Home Cerpen Netral Itu Rugi

Netral Itu Rugi

Share
Share

Duamata.id – Di sebuah kecamatan kecil di kaki Gunung Ciremai, tiga pegawai selalu duduk semeja saat jam istirahat: Damar, Raka, dan Ardi.

Damar sejak awal terang-terangan mendukung calon bupati yang akhirnya menang. Ia hadir di tiap pertemuan, pasang foto profil dengan bingkai kampanye, dan rajin mengutip visi-misi.

Raka sebaliknya. Ia berdiri di barisan calon yang kalah. Loyalitas, baginya, soal harga diri. Ia tak sembunyi, tak pula setengah-setengah.

Ardi?
“Saya ASN. Netral.”

Kalimat itu selalu ia ucapkan dengan tenang. Pendidikan paling tinggi. Golongan paling senior. Masa kerja paling lama. Ia percaya aturan berdiri di atas segalanya.

Pilkada selesai. Spanduk diturunkan. Ucapan selamat memenuhi media sosial. Lalu datanglah kabar mutasi.
Nama pertama yang diumumkan sebagai pejabat baru di kecamatan itu: Damar.

Ruangan yang dulu mereka pakai bercanda kini berubah. Damar duduk di kursi empuk. Di dinding belakangnya terpajang foto kepala daerah yang ia dukung dulu.

Raka menerima surat pindah. Kecamatan terpencil. Jarak jauh. Fasilitas minim. Tak ada seremoni, tak ada tepuk tangan.

Ardi?
Tetap di meja lamanya.
Ia menyusun laporan untuk Damar. Mengetik sambutan untuk Damar. Membuat konsep kebijakan yang nanti dibacakan Damar.

Secara pendidikan, Ardi lebih tinggi. Secara golongan, Ardi lebih senior. Tapi secara “arah angin”, ia tak punya warna.

Suatu sore, Damar memanggilnya.
“Di, tolong siapkan bahan paparan untuk rapat besok. Yang tajam ya.”
“Siap, Pak.”

Kata “Pak” terasa aneh di lidahnya. Dulu mereka sama. Kini, ia harus berdiri sedikit lebih tegak saat berbicara.

Raka sesekali mengirim pesan dari kecamatan jauh:
“Kalau dulu hasilnya kebalik, mungkin sekarang saya yang duduk di situ.”

Ardi membalas singkat:
“Mungkin.”

Ia tahu itu benar. Jika yang menang adalah calon Raka, Damar yang terbuang. Raka yang naik. Dan ia?
Tetap jadi staf.
Tetap netral.
Tetap penonton.

Pegawai muda pernah bertanya padanya,
“Pak, kenapa Bapak tidak mendekat saja ke siapa pun yang kira-kira menang?”

Ardi tersenyum tipis.
“Saya bekerja untuk negara.”
Jawaban yang benar. Terlalu benar.

Di kecamatan kecil itu, Ardi mulai memahami sesuatu: yang kalah memang tersingkir, tapi masih punya kemungkinan bangkit jika keadaan berubah. Yang menang jelas menikmati hasil.

Tapi yang netral?
Tak pernah dianggap lawan.
Tak pernah dianggap kawan.
Tak pernah masuk hitungan.
Ia tidak dipindahkan.
Ia juga tidak dipromosikan.
Ia stabil, dan justru karena itu, tak bergerak.

Suatu pagi, saat kabut menyelimuti lereng Gunung Ciremai, Ardi berdiri lama di depan jendela kantor.
Ia sadar satu hal yang pahit:

Dalam sistem yang bergerak oleh keberpihakan,
netral bukan posisi aman.
Netral adalah posisi sunyi.
Dan di kecamatan itu, pelan-pelan ia mengakui dalam hati, Netral itu rugi.

Hanya Cerpen by Mang Duta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Akhirnya! Jalan Rusak Wano–Cengal–Cikeleng Segera Diperbaiki, Harapan Warga Terjawab

KUNINGAN — Penantian panjang warga akhirnya mulai menemukan titik terang. Setelah bertahun-tahun...

Semarak 3G, Strategi Kuningan Tingkatkan Asupan Gizi Masyarakat

KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan mulai “gaspol” menekan angka stunting. Lewat gerakan...

Bupati Kuningan Hadiri Tradisi Hajat Bumi di Desa Cikeleng

KUNINGAN — Suasana khidmat bercampur haru terasa di Pemakaman Manangga (Astana Desa...

Waspada! Modus Baru Penipuan Haji Mengintai, Warga Kuningan Diminta Jangan Tergiur Jalan Pintas

KUNINGAN — Masyarakat Kuningan, khususnya calon jemaah haji, diminta ekstra hati-hati. Pemerintah...