Duamata.id – Di sebuah sudut kota kecil di kaki Gunung Ciremai, hiduplah seorang warga biasa bernama Rahmat. Pekerjaannya sederhana, rutinitasnya pun tak jauh dari warung kopi, sawah, dan grup WhatsApp RT yang lebih aktif daripada ronda malam.
Rahmat punya satu kebiasaan: mengikuti setiap isu yang beredar di daerahnya dengan penuh perhatian. Ia bukan tipe yang suka ikut menyebar kabar, tapi ia selalu penasaran pada akhir cerita.
Dan justru di situlah letak masalahnya.
Setiap ada isu, selalu meledak di awal.
Tentang proyek jalan yang katanya tak sesuai spesifikasi.
Tentang bantuan sosial yang diduga tak tepat sasaran. Tentang seorang pejabat yang konon terseret dugaan ini dan itu. Kata “diduga” jadi bumbu wajib. Kata “oknum” jadi perisai sakti.
Awalnya ramai sekali.
Warung kopi penuh analisis dadakan. Media sosial berisik seperti pasar pagi. Ada yang yakin 100 persen benar.
Ada yang bersumpah itu fitnah. Ada yang membawa-bawa teori besar seolah mereka baru lulus dari universitas investigasi internasional.
Rahmat ikut membaca. Mengangguk. Kadang mengernyit.
Tapi dua minggu kemudian, sunyi.
Tak ada kabar lanjutan. Tak ada klarifikasi final. Tak ada pernyataan tegas bahwa tuduhan itu terbukti atau tidak.
Tak ada kalimat sederhana: “Ya, benar.” Atau: “Tidak, itu salah.” Semua menguap. Seperti uap kopi yang menghilang sebelum sempat diminum.
Rahmat sering bertanya dalam hati, ceritanya ke mana?
Suatu sore ia duduk di warung Mang Ujang. Isu terbaru sedang panas: dugaan penyimpangan anggaran sebuah kegiatan besar.
Bukti-bukti beredar dalam bentuk foto blur dan potongan dokumen tanpa tanda tangan.
“Ini mah jelas,” kata seseorang di meja sebelah.
“Ah, belum tentu. Jangan suudzon,” sahut yang lain.
Rahmat hanya diam. Ia sudah hafal polanya.
Besok akan lebih ramai. Lusa mungkin ada pernyataan singkat. Seminggu kemudian, muncul isu baru yang lebih segar, lebih menggigit.
Dan isu yang lama? Tenggelam seperti batu kecil di dasar sumur.bRahmat sebenarnya tidak ingin drama. Ia hanya ingin akhir.
Kalau memang ada dugaan, selesaikan sampai terbukti atau tidak. Kalau ada tuduhan, buktikan salah atau benar. Jangan digantung seperti jemuran yang tak pernah diangkat.
Sebagai warga biasa, ia merasa seperti penonton sinetron yang tiap episode selalu cliffhanger, tapi tak pernah ada episode terakhir. Seolah-olah semua orang sepakat untuk berhenti di tengah cerita.
a mulai curiga, mungkin memang bukan soal bukti.
Mungkin soal lelah.
Atau mungkin semua pihak diam-diam sudah “paham” batas aman masing-masing. Ada ruang gelap yang tak pernah disentuh. Bukan karena tak bisa, tapi karena tak ingin.
Rahmat pernah mencoba bertanya di grup RT, “Ini kelanjutannya gimana ya?”
Yang menjawab hanya stiker jempol dan emoji tertawa.
Malamnya ia termenung di teras rumah. Angin dari arah gunung berhembus pelan.
Ia membayangkan bagaimana rasanya hidup di tempat di mana cerita diselesaikan sampai tuntas. Di mana masyarakat tidak hanya disuguhi kecurigaan, tapi juga kesimpulan.
Bukan untuk menghukum siapa-siapa.
Tapi untuk menenangkan pikiran.
Karena ketidakjelasan itu melelahkan. Lebih melelahkan daripada kabar buruk sekalipun.
Rahmat sadar, mungkin ia hanya warga kecil yang terlalu berharap pada sesuatu yang sederhana: kejelasan.
Namun di daerahnya, kejelasan seringkali kalah oleh kabar baru yang lebih seru.
Isu datang dan pergi.
Dugaan muncul dan menghilang.
Tuduhan dilempar dan dilupakan.
Dan Rahmat, seperti banyak warga lainnya, tetap duduk di bangku penonton, menunggu sebuah akhir yang tak pernah benar-benar ditulis.
Hanya Cerpen by Mang Duta
Leave a comment