Duamata.id – Di sebuah kabupaten yang selalu bangga menyebut dirinya “kota pemuda”, berdirilah sebuah organisasi pemuda level kabupaten. Namanya gagah. Singkatannya tegas. Spanduknya selalu paling besar setiap ada acara.
Di dinding sekretariatnya, terpajang foto-foto para ketua dari masa ke masa. Jasnya rapi, senyumnya lebar, dan tatapannya seperti sedang melihat masa depan atau mungkin sedang melihat baliho berikutnya.
Suatu sore, di Desa Sukamaju, Karang Taruna sedang sibuk memperbaiki jembatan bambu yang hampir putus.
Tidak ada proposal. Tidak ada seminar. Tidak ada tema “Transformasi Pemuda Menuju Era Disrupsi Berkelanjutan”.
Yang ada hanya cangkul, palu, dan kopi hitam.
“Kalau nunggu anggaran, keburu hanyut duluan,” kata Ujang, Ketua Karang Taruna, sambil mengikat bambu.
Sementara itu, di kota organisasi pemuda level kabupaten sedang menggelar diskusi publik bertema “Pemuda Sebagai Agen Perubahan Sosial Berbasis Kolaboratif-Holistik”.
Judulnya panjang, agar terlihat penting.
Pesertanya khidmat. Foto-foto diambil dari berbagai sudut. Tagar bertebaran.
Di sela diskusi, seorang peserta berbisik, “Program konkretnya apa ya?”
Yang lain menjawab pelan, “Yang penting eksis dulu.”
Karang Taruna di desa-desa mungkin tak punya logo yang dicetak di backdrop megah.
Tapi mereka punya daftar kerja yang tak pernah selesai, mengurus pemakaman, ronda malam, bantu hajatan, bersih-bersih sungai, sampai jadi panitia 17-an yang tak pernah digaji.
Irganisasi pemuda level kabupaten? Mereka lebih sering mengurus hal-hal yang tak kalah penting, siapa duduk di kursi ketua, siapa dapat rekomendasi, siapa berfoto paling depan.
Konon, organisasi pemuda level kabupaten adalah “laboratorium kader”. Memang benar. Di sanalah banyak anak muda belajar.
Belajar berbicara lantang tentang rakyat. Belajar menyusun proposal. Belajar mendekati pejabat.
Hanya saja, kadang rakyatnya tertinggal di halaman belakang.
Suatu ketika, banjir datang melanda beberapa desa. Karang Taruna bergerak cepat. Mereka mengangkat perabotan warga, memasak di dapur umum, membagikan selimut.
Di media sosial, organisasi pemuda level kabupaten juga bergerak cepat. Mereka mengunggah desain poster bertuliskan: “Pemuda Hadir untuk Negeri.”
Beberapa hari kemudian, Karang Taruna masih sibuk membersihkan lumpur, organisasi pemuda level kabupaten sudah sibuk menyusun laporan kegiatan, lengkap dengan dokumentasi saat menyerahkan satu dus mi instan.
“Kenapa ya, kita jarang lihat abang-abang organisasi pemuda level kabupaten di sini?” tanya seorang ibu sambil memeras kain pel.
Ujang tersenyum, “Mungkin mereka sedang rapat strategi, Bu.”
Strategi untuk apa, tidak ada yang tahu pasti.
Dalam setiap Musda, suasana selalu hangat. Bukan karena persaudaraan semata, tapi karena suhu politik yang meningkat.
Kata “soliditas” paling sering diucapkan. Kata “pengabdian” paling sering ditulis. Kata “masyarakat” paling sering dijadikan alasan.
Setelah terpilih, sebagian kader melesat. Ada yang menjadi staf khusus. Ada yang menjadi tim sukses. Ada yang menjadi pejabat muda.
Karang Taruna tetap di desa. Tetap memperbaiki lapangan bola yang becek. Tetap jadi panitia kalau ada warga meninggal tengah malam.
Tak ada yang salah dengan bercita-cita tinggi. Hanya saja, kadang orang lupa bahwa organisasi pemuda seharusnya menjadi jembatan, bukan tangga pribadi.
Suatu malam, Ujang duduk di gardu ronda. Ia membaca berita tentang Musda organisasi pemuda level kabupaten yang sedang berlangsung meriah.
“Tema besar, ya,” kata temannya.
“Iya,” jawab Ujang pelan. “Semoga temanya sempat mampir juga ke desa.”
Angin berhembus pelan. Lampu gardu temaram. Di kejauhan, terdengar suara anak-anak muda Karang Taruna tertawa setelah latihan voli.
Mereka mungkin tak pernah ikut Musda. Tak pernah berdebat tentang AD/ART. Tak pernah memperebutkan rekomendasi.
Tapi setiap kali ada warga butuh bantuan, nama merekalah yang pertama kali dipanggil.
Dan mungkin, di situlah letak ironi kecil itu, organisasi dengan nama nasional sering sibuk menata masa depan anggotanya sendiri, sementara organisasi yang hanya bernama desa justru sibuk menata kehidupan orang lain.
Tentu saja, semua itu mungkin hanya kebetulan.
Atau mungkin, memang beginilah cara sebagian pemuda belajar tentang arti “pengabdian”, dari bawah, tanpa spanduk besar, tanpa tepuk tangan panjang.
Hanya cerpen by Mang Duta
Leave a comment