duamata.id – Aku biasa mangkal di Taman depan kantor kecamatan. Bukan di taman kota, bukan di tempat yang ada lampu hias dan tulisan nama kawasan. Cuma trotoar yang sudah lama retak, diapit pohon tua dan papan pengumuman yang catnya mengelupas.
Mungkin di Kuningan, ribuan PKL seperti diriku. Yang jualan depan kecamatan, depan pasar, depan taman-taman, dan tempat yang lainnya.
Setiap pagi aku dorong gerobak sendiri. Kalau hujan, ya basah. Kalau panas, ya kepanasan. Yang penting dagangan keluar, walau kadang cuma cukup buat beli beras setengah kilo.
Aku dengar kabar itu sambil mengaduk kuah. Katanya, PKL dapat stimulan. Aku ikut senang. Sungguh. Betul. Namanya juga sesama pedagang.
Teman-temanku di Puspa pantas mendapatkannya. Mereka ditata, diseragamkan, difoto dari berbagai sudut, lalu disebut sebagai wajah kota. Aku bangga. Kalau kota punya wajah, setidaknya wajah itu bukan wajah lapar.
Aku tersenyum waktu membaca beritanya. Ada bupati, ada sambutan, ada kata memanusiakan.
Kata yang indah. Kata yang jarang mampir ke gerobakku.
Stimulan itu katanya kecil. Cuma tiga ratus ribu. Aku tertawa pelan.
Uang sekecil itu memang tak akan mengubah dunia, tapi bisa menunda runtuhnya dapur beberapa hari.
Katanya juga, bukan soal besar kecilnya uang, tapi perhatian.Aku manggut-manggut sendiri.
Tiga ratus ribu memang kecil. Tapi bagiku, itu bisa buat nambah stok, nutup utang tepung, atau sekadar bikin napas agak panjang sampai akhir bulan.
Aku bahagia.
Benar. Karena kalau teman PKL Puspa terbantu, setidaknya ada satu sudut kota yang bernapas lega.
Tapi sambil bahagia, aku menghitung. Bukan uang. Aku menghitung jarak.
Jarak antara Taman Kota dan Taman depan kantor kecamatan.
Jarak antara yang ditata dan yang dibiarkan. Jarak antara yang difoto dan yang cuma diingat kalau ada penertiban.
Aku ini PKL juga. Tapi mungkin jenis lain. Jenis yang tidak cukup estetik untuk diberdayakan, tapi cukup mengganggu untuk ditertibkan.
Aku tidak iri. Aku cuma bertanya pelan, supaya tidak dianggap melawan, Kalau kami bukan PKL Puspa, apakah kami bukan PKL sepenuhnya?
Kami juga berdagang di Kuningan. Menghadapi harga naik, pembeli turun, dan hujan yang tak pernah tanya izin.
Kami juga memutar uang di kota ini, walau jalurnya tak pernah tercatat di laporan.
Katanya, ini bukan soal nilai. Ini soal perhatian.
Aku mengangguk setuju. Perhatian memang mahal. Dan rupanya, hanya dijual di kawasan tertentu.
Sore itu, aku lihat berita lagi. Penyerahan simbolis. Foto bersama. Wajah-wajah yang tersenyum.
Aku ikut tersenyum. Sungguh. Lalu aku menutup ponsel, mendorong gerobak, dan berpikir, mungkin suatu hari nanti, pemerintah akan ingat, bahwa kota ini bukan hanya punya taman kota, tapi juga trotoar yang sunyi di taman depan kantor kecamatan.
Kami tidak menuntut panggung. Kami tidak minta difoto. Kami cuma ingin satu hal sederhana, dianggap layak diperhatikan, walau bukan PKL Puspa.
Aku dorong gerobak pelan-pelan. Lewat baliho besar bertuliskan: “Pemberdayaan UMKM untuk Kuningan Melesat.”
Aku senyum kecil. Mungkin suatu hari, kalau aku sudah punya nama kawasan, aku juga akan disebut.
Untuk sekarang, aku cukup disebut PKL biasa, yang bukan PKL Puspa.
Hanya Cerpen by Bengpri
Leave a comment