Duamata.id – Desa itu tidak pernah meminta mahasiswa datang.
Tetapi setiap tahun mereka datang juga.
Membawa jaket almamater, proposal setebal novel, dan kalimat yang selalu sama.
“Kami hadir untuk mengabdi kepada masyarakat.”
Pak Kades tersenyum.
“Baik. Silakan mengabdi. Tahun lalu juga ada yang mengabdi. Tahun sebelumnya juga. Bahkan sebelum saya jadi lurah pun sudah ada yang mengabdi.”
Mahasiswa mengangguk penuh semangat.
Mereka mulai memotret jalan rusak.
Memotret tempat sampah.
Memotret balita.
Memotret sawah.
Bahkan ayam Pak Jaya ikut difoto karena dianggap mewakili potensi desa.
Tiga hari kemudian, seminar dimulai.
PowerPoint berganti-ganti.
Judulnya megah.
Optimalisasi. Pemberdayaan. Transformasi. Digitalisasi.
Kata-katanya semakin panjang.
Dampaknya semakin pendek.
Hari ketujuh.
Mahasiswa mengumpulkan warga.
“Kita harus mengubah pola pikir.”
Pak Darto mengangkat tangan.
“Nak… sebelum mengubah pola pikir kami, boleh tolong ubah saluran irigasi yang jebol itu?”
Mahasiswa saling berpandangan.
“Itu bukan program kami, Pak.”
“Oh…”
Hari berikutnya mereka membuat akun media sosial UMKM.
Hari terakhir KKN.
Username dan password diserahkan kepada pemilik usaha.
Enam bulan kemudian.
Pemilik usaha lupa emailnya.
Akun mati.
Program selesai.
Di balai desa ada lemari tua.
Isinya bukan beras.
Bukan uang desa.
Tetapi laporan KKN.
Sampulnya berbeda.
Isinya hampir sama.
Bab I.
Potensi desa.
Bab II.
Permasalahan desa.
Bab III.
Solusi desa.
Bab IV.
Penutup.
Yang tidak pernah ada hanya…
Bab V: Apa yang benar-benar berubah?
Suatu hari seorang anak kecil bertanya kepada kakeknya.
“Kek… kenapa setiap tahun kakak-kakak datang ke desa?”
Kakeknya menjawab pelan.
“Dulu mereka bilang mau membangun desa.”
“Lalu?”
“Sekarang Kakek baru sadar.”
“Sadar apa?”
“Mungkin sebenarnya desa yang sedang membangun mereka.”
“Maksudnya?”
“Iya.”
“Tanpa desa, mereka tidak lulus.”
“Tanpa warga, mereka tidak punya laporan.”
“Tanpa foto bersama, mereka tidak punya bukti.”
“Tanpa tanda tangan Pak Kades, nilai mereka tidak keluar.”
Anak itu terdiam.
“Lalu desa dapat apa, Kek?”
Kakek memandang lemari penuh laporan KKN.
“Setiap tahun kami mendapat kenangan.”
“Masalahnya?”
“Titip dulu.”
“Nanti dibahas angkatan berikutnya.”
Sejak itu warga desa punya tradisi baru.
Setiap ada mahasiswa datang, mereka tidak lagi berkata,
“Selamat datang peserta KKN.”
Mereka berkata,
“Selamat datang, calon alumni. Semoga desa kami kembali bermanfaat untuk kelulusan kalian.”
Lalu semua bertepuk tangan.
Entah karena lucu.
Entah karena itu kenyataan.
Cerpen oleh Mang Duta



Leave a comment