
“Mudah-mudahan sidak bukan cuma bikin mata melek sebentar.”
Ia menepuk meja, lalu berkata lirih,
“Soalnya alam mah teu bisa disidak. Rusak ya rusak. Tagihannya ke anak incu urang.”
Mang Ujang menghabiskan kopi yang sudah dingin.
“Ujung-ujungnya rakyat kecil disuruh ngerti. Alam disuruh sabar.”
Ia bangkit, lalu berkata pelan tapi tajam,
“Padahal yang paling butuh disidak itu bukan hutannya.”
Warung kembali sepi.
Kopi pahit tinggal ampas.
Dan mata yang tadi mendadak melek… entah nanti merem lagi atau tidak.
Hanya cerpen by Mang Duta
Leave a comment